Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Puluhan Kerbau di Rohul Diserang Penyakit Ngorok, PMK Ditemukan di Inhu dan Inhil

Engki Prima Putra • Rabu, 22 Januari 2025 | 10:55 WIB
Ilustrasi kerbau (WARGA FOR RIAUPOS.CO)
Ilustrasi kerbau (WARGA FOR RIAUPOS.CO)

PASIRPENGARAIAN DAN PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Puluhan ternak kerbau milik petani di Desa Menaming, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) terserang penyakit ngorok atau Septicaemia epizootica (SE) yang tidak menular kepada manusia.

Data dari Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Rohul, pada akhir Desember 2024 lalu terdapat lima ekor ternak kerbau milik petani di Desa Menaming mengalami mati mendadak dan potong paksa sebanyak 38 ekor.

Penyebab kematian kerbau itu untuk sementara dari gejala klinis diduga terkena penyakit ngorok. Namun penyakit SE yang merupakan bakteri Pasteurela SP atau berasal dari hewan carrier tersebut penularannya sangat cepat kepada ternak yang berada di lingkungan sekitarnya.

Kepala Disnakbun Rohul CH Agung Nugroho STP MM melalui Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Doni SPt dikonfirmasi Riau Pos, Selasa (21/1) membenarkan penyebab matinya lima ekor kerbau secara mendadak dan 38 ekor ternak kerbau yang dipotong paksa oleh petani diduga terserang penyakit ngorok atau SE sesuai gejala klinis di lapangan.

“Dari gejala klinis di lapangan, ternak kerbau milik petani yang mati mendadak dan potong paksa di Desa Menaming Kecamatan Rambah disebabkan terkena penyakit ngorok atau SE. Untuk saat ini, Tim Keswan Disnakbun Rohul telah turun ke lapangan melakukan upaya pencegahan, agar penularan penyakit ngorok terhadap ternak peliharaan petani tidak meluas,” tuturnya.

Doni mengatakan, tim dokter Keswan Disnakbun Rohul telah turun ke lapangan melakukan pengobatan dengan memberikan anti priretik, antibiotik dan vitamin. Diketahui puluhan ekor ternak kerbau petani di desa Menaming yang telah diberi pengobatan kini mulai membaik.

“Perkembangan kasus ternak kerbau terserang penyakit SE di Desa Menaming hingga saat ini sudah mulai landai. Untuk sementara ini, belum ada laporan dari petani di kecamatan lain, ternaknya terserang penyakit ngorok,” tuturnya.

Lebih lanjut Doni mengatakan, puluhan ekor kerbau milik petani Desa Menaming yang tertularnya penyakit SE pada akhir Desember 2024 dan awal Januari 2025, disebabkan ternak tergabung dalam satu kandang dan juga cuaca yang kini kondisi tidak menentu.

“Ternak kerbau di Desa Menaming diduga tertular melalui kontak antar ternak, baik makanan dan minuman serta alat tercemar. Kemudian ekskreta hewan penderita (saliva, kelih dan tinja), kemudian bakteri yang jatuh ditanah atau rumpuh, bisa bertahan seminggu dapat menulari hewan peliharaan di daerah itu,” tuturnya.

Diakuinya, tim dokter hewan Disnakbun Rohul telah mengambil sampel organ ternak kerbau yang mati mendadak tersebut dan telah dikirim ke Balai Veteriner Bukit Tinggi di Baso, guna memastikan penyebab matinya ternak kerbau itu.

 

PMK Ditemukan di Inhu dan Inhil 

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) kembali menerima laporan adanya ternak yang terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Setelah sebelumnya di temukan di Kampar, PMK juga ditemukan di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) dan Indragiri Hilir (Inhil). 

Plt Kepala Dinas PKH Riau Heri Afrizon mengatakan, pihaknya baru saja mendapatkan laporan bahwa juga ada ditemukan kasus ternak yang terpapar PMK yakni di Inhu sebanyak 26 kasus, Inhil empat dan Kampar dua ternak.

“Saat ini sudah ada 32 kasus PMK di Riau. Yang terbaru kami mendapat laporan ada temukan PMK di Inhu sebanyak 26 kasus, Inhil empat kasus dan yang lama di Kampar ada dua kasus,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, dari puluhan kasus PMK tersebut, hingga saat ini belum ada ternak yang ditemukan mati maupun harus dilakukan potong paksa. Sementara itu, untuk proses penyembuhan ternak hingga saat ini masih terus diusahakan.

“Terhadap 32 kasus itu, hingga saat ini belum ada ternak yang dilaporkan mati maupun harus di potong paksa. Saat ini tim masih berusaha menyembuhkan ternak tersebut,” ujarnya. 

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat yang mendapati ternaknya terpapar PMK untuk dapat segera melaporkan kepada petugas peternakan terdekat. Hal ini agar dapat segera dilakukan pengobatan sehingga penyebarannya dapat dihentikan.

“Kami harapkan masyarakat yang menemukan ada ternaknya terpapar PMK segera melapor. Sehingga penyebaran PMK dapat diantisipasi karena penyebaran penyakit ini cukup cepat,” sebutnya. 

Dijelaskannya, PMK merupakan penyakit menular pada hewan ternak seperti sapi, kambing, dan kerbau. Penyakit ini bisa menyebar dengan cepat, terutama melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi.

“Sebagai langkah pencegahan, Dinas PKH juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar ternak. Selain itu, peternak diimbau untuk tidak memindahkan ternak ke daerah lain tanpa pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu guna mencegah penyebaran virus ke wilayah lain,” ujarnya.

Pihaknya berkomitmen untuk terus memantau perkembangan kasus ini dan bekerja sama dengan pihak terkait untuk memastikan langkah-langkah penanganan dan pencegahan berjalan optimal. 

“Kami berharap masyarakat dapat bekerja sama untuk menjaga kesehatan ternak mereka, karena hal ini juga berdampak pada stabilitas ekonomi dan keamanan pangan di wilayah Riau,” sebutnya. (gem)

Editor : Rindra Yasin
#penyakit ngorok pada ternak #pmk #Penyakit ternak