PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau telah menganggarkan bantuan beasiswa pada 2026 ini. Hal ini sebagai bentuk komitmen dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi anak-anak di Provinsi Riau.
“Pada Tahun Anggaran 2026, Pemprov Riau telah menyiapkan anggaran sebesar Rp62 miliar untuk program Beasiswa Riau, dengan total penerima sebanyak 3.644 mahasiswa,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto, Jumat (27/2).
SF Hariyanto menyebutkan, hal ini menjadi bukti kontribusi nyata pemerintah dalam menurunkan pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Riau ke depan.
“Kita ingin semakin banyak anak Riau sesuai bakat dan melanjutkan pendidikan kemampuannya, memiliki keahlian yang dibutuhkan dunia kerja, serta berkontribusi nyata dalam menurunkan pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Riau ke depan,” ujarnya.
Disebutkan SF Hariyanto, melalui Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), dari target 1.459.227 pelajar, telah terealisasi 1.293.997 pelajar di Riau atau sekitar 89 persen telah memiliki rekening.
“Artinya, akses keuangan generasi muda kita sudah semakin kuat. Dan ini menjadi fondasi penting dalam mendukung penggunaan transaksi digital yang aman dan bertanggung jawab,” ungkapnya.
Dengan begitu, SF Hariyanto memahami bahwa generasi saat ini lebih nyaman bertransaksi digital dan sudah mengenal investasi sejak usia sekolah. Mengenal saham, reksa dana, bahkan aset digital dan terbiasa menggunakan dompet digital dan transaksi non tunai.
“Ini menunjukkan bahwa generasi Riau tidak tertinggal. Namun di tengah kemajuan itu, saya ingin menegaskan kecerdasan finansial harus dibangun di atas literasi yang benar dan tanggung jawab. Dalam setiap aktivitas ekonomi, kita harus tetap Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Rupiah bukan sekadar alat transaksi. Rupiah adalah simbol kedaulatan bangsa,” ujarnya.
SF Hariyanto meyakini generasi muda merupakan generasi yang lahir di tengah perubahan besar. Yang tumbuh di era kecerdasan buatan, di mana teknologi mampu menganalisis data dalam hitungan detik. “Saat ini, kecerdasan buatan mampu menggantikan pekerjaan rutin, bahkan membantu mengambil keputusan. Lima sampai sepuluh tahun ke depan, banyak pekeriaan konvensional akan berkurang,” katanya.
Akan tetapi, dikatakan SF Hariyanto, pekerjaan berbasis kreativitas, analisis, teknologi, dan inovasi akan meningkat tajam. Untuk itu, perlu adanya adaptasi bagi siswa pada sistem pembelajaran yang modern. “Karena itu saya ingin anak-anak memahami satu hal penting. Masa depan bukan milik yang paling pintar menghafal. Masa depan adalah milik yang mampu berpikir kritis, beradaptasi, dan terus belajar,” ujarnya.(adv/sol)
Editor : Bayu Saputra