PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Seribuan jemaah umrah Riau saat ini berada di Makkah. Berdasarkan data dari Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh) tercatat ada 1.054 jemaah umrah Riau di Tanah Suci.
“Dari data Siskopatuh, ada 1.054 jemaah umrah asal Riau yang berangkat. Itu ada yang sudah berada di sana dan ada juga yang baru tiba. Jadi tidak semua jemaah tertahan,” ujar Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Riau, H Defizon SKom MSi, Selasa (3/3).
Ia mengungkapkan, terdapat 103 jemaah umrah yang dijadwalkan tiba di Pekanbaru, Senin (2/3) lalu, namun hingga kini masih tertahan di Jeddah dan belum sampai sesuai jadwal. Pihaknya terus melakukan koordinasi guna memastikan posisi serta kepastian jadwal kepulangan para jemaah tersebut.
Menurut Defizon, keterlambatan ini tidak terlepas dari dampak meningkatnya ketegangan dan konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut berpengaruh terhadap jalur penerbangan internasional, termasuk rute penerbangan dari dan menuju Arab Saudi.
Ia menjelaskan, sejumlah maskapai melakukan penyesuaian jadwal bahkan pengalihan rute penerbangan demi alasan keselamatan. Beberapa penerbangan juga mengalami penundaan akibat penutupan sementara wilayah udara di sejumlah titik yang dinilai rawan.
Kondisi geopolitik yang memanas tersebut berdampak langsung terhadap mobilitas jemaah umrah dari berbagai negara, tidak hanya Indonesia. Maskapai harus memperhitungkan keamanan jalur lintasan, sehingga waktu tempuh menjadi lebih panjang atau terjadi penjadwalan ulang penerbangan.
Meski demikian, Defizon memastikan seluruh jemaah asal Riau dalam kondisi aman. “Alhamdulillah, kondisi jemaah aman.,” ujarnya. “Kami menyarankan agar keberangkatan ditunda dulu sampai kondisi kawasan benar-benar stabil, demi keselamatan dan kenyamanan bersama,” tuturnya.
Jemaah asal Meranti Dipastikan Aman
Jemaah umrah asal Kabupaten Kepulauan Meranti yang saat ini masih berada di Tanah Suci dilaporkan aman dan tetap dapat menjalankan ibadah sebagaimana mestinya. Informasi tersebut disampaikan pengelola biro perjalanan umrah di Kepulauan Meranti, Aprianto, Selasa (3/3).
Menurutnya, hingga komunikasi terakhir yang dilakukan dengan rombongan jemaah, tidak ada gangguan berarti yang mereka rasakan. Aktivitas ibadah di Mekkah dan sekitarnya tetap berlangsung normal. “Alhamdulillah, sejauh ini jemaah kita dalam keadaan baik. Mereka tetap fokus beribadah dan tidak ada kendala selama menjalankan rangkaian umrah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dari belasam jemaah asal Kepulauan Meranti yang tengah menunaikan ibadah umrah melalui berbagai travel, sebanyak tiga orang di antaranya diberangkatkan melalui biro perjalanan yang ia kelola. “Kami tetap melakukan monitoring dan menjalin komunikasi dengan pihak terkait. Hal ini penting agar jadwal kepulangan jemaah dapat berjalan sesuai rencana,” jelasnya.
Ia menyebutkan, dua dari tiga jemaah yang berangkat melalui travelnya dijadwalkan kembali ke Tanah Air, Selasa (3/3) malam. Sementara seorang lainnya menyusul. Namun demikian, pihaknya tetap menyiapkan langkah antisipatif apabila terjadi perubahan situasi yang berdampak pada jadwal penerbangan.
“Saat ini jadwalnya masih sesuai rencana. Tetapi kami tetap berkoordinasi dengan maskapai, mengingat sebelumnya sempat ada keterlambatan kepulangan akibat kondisi di kawasan tersebut,” tambahnya.Ia juga mengimbau keluarga jemaah di daerah agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang belum terverifikasi.
Di tempat terpisah, Kepala Kantor Kemenhaj Rokan Hilir (Rohil) M Syafri Johan menyebutkan, diperkirakan terdapat jemaah umrah yang berasal dari Rohil namun berangkat dari kabupaten/kota lainnya.”Sebab di Rohil sendiri saat ini belum ada cabang travel haji dan umrah,” ujarnya, Selasa (3/3).
“Kami turut mengimbau bagi seluruh jemaah yang akan berangkat dalam waktu dekat agar menunda keberangkatannya sementara waktu sampai kondisi yang aman terkait dengan situasi di timur tengah,” tambahnya.
Ia juga mengajak bagi masyarakat yang memiliki kerabat yang mengikuti umrah agar berkoordinasi dengan pihak kemenhaj di daerah guna memperoleh informasi yang tepat. “Agar keluarga tetap tenang dan jemaah yang sedang melaksanakan umrah atau sudah selesai dan bisa segera kembali ke Tanah Air,” harapnya.
Tiket Pulang Mahal
Para jemaah umrah Indonesia yang ke Tanah Suci menggunakan pesawat transit yang paling merasakan dampak. Mereka terdampar di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah karena maskapai yang mereka naiki tak bisa melanjutkan perjalanan.
Menurut Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak, para jemaah tersebut memang mendapatkan refund atau pengembalian biaya tiket. Namun, persoalannya, tiket penerbangan untuk melanjutkan perjalanan ke Indonesia rata-rata saat ini sangat mahal.
“Jemaah ada yang uangnya terbatas, kesulitan membeli tiket pulang ke Tanah Air yang rata-rata harganya tinggi. Banyak dari mereka yang tidak mempersiapkan uang banyak karena sejak awal tidak mengira ada biaya tambahan akibat perang di Timur Tengah,” kata Dahnil di sela Konsolidasi Perhajian dan Umrah di Asrama Haji Banten di Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, kemarin (3/3).
Kemenhaj belum merekap data mereka yang terdampar di bandara transit. Sementara itu, jemaah yang masih ada di Saudi berjumlah 58.876 orang. Dahnil menjelaskan, yang menggunakan penerbangan direct atau langsung dari Saudi ke Indonesia tidak mengalami masalah.
Namun, yang memakai penerbangan transit juga terkendala karena pesawat mereka masih harus transit di wilayah Teluk yang wilayah udaranya tengah genting akibat saling serang antara Iran dan Israel serta AS. Misalnya di Abu Dhabi Uni Emirat Arab.
Skenario Darurat
Pemerintah, kata Dahnil, menyiapkan skenario darurat jika eskalasi perang di Timur Tengah meningkat. “Analisis Kementerian Luar Negeri, variabel menurunnya eskalasi lebih kecil ketimbang variabel meningkatnya eskalasi,” jelasnya.
Dahnil menambahkan, pemerintah telah menyiapkan dua unit pesawat Garuda. Kedua pesawat tersebut digunakan secara khusus untuk menjalankan evakuasi WNI di Timur Tengah jika eskalasi perang semakin membahayakan. Misi evakuasi WNI itu termasuk jemaah umrah yang terjebak dan tidak bisa kembali ke tanah air. Namun, keputusan baru akan diambil saat eskalasi ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat.
Dahnil menyebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kemenlu dan Garuda Indonesia. Dia meminta maskapai pelat merah tersebut untuk menambah penerbangan guna menjemput para jemaah yang tertahan. Dahnil memberikan catatan kepada Garuda agar tidak memasang harga tiket yang terlalu mahal. “Karena ada misi kemanusiaan juga,” katanya.
Di sisi lain, Kemenhaj kembali menyampaikan imbauan kepada calon jemaah umrah untuk menunda keberangkatan. “Ini bukan larangan. Ini imbauan,” jelasnya. Pada periode Maret sampai April nanti, jumlah keberangkatan jemaah umrah Indonesia sekitar 43 ribu orang. Jika ditambah dengan umrah mandiri, jumlahnya bisa tembus 50 ribu orang lebih.(ilo/wir/fad/wan/ttg/jpg)
Editor : Arif Oktafian