125 Titik Panas Tersebar di Riau 

Tim Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 11:17 WIB
Kendaraan melintasi flyover di Jalan Jenderal Sudirman saat kabut asap masih menyelimuti Kota Pekanbaru, Rabu (16/9/2026). (MHD AKHWAN/RIAU POS)
Kendaraan melintasi flyover di Jalan Jenderal Sudirman saat kabut asap masih menyelimuti Kota Pekanbaru, Rabu (16/9/2026). (MHD AKHWAN/RIAU POS)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Dalam waktu beberapa jam saja, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru kembali menemukan lonjakan titik panas di wilayah Riau, Rabu (16/9). Riau pun turut berperan menambah ribuan titik panas di Pulau Sumatera.

Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Indah DN menjelaskan, berdasarkan pantauan radar citra satelit BMKG Pekanbaru pukul 16.00 WIB, jumlah titik panas di Riau kini melonjak dari sebanyak 115 menjadi 125 titik. Ratusan titik panas tersebut masih tersebar di tujuh daerah.

Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) masih daerah dengan hotspot terbanyak yakni 73 titik. Kemudian Kampar 34, Indragiri Hilir (Inhil) 11, Dumai 3, Kuantan Singingi (Kuansing), Pelalawan 1, Rokan Hulu (Rohul) 1, dan Siak 1. 

Baca Juga: Meroket, 125 Hotspot Terdeteksi di Riau 

‘’Sebanyak delapan titik panas di antaranya di level confidence (tingkat kepercayaan) tinggi, satu rendah, dan selebihnya di level confidence sedang,” ujar Indah DN kepada Riau Pos, kemarin. 

“Untuk jarak pandang di Pekanbaru 3,5 kilometer terhalang asap, Rengat (Inhu) 5 kilometer, Pelalawan 4 kilometer, dan Tambang (Kampar) 4 kilometer,’’ tambahnya.

Tak hanya itu, BMKG juga mencatat, pada pukul 15.00 konsentrasi Particulat Matter (PM 2 5) Pekanbaru berada di level 110,4. ‘’Angka ini menempatkan udara Pekanbaru masih pada kategori tidak sehat,” ujarnya.

Baca Juga: 3.738 Mahasiswa Baru Umri Diajak Jadi Generasi Pencerah dan Penggerak Ketahanan Pangan

Sementara itu, secara keseluruhan hotspot di Pulau Sumatera mencapai 1.930 titik. Provinsi Sumatera Selatan masih menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar, yakni 1.414 titik. Diikuti Jambi 182, Bangka Belitung 118, Lampung 80, Sumatera Barat 9, Sumatera Utara 1, dan Kepulauan Riau 1.

Tingginya titik panas di Inhu ternyata disebabkan belum terkendalinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah tersebut. Upaya pemadamanmasih dilakukan di Desa Pulau Jumat, Kecamatan Kuala Cenaku, Rabu (16/9).

Kepala Manggala Agni Daops Sumatera VII/Rengat, Muhammad Ilham Sidik mengatakan, penanganan di lokasi tersebut telah memasuki hari kelima. Karhutla terjadi di kawasan bergambut yang membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan lebih intensif. “Saat ini sudah masuk penanganan hari kelima lokasi karhutla di Desa Pulau Jumat, Kuala Cenaku,” kata Ilham.

Baca Juga: MAN 1 Pekanbaru Bekali Siswa dengan Ilmu Jurnalistik, Videografi, dan Fotografi

Ia menjelaskan, luas lahan yang terbakar di lokasi tersebut masih dalam proses perhitungan. Sementara itu, tim di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala dalam menjangkau titik api. 

“Belum seluruh akses menuju kepala api dapat dilalui tim darat. Kondisi angin, keterbatasan sumber air, serta bahan bakar padat di lokasi juga menjadi tantangan dalam operasi pemadaman,” sebutnya.

Untuk mempercepat penanganan, tim gabungan Manggala Agni bersama unsur terkait Satgas Darat Kabupaten Inhu melakukan pembukaan akses menuju lokasi kebakaran. “Upaya utama pembukaan akses masuk menggunakan lima unit alat berat dan pembuatan embung sebagai dukungan sumber air,” jelasnya.

Baca Juga: Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Sinergi dengan BPHN, Kenalkan Sejumlah Inovasi Pembinaan Hukum

Setelah akses dan dukungan sumber air tersedia, tim darat melakukan serangan langsung ke kepala api (sumber api). Operasi tersebut juga mendapat dukungan helikopter water bombing (WB) untuk membantu pemadaman dari udara. 

Menurut Ilham, pembukaan akses menjadi bagian penting dalam operasi karena kondisi medan membuat sebagian titik api belum dapat dijangkau secara optimal oleh personel melalui jalur darat.

“Hingga malam ini (kemarin, red), Manggala Agni bersama unsur Satgas Darat Kabupaten Inhu masih melakukan penanganan di lokasi untuk mengendalikan kebakaran di kawasan gambut tersebut,” jelasnya.

Baca Juga: Produksi CPO di Riau Tembus 9,4 Juta Ton per Tahun 

Selain Inhu, Kepulauan Meranti juga kembali dihadapkan pada ancaman karhutla. Sempat nihil karhutla dan penanganan dinyatakan rampung sekitar sepekan lalu, titik api kembali ditemukan di Desa Tanah Merah, Kecamatan Rangsang Pesisir.

Kebakaran kali ini terjadi di kawasan kebun warga dan hutan desa yang didominasi lahan gambut. Tim gabungan kembali diterjunkan untuk melakukan pemadaman sekaligus pendinginan agar api tidak kembali menjalar.

Sekretaris BPBD Kepulauan Meranti, Tarmizi, mengatakan penanganan dilakukan sejak ditemukannya titik kebakaran. “Lahan yang terbakar sekitar setengah hektare dan seluruhnya sudah berhasil dipadamkan. Namun karena kondisi gambut kering dan cuaca panas, pendinginan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya api kembali,” ujar Tarmizi.

Baca Juga: Produksi CPO di Riau Tembus 9,4 Juta Ton per Tahun 

Di Kampar, BPBD mencatat dua kejadian karhutla, Rabu (16/9). Kedua titik kebakaran tersebut berada di Kecamatan Tapung dan Kecamatan Salo. 

Kalaksa BPBD Kampar Azwan melalui Kepala Pusdalops PB Adi Candra Lukita menjelaskan, kebakaran pertama terjadi di Jalan Garuda, Desa Petapahan Jaya, Kecamatan Tapung.

“Kebakaran terjadi pada lahan mineral dengan vegetasi semak belukar. Luas lahan yang terbakar sekitar satu hektare dan saat ini api sudah berhasil dipadamkan,” jelas Adi Candra Lukita.

Baca Juga: Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat, 115 Titik Panas Terdeteksi di Riau

Sementara itu, kebakaran lahan kedua terjadi di Jalan Lingkar Sungai Hijau 4, Desa Salo, Kecamatan Salo. Lahan yang terbakar merupakan lahan mineral dengan vegetasi semak belukar dan perkebunan karet, dengan luas sekitar 0,25 hektare.

“Untuk kejadian di Desa Salo, api juga sudah berhasil dipadamkan. Tim gabungan melakukan pemadaman, pemblokiran sekaligus pendinginan di lokasi,” ujar Adi. Namun, dalam proses penanganan di lokasi tersebut, tim menghadapi kendala berupa sulitnya mendapatkan sumber air.

Warga Pekanbaru Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar

Kabut asap kembali menyelimuti Kota Pekanbaru dan membuat kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat, Rabu (16/9). Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.

Baca Juga: Jarak Pandang 4.000 Meter, Aktivitas Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru Normal

Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar mengatakan, kondisi kualitas udara di Kota Pekanbaru masih fluktuatif. Kondisi tersebut dipengaruhi asap kiriman dari arah selatan yang terbawa ke wilayah Pekanbaru.

Menurutnya, kondisi kualitas udara sebelumnya sempat membaik dan berada dalam kategori sehat pada akhir pekan lalu. Namun, kondisi tersebut kembali berubah seiring masuknya asap ke wilayah Kota Pekanbaru. “Jadi asap ini asap kiriman dari arah selatan, asap kadang ada, kadang tidak ada. Kalau hujan udara bersih, seperti akhir pekan kemarin,” ujarnya Rabu (16/9).

Markarius mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik. “Bagi yang tetap beraktivitas di luar ruangan bisa mengenakan masker, untuk menjaga diri agar tidak terpapar kabut asap,” paparnya.

Baca Juga: Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Riau Ditutup, 51 Peserta Siap Berpartisipasi

Markarius juga meminta Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mengoptimalkan pelayanan bagi masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan, khususnya pasien Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

Puskesmas dan rumah sakit diminta tetap siaga dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan akibat paparan kabut asap. “Kabut asap ini sangat berpengaruh bagi kesehatan kita, maka penanganan pasien yang terpapar kabut asap harus dioptimalkan,” terangnya.

Sekolah Pulangkan Siswa Lebih Awal

Dalam beberapa hari terakhir, kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Kabupaten Bengkalis masih berkabut. Bahkan kabut asap tersebut sudah mulai berdampak terhadap aktivitas belajar dan  mengajar di sekolah. 

Baca Juga: Asap Semakin Tebal, Sekolah Terapkan PJJ Bertambah di Riau

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bengkalis meminta seluruh satuan pendidikan meningkatkan kewaspadaan dan menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi kualitas udara yang terus memburuk.

Sekretaris Disdik Bengkalis, Muthu Saili, menyebutkan pihaknya telah menerima laporan dari sejumlah koordinator wilayah (Korwil) pendidikan terkait kondisi udara yang dinilai tidak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka secara normal.

Bahkan katanya lagi, beberapa sekolah terpaksa mengambil langkah mempercepat kepulangan siswa yang sudah terlanjur datang ke sekolah. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi untuk melindungi peserta didik dari paparan udara yang tidak sehat.

“Ya, hari ini (kemarin, red) ada beberapa Korwil pendidikan yang melaporkan bahwa ada siswa yang sudah terlanjur masuk sekolah. Karena kondisi udara tidak sehat, mereka diberikan dispensasi untuk pulang lebih awal,” ujar Muthu Saily, Rabu (16/9).

Baca Juga: Plt Gubri Perjuangkan Hak Masyarakat Riau saat RDP Komisi II DPR RI

Di Siak, ISPU di level tidak sehat. Hanya satu kecamatan, yaitu Kecamatan Siak yang tidak sehat bagi kelompok sensitif. Sedangkan 13 kecamatan lainnya yang tidak sehat adalah Minas, Kandis, Tualang, Sungai Mandau, Koto Gasib, Kerinci Kanan, Lubuk Dalam, Dayun, Mempura, Pusako, Bungaraya, Sabak Auh, dan Sungai Apit.

“Sementara ISPU pagi hari, Kandis dan Minas sangat tidak sehat, Bungaraya baik, dan 11 kecamatan lainnya tidak sehat,” terang Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Dinas Komunikasi dan Informatika Siak, Wendi Lasta Febrian.

Demikian juga di Kuantan Singingi (Kuansing). Kabut asapterlihat semakin pekat, Rabu (16/9). Namun masyarakat tetap terlihat beraktivitas seperti biasa. Bahkan, sekolah mulai PAUD, TK, SD, SMP dan SMA sederajat tetap melakukan aktivitas pembelajaran tatap muka (PTM).

Baca Juga: Hak Ingkar Marjani Ditolak, Dua Hakim Tetap Tangani Perkara

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat kualitas udara Kuansing masih tidak sehat. Angka indeks kualitas udara pun sedikit naik. ‘’ “Masih tetap di level tidak sehat,” ujar Plt Kadis Lingkungan Hidup, Dody Fitrawan.

Meski di level tidak sehat, pembelajaran tatap muka tetap berlangsung. Sekretaris Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kuansing Zulmaswan mengatakan, mereka menunggu hasil evaluasi kualitas udara hari ini. “Kami masih menunggu hasil evaluasi kualitas udara. Apakah lanjut tatap muka atau daring,” kata Zulmaswan. 

Tetapi Disdikpora Kuansing selalu mengingatkan di dalam surat edaran ke seluruh jenjang kependidikan. Bila dilakukan pembelajaran tatap muka, para siswa tetap menggunakan masker saat di luar ruangan.

Baca Juga: Arah Angin Bergerak dari Tenggara dan Barat Daya, Riau Terdampak Asap Kiriman 

BPBD Rohil Sampaikan Data ISPU ke Disdikbud

Kualitas udara di wilayah Bangko, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), kembali menjadi perhatian. Berdasarkan data ISPU dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rohil, konsentrasi partikulat halus PM2.5, Rabu (16/9) berada pada level tinggi dan masuk kategori tidak sehat.

Kalaksa BPBD Rohil, H Syafnurizal SE, mengatakan pihaknya telah menerima data ISPU yang dikirimkan DLH Rohil. Data tersebut kemudian langsung diteruskan kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Rohil sebagai bahan informasi dan langkah kewaspadaan, khususnya terhadap aktivitas pendidikan. 

“Sudah kami sampaikan setelah menerima laporan dari DLH soal ISPU tadi.  Hasilnya sudah saya teruskan ke Disdik,” ujar Syafnurizal, Rabu (16/9). Menurutnya, penyampaian data tersebut merupakan bagian dari langkah antisipasi mengingat kondisi kualitas udara perlu menjadi perhatian bersama apabila berada pada kategori tidak sehat.

Baca Juga: Saksi Sebut Rida K Liamsi Terima Gaji Rp200 Juta per Bulan tanpa SK

Sementara untuk lingkungan sekolah, data tersebut telah diteruskan kepada Disdik Rohil sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah antisipasi sesuai perkembangan kondisi udara di lapangan terutama berkaitan dengan aktivitas belajar mengajar.

 

21 Puskesmas se-Rohul Serentak Bagikan Masker

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hulu (Rohul) melalui Dinas Kesehatan (Diskes) bersama 21 Puskesmas serentak turun ke jalan di 16 kecamatan untuk membagikan masker, Rabu (16/9). Sebanyak 10 ribu masker bantuan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau dibagikan dalam kegiatan tersebut.
“Masker ini dibagikan kepada masyarakat sebagai upaya pencegahan. Kita mengimbau masyarakat, terutama yang beraktivitas di luar rumah agar menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap,” ujar Kepala Diskes Rohul dr Bambang Triono MM.

Menurutnya, kabut asap dapat mengganggu saluran pernapasan apabila masyarakat terpapar dalam waktu yang cukup lama. “Kita mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan. Kalau tidak ada keperluan yang mendesak, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah. Kalau harus keluar, gunakan masker,” ujarnya.

Baca Juga: Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Pekanbaru, DPRD Riau Harap Jadi Barometer Ekonomi di Semua Daerah

Ia meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, nyeri tenggorokan, mata perih atau gejala lain yang diduga berkaitan dengan paparan asap.

Sementara itu, pembelajaran jarak jauh (PJJ) diperpanjang selama tiga hari, mulai Kamis (17/9) hari ini hingga Sabtu (19/9). Perpanjangan PJJ itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Rohul Nomor 29 Tahun 2026 tentang Kewaspadaan dan Langkah Antisipasi Dampak Kabut Asap bagi Satuan Pendidikan di Kabupaten Rokan Hulu.

Kadisdikpora Rohul Alreza Ahyu SE MSi Ak membenarkan perpanjangan PJJ tersebut merupakan yang ketiga dalam pekan ini. “Pemkab Rohul kembali memperpanjang penerapan PJJ atau daring dari rumah untuk siswa satuan pendidikan PAUD, SD, SMP negeri dan swasta se-Rohul mulai Kamis (17/9) hingga Sabtu (19/9),” ujarnya, Rabu (16/9) malam.

Baca Juga: Jarak Pandang 1,600 M, Pesawat Citylink Berputar-Putar 15 Menit Sebelum Landing di Bandara SSK II 

Di tengah penerapan PJJ, aktivitas anak-anak di luar rumah menjadi perhatian tersendiri. Sejumlah anak usia sekolah masih terlihat bermain di luar rumah dan tidak semuanya menggunakan masker. Sebagian lainnya memilih menghabiskan waktu dengan bermain telepon seluler.

Salah seorang orang tua siswa di Pasirpengaraian, Emy, mengatakan kebijakan PJJ memang diberlakukan karena kondisi kabut asap. Namun, menurutnya, anak-anak tetap berpotensi terpapar asap apabila bermain di luar rumah saat orang tua sedang bekerja.

“Pihak sekolah meliburkan anak-anak karena kabut asap. Tapi seperti inilah anak-anak kalau tidak sekolah, main ponsel di luar. Kan masih menghirup udara yang berasap juga,” ujarnya.(ayi/sol/ilo/wir/kom/ksm/mng/dac/fad/epp/das)

Laporan TIM RIAU POS, Jakarta

 

 

 

 

 

 

Editor : Arif Oktafian
kabut asap pekanbaru titik panas riau karhutla riau