PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau bergerak cepat merespons keresahan masyarakat terkait sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pihak pemerintah daerah telah melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut guna memastikan ketersediaan stok pertalite dan bio solar di wilayah Bumi Lancang Kuning kembali stabil.
Langkah koordinasi ini merupakan tindak lanjut langsung atas keluhan warga mengenai antrean kendaraan yang mengular di hampir seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Kepala Dinas ESDM Riau Ismon Diondo Simatupang menyatakan bahwa Pertamina telah memberikan jaminan keamanan pasokan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dalam beberapa waktu ke depan.
“Sudah kami koordinasikan dengan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut. Mereka menjamin ketersediaan stok BBM di Riau tetap aman. Pertamina juga telah meningkatkan penyaluran untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi tanpa kendala berarti,” ujar Ismon Diondo Simatupang, Sabtu (2/5).
Baca Juga: Pastikan Stok Aman, Kapolda Riau Imbau Warga Tak Panik soal Ketersediaan BBM
Sebagai langkah konkret mengatasi hal tersebut, Ismon mengungkapkan bahwa Pertamina telah menambah pasokan sebesar 20 persen di atas rata-rata konsumsi normal harian.
“Penambahan stok ini diharapkan mampu mengurai kepadatan di SPBU dan memastikan tangki penyimpanan di setiap stasiun pengisian tidak mengalami kekosongan fisik dalam waktu lama,” sebutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ismon juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong.
“Kami minta masyarakat jangan panik dan belilah bahan bakar secara bijak sesuai kebutuhan. Hal ini penting agar distribusi energi dapat berjalan merata, tepat sasaran, dan tidak terjadi penumpukan antrean yang tidak perlu,” tambahnya.
Baca Juga: Antrean BBM Ganggu Kelancaran Lalu Lintas, Warga Diminta Tak Panik
Antrean Solar Mengular di Soekarno Hatta
Antrean panjang BBM jenis bio solar masih terjadi hingga Sabtu (2/5). Sejumlah SPBU dipadati kendaraan, terutama truk, yang menunggu giliran untuk mengisi bio solar bersubsidi.
Para sopir terpaksa menunggu berjam-jam tanpa kepastian waktu pengisian. Mereka mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan distribusi bio solar kembali dibuka, sehingga memilih tetap mengantre demi mendapatkan bahan bakar.
Kondisi ini terlihat di SPBU Jalan Soekarno Hatta. Antrean kendaraan mengular hingga ke badan jalan, menyebabkan perlambatan arus lintas di sekitar lokasi.
Deretan truk yang mengantre bahkan menutup sebagian akses masuk SPBU. Hal ini berdampak pada pengendara lain, khususnya pengguna BBM jenis pertalite, yang kesulitan untuk masuk ke area pengisian.
Risman, salah seorang pengendara mobil yang hendak mengisi pertalite, mengaku kesulitan akibat kondisi tersebut. Ia harus memutar masuk SPBU karena akses masuk tertutup antrean truk.
“Saya mau isi pertalite, tapi tidak bisa masuk karena antrean truk bio solar menutup jalan. Sudah coba menunggu, tapi tidak bergerak juga,” ujarnya.
Antrean BBM di Kuansing Luar Biasa
Antrean panjang BBM di semua SPBU di wilayah Kabupaten Kuansing masih terus terjadi hingga Sabtu (2/5) ini.
Masyarakat atau pengendara tidak punya pilihan lain selain harus ikut mengantre bila ingin mendapatkan BBM. Mereka rela antre berjam-jam. Ada yang satu jam bahkan ada yang sampai tiga jam baru dapat BBM, terutama bio solar dan pertalite.
Ada juga yang tidak tahan antre dan memilih pergi mencari minyak eceran dengan harga yang lebih mahal.
Yondi Murad, warga Desa Beringin Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, pun merasa heran mengapa kondisi sekarang BBM semakin parah. Antrean pengendara sangat panjang dan berlangsung setiap hari.
Ia pun mau tidak mau ikut mengantre untuk mendapatkan bio solar untuk mobil cold diesel dan pikapnya. Dua kendaraannya digunakan sebagai pengangkut buah sawit, baik di kebunnya maupun petani sawit lainnya, di mana Yondi juga memiliki peron sawit. Sehingga BBM jenis bio solar sudah menjadi kebutuhan kendaraannya dalam dua hari sekali atau tiga hari sekali. Dalam jangka itu, ia harus melakukan pengisian BBM.
Namun setiap hari semakin panjang. Untuk mendapatkan BBM bisa hingga dua jam. “Kalau beruntung, bisa satu sampai satu jam setengah antre. Kalau tidak, bisa lebih dari dua jam. Terkadang anak yang gantian antre minyak. Tapi tetap dapat,” katanya.
Ia mengantre di SPBU Sungai Jering. Menurut penjelasan pihak SPBU, kondisi ini disebabkan pula bio solar di SPBU Sitorajo Kari tidak masuk, sehingga mobil-mobil cold diesel yang biasanya antre di sana terpaksa pindah antre di SPBU Sungai Jering.
“Kalau pertamax, memang kosong di SPBU Sungai Jering. Pokoknya luar biasa lah, harus sabar untuk dapatkan BBM sekarang,” katanya.
Itu pun dialami Iwan, warga Desa Pulau Kedundung, Kecamatan Kuantan Tengah. Iwan, seorang sopir dan juga pemilik usaha peron sawit, juga mengaku kesulitan untuk mendapatkan bio solar. Sementara aktivitasnya sebagai pengumpul buah sawit membutuhkan BBM jenis bio solar tersebut.
“Hari ini tidak dapat bio solar. Dan tidak memungkinkan ikut antre. Makanya tadi beli minyak bio solar ketengan (eceran) yang harganya lebih tinggi dari harga SPBU,” kata Iwan.
Kondisi ini seharusnya, tambah Yondi, dilakukan evaluasi dan pengecekan oleh Pertamina. Karena menurut petugas SPBU, BBM tidak datang setiap hari. “Kalau tidak masuk pasokan, otomatis pengendara mencarinya ke SPBU terdekat. Alamat antre panjang akan terjadi,” katanya.
SPBU Sungai Jering yang berada di pusat kota Teluk Kuantan dan pinggiran jalan lintas. Untuk kendaraan roda empat berbahan bakar pertalite dan bio solar, mengantre dari sisi arah Teluk Kuantan. Panjangnya hingga ke simpang SMAN Pintar Teluk Kuantan. Sedangkan mobil truk dari arah Pekanbaru lebih panjang dari kemarin. Antrean truk sampai 1 kilometer hingga ke depan rumah makan Sinar Kampar. Sedangkan roda dua tidak terlalu panjang, sampai di depan Alfamart atau sekitar 100 meter.
Pengendara roda dua, roda empat, dan truk tidak punya pilihan. Mau tidak mau, mereka harus ikut antrean berjam-jam di SPBU. “Kami tidak punya pilihan, harus antre di SPBU. Sebab, pertalite tidak ada dijual di eceran lagi,” ujar Yuli, salah seorang warga Sungai Jering, Teluk Kuantan.
Ia pun harus berhemat BBM, menggunakan sepeda motor sesuai keperluan. Di mana untuk isian penuh, sepeda motor yang digunakan setiap hari hanya bisa bertahan tiga hari. Ia pun heran melihat antrean yang tidak berkesudahan setiap hari. “Tahun ini kondisinya semakin parah. Entah apa penyebabnya dan kapan akan berakhir,” ujarnya.
Kondisi itu mulai mengganggu kelancaran lalu lintas. Untuk mengantisipasi kemacetan dan penyalahgunaan BBM bersubsidi, Polres Kuansing menempatkan personel di semua SPBU Kuansing yang ada.
Melakukan patroli dan pengaturan lalu lintas kendaraan. “Setiap hari kita melakukan patroli, melakukan pengaturan lalu lintas agar lalu lintas kendaraan tidak terganggu,” ungkap Kapolres Kuansing AKBP Hidayat Perdana yang dikonfirmasi Riau Pos.
Di SPBU Sungai Jering, antrean kendaraan berbahan bakar bio solar jauh lebih panjang dari sebelumnya. Menurut penjelasan pihak pengelola SPBU Sungai Jering, kondisi itu disebabkan oleh pasokan bio solar di SPBU Sitorajo Kari tidak masuk sekitar enam hari ini.
Sehingga truk-truk cold diesel yang biasanya mengisi di SPBU Sitorajo Kari, mau tidak mau ikut antre di SPBU Sungai Jering. “Dampaknya seperti yang kita lihat. Antrean truk berbahan bakar bio solar semakin panjang. Kami akan terus memantau di lapangan dan melakukan pengaturan lalu lintas,” ujarnya.
Hidayat Perdana mengimbau agar pengendara tetap tertib antre dalam pengisian BBM serta menggunakan kode batang MyPertamina sesuai nomor plat kendaraannya.
Patroli Polisi di SPBU Kampar
Satuan Samapta Polres Kampar mengintensifkan patroli di sejumlah SPBU guna mengantisipasi gangguan keamanan di tengah potensi krisis BBM, Sabtu (2/5/2026).
Kegiatan patroli presisi perintis dan patroli kota presisi tersebut dilaksanakan sejak pukul 09.00 WIB dengan menyasar sejumlah SPBU di wilayah hukum Polres Kampar, yakni SPBU Kampa, SPBU Air Tiris, dan SPBU Bangkinang Kota.
Patroli dilakukan menggunakan kendaraan dinas roda empat (RD4) oleh personel yang dipimpin Iptu Irwan Fadilla SH bersama Aipda Firdaus, Brigpol Rezky Apdini Putra, dan Brigpol Rivan Dani Manihuruk.
Kasat Samapta Polres Kampar AKP Alfajri mengatakan, patroli ini merupakan langkah preventif untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya di lokasi vital seperti SPBU.
“Patroli ini bentuk komitmen kami dalam memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, terutama di tengah kondisi yang berpotensi menimbulkan gangguan akibat keterbatasan pasokan BBM,” ujarnya.
Selain menjaga keamanan, petugas juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap tertib saat mengantre pengisian BBM.
“Kami mengingatkan masyarakat untuk menjaga ketertiban antrean agar proses pengisian berjalan lancar dan aman bagi semua,” tambahnya.
Selama patroli, personel juga memberikan pelayanan langsung kepada warga, seperti membantu mengatur antrean, memberikan informasi terkait kondisi BBM, serta membantu masyarakat yang membutuhkan.
Kehadiran petugas mendapat respons positif dari masyarakat. Salah seorang warga di SPBU Bangkinang Kota mengaku merasa lebih aman dan terbantu. “Kami jadi lebih tenang karena ada polisi yang mengatur dan membantu. Semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan,” ujarnya.
Penegak Hukum Harus Awasi Distribusi BBM
Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru Andry Saputra meminta masyarakat tetap tenang terkait isu antrean panjang pengisian BBM di sejumlah SPBU di Kota Pekanbaru.
Andry mengatakan, ketersediaan BBM saat ini masih dalam kondisi aman. Antrean yang panjang beberapa hari terakhir menurutnya lebih disebabkan oleh meningkatnya aktivitas masyarakat. Kekhawatiran berlebihan menurutnya turut memicu pembelian BBM secara tidak wajar.
‘’Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Pekanbaru agar tidak panik. Berdasarkan informasi yang kami terima dari pihak terkait, stok BBM di Pekanbaru dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan,’’ ujar Andry.(sol/end/ilo/dac/kom/end/muh )
Editor : Bayu Saputra