Kolaborasi Hadapi Karhutla, Personel dan Peralatan di Riau Dimaksimalkan

Soleh Saputra • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 21:59 WIB

 

Plt Gubri SF Hariyanto saat memberikan keterangan pers usai rapat penanggulangan Karhutla di Polda Riau, Kamis (27/8/2026). (Diskominfo Riau untuk Riaupos.co)
Plt Gubri SF Hariyanto saat memberikan keterangan pers usai rapat penanggulangan Karhutla di Polda Riau, Kamis (27/8/2026). (Diskominfo Riau untuk Riaupos.co)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pemerintah Provinsi Riau mendorong kolaborasi dengan dunia usaha dalam mencegah dan menanggulangi Karhutla. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin sebelum berkembang meluas.

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto mengatakan, kolaborasi dengan perusahaan harus diarahkan pada penguatan pencegahan dan respons awal, khususnya di wilayah konsesi. Perusahaan dinilai memiliki pemahaman lebih baik mengenai kondisi lahan hingga peralatan yang tersedia di areanya.

"Arah kolaborasi yang ingin kita bangun sangat sederhana seperti pada wilayah konsesi, perusahaan wajib memastikan langkah pencegahan dan respons awal berjalan optimal. Perusahaan tentu lebih memahami kondisi lahan, akses sumber air, personel, serta peralatan di areanya. Setiap hotspot harus ditangani sebelum menjadi titik api besar," ujar Plt Gubri SF Hariyanto di Polda Riau, Kamis (27/8/2026).

Baca Juga: Apresiasi Prestasi Paskibraka Nasional Asal Inhil, BRK Syariah Salurkan Bantuan Biaya Pendidikan

Dijelaskannya, kemampuan perusahaan dalam mengenali kondisi wilayah konsesi harus dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem penanganan Karhutla. Respons cepat terhadap setiap indikasi kebakaran menjadi langkah penting untuk mencegah api berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Plt Gubernur SF Hariyanto menegaskan, perusahaan yang berada di sekitar wilayah rawan juga memiliki posisi strategis sebagai mitra terdekat Satuan Tugas (Satgas) Karhutla. Dukungan perusahaan diharapkan dapat mempercepat mobilisasi sumber daya ketika ditemukan titik panas atau indikasi kebakaran di lapangan.

"Di wilayah sekitar konsesi perusahaan menjadi mitra terdekat yang siap membantu Satgas. Bantuan ini bukan untuk mengambil alih tanggung jawab, melainkan tindakan bersama agar api tidak meluas ke lahan masyarakat maupun kawasan lain," jelasnya.

Baca Juga: PBAK UIN Suska Riau 2026 Sukses Digelar, Lahirkan Tunas Muda Berkarakter

Diterangkannya, kolaborasi tersebut tidak berarti menghilangkan tanggung jawab masing-masing pihak. Pemerintah tetap menjalankan fungsi pengawasan dan koordinasi, sementara perusahaan berkewajiban memastikan kesiapsiagaan serta pencegahan di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam pelaksanaannya, Pemprov Riau juga akan memberikan perhatian terhadap tingkat kepatuhan dan kesiapan perusahaan dalam menghadapi Karhutla. Perusahaan yang aktif melakukan pencegahan dan membantu penanganan di lapangan akan mendapatkan apresiasi, sedangkan kekurangan yang ditemukan harus segera diperbaiki.

"Kami akan bersikap adil bagi perusahaan yang patuh, siap, dan aktif membantu penanganan Karhutla tentu patut kita berikan apresiasi. Namun, perusahaan yang masih memiliki kekurangan harus segera melakukan perbaikan," terangnya.

Baca Juga: Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Perancang Dorong Sanksi Administratif jadi Instrumen Penegakan Hukum

Di sisi lain, pemerintah tidak akan mengesampingkan aspek penegakan hukum terhadap pelanggaran Karhutla. Perusahaan maupun pihak lain yang terbukti melakukan pelanggaran, terlebih jika terdapat unsur kesengajaan dalam terjadinya kebakaran akan diproses berdasarkan ketentuan yang berlaku.

"Sedangkan, terhadap perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran atau unsur kesengajaan maka penanganan hukum akan dilaksanakan tegas sesuai aturan yang berlaku," tegasnya.

Ia berharap seluruh unsur dapat terus membangun komunikasi dan memperkuat kerja bersama dalam menghadapi ancaman Karhutla. Kolaborasi pemerintah, TNI/Polri, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga lingkungan sekaligus mencegah dampak kebakaran terhadap kehidupan masyarakat.

Baca Juga: USTI Wisuda 210 Lulusan, Rektor Tegaskan Visi 2035

"Mari kita bekerja sama dan saling menguatkan untuk menjaga Riau dari kebakaran hutan dan lahan, serta melindungi keselamatan dan kesehatan seluruh masyarakat,” sebutnya.

Sementara itu, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo mengatakan, penguatan penanganan karhutla tidak hanya dilakukan melalui pemadaman, tetapi juga dengan memperkuat upaya pencegahan di tingkat masyarakat. Sebanyak 110 perwira dari pusat didatangkan ke Riau untuk memperkuat edukasi dan sosialisasi mengenai pencegahan karhutla. 

Para perwira tersebut akan disebar ke sejumlah kabupaten dan bekerja bersama jajaran Kodim, Polres, Koramil, Polsek, Babinsa, Bhabinkamtibmas hingga perangkat desa. 

Baca Juga: Berkas Lengkap, Dua Tersangka Suap Pengisian Jabatan di Kuansing Segera Diadili

“Tim penyuluhnya nanti akan bergerak secara masif sekaligus menjadi pemantau sampai sejauh mana kesadaran masyarakat ini mengerti tentang potensi kebakaran hutan dan lahan," ujar Mayjen Agus. 

Selain edukasi, pemerintah dan TNI-Polri mempercepat pembangunan sumur bor di desa-desa yang dinilai rawan karhutla. Pencarian sumber air dilakukan menggunakan metode geolistrik untuk menentukan titik yang memiliki potensi sumber air. 

Sumur bor akan kita percepat. Hari ini sudah kita bangun dan kita cari dengan menggunakan geolistrik titik-titik air yang bisa kita jadikan sebagai sumber air di desa-desa," kata Pangdam. 

Baca Juga: Padamkan Api di Kawasan Zamrud, Bupati Siak Bertahan hingga Dini Hari

Sumur bor tersebut direncanakan dibangun secara permanen sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat sekaligus menjadi sumber air ketika terjadi kebakaran. 

Pemerintah juga menyiapkan posko kesehatan yang dilengkapi oksigen dan masker untuk mengantisipasi dampak asap. Posko tersebut juga akan mendukung personel yang bertugas di lapangan, mulai dari Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), TNI hingga Polri.

Di sisi lain, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan keberhasilan menekan karhutla belum menjadi alasan untuk berpuas diri. Hal itu disampaikannya setelah melakukan patroli bersama Pangdam XIX/Tuanku Tambusai di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Kamis pagi. 

Baca Juga: Mabes TNI Turunkan Jenderal dan Empat Pamen ke Meranti, Karhutla Jadi Perhatian Serius

Menurut Irjen Herry, setelah dilakukan penanganan selama 28 hari, wilayah Kerumutan yang sebelumnya mengalami kebakaran lebih dari 800 hektare kini dilaporkan tidak lagi memiliki hotspot. 

Ia menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil operasi berkelanjutan yang didukung kekuatan darat dan udara. Meski demikian, Herry mengingatkan masih terdapat sejumlah wilayah di Riau yang memiliki titik panas. 

"Jangan berpuas diri dulu. Masih ada bulan September," tegasnya. 

Baca Juga: Transaksi Pakai Kartu Kredit Bank Mandiri di FOX Hotel Pekanbaru, Dapat Diskon hingga Rp200 Ribu

Irjen Herry juga meminta perusahaan pemegang konsesi meningkatkan peran sebagai first responder di wilayah masing-masing. Sistem deteksi dini dan penanganan awal harus dipastikan berjalan sehingga api dapat segera dikendalikan sebelum meluas. 

Menurutnya, pencegahan harus dilakukan mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa dengan melibatkan seluruh unsur yang ada. 12 Armada Udara Berburu Api dan Awan Hujan Penguatan penanganan karhutla juga dilakukan melalui operasi udara. 

Danlanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Abdul Haris mengatakan sebanyak 12 pesawat dan helikopter saat ini dioperasikan untuk mendukung Satgas Penanggulangan Karhutla Riau. 

Baca Juga: Setahun Tak Kunjung Disahkan, Empat Ranperda Jadi Beban Indeks Reformasi Hukum Meranti

Armada tersebut terdiri atas helikopter TNI Angkatan Udara, helikopter patroli Polda Riau, pesawat dan helikopter BNPB serta Kementerian Kehutanan. Sejumlah helikopter milik perusahaan pemegang konsesi juga diperbantukan untuk operasi water bombing. 

“Kami mengoperasikan total sebanyak 12 pesawat, terdiri dari pesawat-pesawat helikopter TNI Angkatan Udara, kemudian juga ada heli patroli dari Polda Riau, ditambah dengan beberapa pesawat heli dan fixed wing dari BNPB, Kementerian Kehutanan, serta beberapa heli yang diperbantukan kepada kami yang berasal dari beberapa konsesi," jelas Danlanud. 

Menurutnya, armada udara tersebut memiliki tiga tugas utama, yakni patroli udara, pemadaman melalui water bombing, serta operasi modifikasi cuaca (OMC). 

Baca Juga: Kabut Asap Masih Selimuti Pelalawan, Penderita ISPA Meningkat hingga Mencapai 978 Jiwa

Patroli dilakukan untuk memastikan kondisi titik api yang telah terdeteksi sekaligus memantau perkembangan kebakaran di lapangan. Setelah titik kebakaran diketahui, armada water bombing dikerahkan untuk membantu Satgas Darat melakukan pemadaman. 

Selain itu, pesawat juga digunakan untuk memburu awan potensial dalam pelaksanaan OMC. Satgas Udara berkoordinasi dengan BMKG untuk mengetahui kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. 

“Setelah pemantauan, kita laksanakan water bombing untuk membantu kawan-kawan Satgas Darat di titik-titik yang terbakar," ujarnya. 

Baca Juga: ISPA Akibat Kabut Asap Karhutla di Kabupaten Kampar Capai 89 Kasus

Penerbangan untuk OMC bahkan dilakukan secara fleksibel mengikuti kondisi cuaca. Pesawat dapat diterbangkan hingga malam hari apabila berdasarkan pemantauan terdapat awan potensial yang dapat disemai. 

“Kami siap menerbangkan pesawat kapan pun, bahkan jam malam. Jam 11 pun kami pernah menerbangkan pesawat apabila kami pantau ada awan-awan yang berpotensi hujan yang diinformasikan oleh kawan-kawan BMKG," katanya. 

Dalam operasi tersebut, pesawat membawa bahan semai berupa garam. Sepanjang Agustus 2026, sekitar 30 ton garam telah ditebar untuk mendukung operasi modifikasi cuaca. Upaya tersebut mulai memberikan hasil dengan turunnya hujan di sejumlah wilayah Riau dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu turut membantu proses pencegahan dan penanganan karhutla. 

Baca Juga: Dua Daerah Tanggap Darurat Bencana Karhutla, Pemprov Riau Pantau Eskalasi 

“Alhamdulillah memang selama beberapa hari ini, seperti disampaikan oleh Bapak Kapolda bahwa telah berhasil turun hujan hampir di seluruh wilayah Provinsi Riau," kata Marsma Abdul Haris. 

Ia berharap kondisi cuaca tersebut terus bertahan sehingga awan potensial tetap terbentuk dan dapat dimanfaatkan untuk OMC apabila diperlukan. Danlanud juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan personel dan armada pemerintah. 

“Kami di Satgas Udara mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan pembakaran-pembakaran. Kita harus tingkatkan kepedulian dengan saling menginformasikan dan mengingatkan kita bersama tentang bahaya kebakaran,” sebutnya. (sol)

Editor : M. Erizal
pemprov riau