Suhu di Mina Capai 41°C

Tim Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 29 Mei 2026 | 10:02 WIB
Jemaah haji memadati terowongan Muashim di Mina, Kamis (28/5/2026). Terowongan ini menjadi salah satu jalur dari tenda jemaah haji menuju area melempar jumrah di Jamarat. (Media Center Haji 2026)
Jemaah haji memadati terowongan Muashim di Mina, Kamis (28/5/2026). Terowongan ini menjadi salah satu jalur dari tenda jemaah haji menuju area melempar jumrah di Jamarat. (Media Center Haji 2026)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Jemaah haji (JH) Riau menghadapi cuaca ekstrem saat menjalani ibadah wajib dalam rangkaian haji yakni melontar jumrah di Mina. Kamis (28/5), suhu mencapai 41 derajat Celcius (°C).  Namun, di tengah panas gurun dan kepadatan Mina, para jemaah tetap berusaha menjaga semangat beribadah.

“Cuaca memang sangat panas, tetapi jemaah tetap antusias dan saling membantu. Kami terus mengi­ngatkan agar menjaga kesehatan, minum yang cukup, dan mengikuti arahan petugas,” ujar Ketua Kloter BTH 3 Faulina Riska yang berada di Mina saat dihubungi Riau Pos, kemarin.

Prosesi lontar jumrah dilakukan berbarengan dengan mabit di Mina maupun tanazul yang dilakukan jemaah haji. Waktunya dimulai dari hari nahar atau Iduladha pada 10 Zulhijah (27 Mei) hingga 12 Zulhijah (29 Mei) bagi mereka yang mengambil nafar awal. Atau hingga 13 Zulhijah (30 Mei) bagi jemaah haji yang mengambil nafar tsani.

Baca Juga: Plt Gubri Rombak Besar-besaran Dinas PUPR-PKPP

Bagi jemaah haji yang mengambil nafar awal, ia harus meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam. Bila masih berada di Mina atau area Jamarat selepas matahari terbenam, maka ia wajib mengambil nafar tsani. Yakni meneruskan lontar jumrah dengan cara yang sama pada 13 Zulhijah sebelum terbenam matahari.

Faulina Riska mengatakan, seluruh jemaah menjalani prosesi lontar jumrah aqabah dengan tertib sesuai pengaturan yang telah ditetapkan Pemerintah Arab Saudi. “Semalam jemaah melaksanakan lontar jumrah aqabah setelah bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengambil kerikil. Alhamdulillah semua berjalan lancar,” ujarnya.

Di tengah suhu panas yang mencapai lebih dari 41 derajat Celsius, Pemerintah Arab Saudi menerapkan pembatasan waktu pelaksanaan lontar jumrah. Jemaah tidak diperkenankan melontar pada tengah hari demi menghindari risiko kelelahan dan cuaca ekstrem. 

Baca Juga: Karhutla Kembali Meluas di Riau

Karena itu, jemaah Kloter BTH 3 dijadwalkan kembali melaksanakan lontar jumrah hari tasyrik pada sore hingga malam hari sekaligus mabit kembali di Mina. Faulina menjelaskan, jemaah dibagi dalam dua skema pelayanan.

Ini dilakukan agar seluruh rangkaian ibadah tetap aman dan nyaman, terutama bagi jemaah lanjut usia (lansia). “Untuk jemaah lansia menggunakan skema murur. Mereka cukup mabit di tenda Mina dan lontar jumrahnya dibadalkan oleh petugas atau pembadal,” jelasnya.

Sementara jemaah dengan kondisi fisik yang lebih kuat mengikuti skema tanazul Mina. Mereka kembali ke hotel usai pelaksanaan ibadah tertentu dan tidak seluruh waktu bermalam di tenda Mina. 

Meski demikian, seluruh jemaah tetap berada dalam pengawasan ketat petugas kloter dan pembimbing ibadah agar tidak terpisah di tengah padatnya jutaan jemaah dari berbagai negara.

Sementara itu, seluruh JH asal Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) mengambil skema tanazul dan tidak tinggal di tenda Mina. Ini dikarenakan, jarak hotel JH Kuansing Mina, tidak terlalu jauh, yakni sekitar 2 kilometer (km).

Baca Juga: Suhu Udara Capai 35 Derajat Celcius, Tiga Hotspot Terdeteksi di Provinsi Riau 

Kepala Kantor (Kakan) Kementerian Haji dan umrah (Kemenhaj) Kuansing, H Armadis SAg MPd menjelaskan, berdasarkan informasi yang disampaikan Ketua Rombongan (Karom) JH Kuansing Agusmandar dari Makkah, satu JH Kuansing sempat dirawat di Hospital Jabal Ramah di Padang Arafah karena kelelahan. 

‘’JH Kuansing pukul 04.30 WAS akan kembali ke Mina melaksanakan melontar jumrah berikutnya, setelah itu kembali ke hotel. Mudah-mudahan jemaah haji Kuansing sehat dan dapat melaksanakan rukun haji dengan baik dan sempurna,” ujarnya.

Siagakan Mobile Crisis Rescue 

Kemenhaj memperkuat layanan pelindungan jemaah haji Indonesia selama fase Mina dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue atau MCR di kawasan Jamarat. Tim ini disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, evakuasi darurat, serta membantu mengurai kepadatan jemaah selama pelaksanaan lontar jumrah pada hari tasyrik.

Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff, mengatakan MCR menjadi salah satu instrumen penting dalam penguatan layanan di titik-titik krusial pergerakan jemaah. 

“Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji,” ujarnya dikutip dari https://haji.go.id, Kamis (28/5).

Maria menjelaskan, posko MCR ditempatkan di titik-titik strategis di area Jamarat dan rute perlintasan jemaah. Penempatan ini dilakukan agar petugas dapat memantau situasi secara langsung, merespons cepat kondisi darurat, serta memberikan bantuan kepada jemaah yang membutuhkan penanganan segera.

“MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,” jelasnya.

Menurut Maria, keberadaan MCR menjadi bagian dari ikhtiar Kemenhaj memastikan setiap situasi di lapangan dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghadirkan penyelenggaraan haji yang aman, tertib, ramah lansia, ramah disabilitas, dan ramah perempuan.

“Pelindungan jemaah adalah prioritas. Karena itu, petugas tidak hanya berada di tenda-tenda jemaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan. Setiap jemaah yang membutuhkan bantuan harus bisa segera ditangani,” tegas Maria.

Pada 11 Zulhijah  (28 Mei), jemaah haji Indonesia mulai melaksanakan lontar tiga jamarah, yaitu ula, wustha, dan aqabah. Kemenhaj mengimbau seluruh jemaah untuk mengikuti jadwal lontar yang telah ditetapkan bagi masing-masing kloter dan tidak melaksanakan lontar di luar jadwal resmi.

Adapun pada 11 Zulhijah, pelaksanaan lontar jumrah dijadwalkan dalam dua sesi, yakni sesi pertama pada 11 Zulhijah pukul 17.00 sampai dengan 24.00 waktu Arab Saudi, dan sesi kedua pada 12 Zulhijah pukul 00.00 sampai dengan 04.00 waktu Arab Saudi. Waktu larangan melontar pada 11 Zulhijah berlaku pukul 11.00 sampai dengan 18.00 waktu Arab Saudi.

Pada 12 Zulhijah (29 Mei), pelaksanaan lontar jumrah dijadwalkan dalam dua sesi, yaitu pukul 05.00 sampai dengan 10.30 waktu Arab Saudi dan pukul 18.00 sampai dengan 24.00 waktu Arab Saudi. Waktu larangan melontar pada 12 Zulhijah berlaku pukul 11.00 sampai dengan 14.00 waktu Arab Saudi.

Sementara pada 13 Zulhijah (30 Mei), pelaksanaan lontar jumrah dijadwalkan pukul 05.00 sampai dengan 12.00 waktu Arab Saudi, dan tidak ada waktu larangan khusus sebagaimana tercantum dalam jadwal resmi.

Maria kembali mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri dan tidak berangkat sendiri menuju Jamarat. Seluruh pergerakan harus dilakukan secara berkelompok, didampingi petugas, serta mengikuti arahan ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, sektor, dan pembimbing ibadah.

“Kami mengimbau jemaah untuk tidak terburu-buru dan tidak memaksakan diri. Ikuti jadwal, gunakan jalur resmi, dan jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan jemaah harus menjadi perhatian bersama,” kata Maria.

Kemenhaj juga meminta jemaah memperhatikan waktu larangan melontar, terutama untuk menghindari paparan cuaca panas dan potensi kepadatan di kawasan Jamarat. Pada waktu larangan, jemaah diminta tetap berada di tenda, menjaga kondisi fisik, memperbanyak minum air putih, dan menunggu arahan petugas.

Untuk memperkuat layanan selama fase Mina, Kemenhaj menyiagakan 1.356 Petugas Satgas Mina. Para petugas ditempatkan di sejumlah titik pantau, jalur pergerakan jemaah, pos rute Jamarat, pos MCR bawah dan atas, serta pos koordinator tanazul.

Pos pantau Satgas Mina ditempatkan di titik-titik strategis, antara lain Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gawang Terowongan Muaisim Turki, depan syarikah, serta sejumlah pos pengarah pergerakan jemaah menuju Jamarat dan pos pemantauan arus kepulangan jemaah dari lontar jumrah.

Pos-pos tersebut bertugas mengarahkan pejalan kaki jemaah haji Indonesia menuju Jamarat, membantu pengaturan arus saat lontar jumrah, mengantisipasi kepadatan, serta memastikan jemaah yang kembali dari Jamarat tetap berada pada jalur yang aman dan tidak mengambil jalan pintas yang berisiko.

Maria juga mengatakan, kondisi cuaca di Mina pada siang hari masih cukup panas. Karena itu, jemaah diminta menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan secara teratur, menggunakan pelindung kepala saat berada di luar tenda, serta membatasi aktivitas fisik yang tidak diperlukan.

“Kami meminta keluarga kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jemaah untuk memberikan perhatian lebih kepada jemaah lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi. Jika ada jemaah yang terlihat kelelahan, kebingungan, terpisah dari rombongan, atau mengalami gangguan kesehatan, segera laporkan kepada petugas terdekat,” ujar Maria.

Kemenhaj memastikan seluruh layanan selama fase Mina, mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah, terus diperkuat sampai seluruh rangkaian Armuzna selesai.

“Kami mengajak seluruh jemaah untuk menjaga kekompakan, saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menjaga. Semangat gotong royong dan ukhuwah menjadi bagian penting dalam mewujudkan ibadah haji yang aman, tertib, nyaman, dan penuh keberkahan,” tutur Maria.(ilo/dac/das)

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
mina jemaah haji riau Kemenhaj