BAGANSIAPIAPI (RIAUPOS.CO) -- Antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Bagansiapiapi, di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir disebut berkaitan dengan keterbatasan kuota dan adanya waktu tunggu kedatangan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi khususnya jenis solar.
Kondisi tersebut membuat pelayanan kepada masyarakat tidak selalu dapat dilakukan sekaligus, terutama ketika stok yang tersedia habis sebelum pasokan berikutnya tiba. Pengaturan antrean juga harus menyesuaikan dengan jadwal pengiriman dari Pertamina Patra Niaga melalui wilayah Dumai.
"Kita tidak bisa memaksakan kalau pasokan belum masuk. Ada waktunya, sehingga terjadi antrean," kata Dirut PT SPRH (Perseroda) Yusri Kandar ST melalui Direktur Pengembangan Yusuf Mudji Sutrisno, Kamis (17/9/2026).
Baca Juga: 3.425 Anak Belum Pernah Imunisasi
Kebutuhan solar di Rohil terangnya, dinilai cukup besar karena BBM jenis tersebut tidak hanya digunakan untuk satu sektor. Selain kendaraan angkutan barang dan transportasi, solar juga dibutuhkan nelayan serta masyarakat yang bekerja di sektor pertanian, khususnya ketika memasuki masa tanam.
Dengan kebutuhan yang cukup tinggi tersebut, kuota BBM bersubsidi yang tersedia harus dibagi agar pelayanan tetap berjalan hingga akhir periode kuota.
Pihak SPBU mengaku telah berupaya mengatur stok agar tidak seluruh kuota habis dalam satu waktu. Ketika pasokan tersedia, BBM disalurkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kondisi stok untuk hari berikutnya.
Baca Juga: OPD Rohul Harus Segera Tuntaskan Temuan Audit
"Upaya kita semaksimal mungkin memberikan pelayanan. Kalau stok solar subsidi datang, tidak semuanya kita habiskan. Kita sisakan untuk besok pagi supaya pelayanan tetap ada sambil menunggu pasokan berikutnya masuk, apakah siang atau sore," jelas Yusuf.
Menurutnya pengaturan tersebut penting karena proses pemesanan dan pengiriman BBM membutuhkan waktu. Karena itu, stok yang ada harus dikelola agar tidak terjadi kekosongan terlalu lama.
Terkait kebutuhan nelayan, pihak SPBU juga menyebut adanya alokasi khusus yang harus diperhatikan. Dalam sehari, kebutuhan nelayan dapat cukup tinggi, sementara kemampuan pelayanan berada pada kisaran 8 hingga 16 KL per hari, bergantung pada ketersediaan stok dan pasokan.
Baca Juga: Pekanbaru Art Market Hadir di Living World
Di sisi lain, pihak SPBU berharap pengguna BBM bersubsidi benar-benar merupakan masyarakat yang berhak menerima subsidi. Pengawasan terhadap penyaluran juga perlu diperkuat guna mengantisipasi penyalahgunaan BBM bersubsidi.
"Kami harapkan pengguna orang yang tepat. Untuk nelayan juga perlu dilakukan pendataan ulang agar BBM subsidi tidak digunakan oleh pihak yang bukan nelayan," katanya.
Selain melakukan pengaturan stok, pihak SPBU berharap adanya penambahan kuota BBM bersubsidi untuk mengimbangi tingginya kebutuhan masyarakat. Usulan penambahan kuota disebut telah menjadi bagian dari upaya yang dilakukan, meskipun prosesnya harus melalui mekanisme dan perhitungan berdasarkan data kebutuhan.
Baca Juga: Pemko Gencar Sosialisasi Perda
Penambahan kuota juga diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi antrean, terutama di tengah tingginya aktivitas transportasi dan distribusi barang di Rohil.
Pasalnya, kelangkaan atau keterlambatan pasokan solar tidak hanya berdampak kepada pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap aktivitas angkutan barang.
Keluhan mengenai sulitnya memperoleh solar bahkan datang dari kendaraan angkutan yang membawa barang dari arah Medan. Kondisi tersebut dikhawatirkan menghambat distribusi berbagai kebutuhan, termasuk material bangunan, apabila kendaraan pengangkut mengalami kesulitan mendapatkan BBM. Begitu juga rawan dengan mengakibatkan lonjakan harga-harga yang disebabkan terganggunya distribusi angkutan.
Baca Juga: Kara Angkat Kelapa Indonesia ke Dunia
"Sementara Untuk BBM nonsubsidi, penggunaannya tidak mengalami persoalan antrean seperti yang terjadi pada solar bersubsidi. Antrean panjang lebih banyak terjadi pada BBM bersubsidi jenis biosolar yang memang memiliki kuota terbatas," katanya.
Pihak SPBU tambah Yusuf, berharap masyarakat dapat memahami kondisi tersebut sembari menunggu upaya penambahan kuota dan perbaikan pola distribusi agar kebutuhan masyarakat, khususnya nelayan, petani dan sektor angkutan, dapat tetap terlayani.
Ditambahkan Dirut Yusri Kandar, juga bahwa antrean BBM terjadi hampir seluruh SPBU termasuk SPBU Lintas Sumatra. "Karena memang di samping keterbatasan kuota juga kelangkaan minyak global dengan adanya penutupan jalur perdagangan oil dan pada saat ini harga minyak dunia sudah menembus angka 100 sampai 108 USD per-barel," pungkas Yusri Kandar.
Editor : Rinaldi