
SIAK (RIAUPOS.CO) - Konflik manusia dengan harimau kembali terjadi di Kabupaten Siak. Kali ini harimau menyerang warga Kampung Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit bernama Hari Harianto alias Itul (31), saat buang air besar di kanal di Sungai Belat.
Dijelaskan Camat Sungai Apit Tengku Mukhtasar, korban mengalami luka cakaran pada bagian dada, belakang telinga dan di bawah ketiak atas serangan hewan dilindungi itu.
Korban dan dua rekannya, Rakha (22, dan Herman (30), bekerja sebagai helper alat berat pembersihan lahan perkebunan dan pembuatan kanal.
Baca Juga: Konsumsi 6 Makanan Ini Sebelum Tidur, Istirahat Anda akan Lebih Optimal, Coba Buktikan!
“Lokasi kejadian berada di wilayah yang sulit dijangkau dan membutuhkan waktu serta sarana transportasi khusus untuk mencapai lokasi,” jelas Tengku Mukhtasar.
Di sekitar lokasi kejadian tidak terdapat jaringan komunikasi atau sinyal telepon, sehingga menyulitkan proses komunikasi dan koordinasi.
Wilayah Sungai Belat merupakan kawasan yang masih menjadi habitat satwa liar jenis harimau, sehingga memiliki tingkat risiko yang tinggi dan dapat membahayakan keselamatan manusia yang berada atau beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.
Baca Juga: Lagi, Polda Riau Bongkar Praktik Penyelewengan BBM Bersubsidi
Kronologinya, sebut Camat Tengku Mukhtasar, seusai laporan Polsek Sungai Apit, dan kini dirinya sedang diskusi dan koordinasi dengan Kapolsek Iptu Adifian Ikhsan SH, dan Danramil 02/Sungai Apit Kapten Inf Saidina Ali Tanjung.
Pada Selasa (21/7/2026) sekitar pukul 19.30 WIB, korban bersama rekan kerjanya, yaitu Rakha dan Herman, berada di kamp tempat kerja korban untuk beristirahat.
Kemudian, korban keluar dari kamp dengan maksud untuk buang air besar di tepian kanal yang berada tidak jauh dari kamp tempat korban beristirahat.
“Kanal tersebut memang biasa digunakan oleh para pekerja sebagai tempat mandi dan buang air,” terangnya.
Berselang kurang lebih 10 menit setelah korban keluar dari kamp, Rakha dan Herman mendengar suara korban berteriak meminta pertolongan. Mendengar teriakan itu, Rakha dan Herman segera keluar dari kamp dan berusaha mencari sumber suara. Namun, korban belum ditemukan karena kondisi di sekitar kamp minim penerangan dan pencahayaan.
Selanjutnya, Herman naik ke atas alat berat, kemudian menghidupkan mesin dan menyalakan seluruh lampu penerangan pada alat berat, serta mengarahkan lampu tersebut ke arah sumber suara korban meminta pertolongan.
Baca Juga: Piala Soeratin U-13 Mulai Babak 8 Besar, Berikut Tim yang Bersaing
Setelah dilakukan penyinaran menggunakan lampu alat berat, terlihat korban sedang diseret seekor binatang buas, harimau. Karena sorotan lampu alat berat yang cukup terang, harimau tersebut kemudian melepaskan gigitannya terhadap korban dan melarikan diri masuk ke dalam kawasan hutan.
Setelah harimau melarikan diri, Rakha dan Herman segera mengevakuasi dan menyelamatkan korban, kemudian membawa korban menggunakan speed boat yang sedang stan by di sekitar pinggir laut untuk selanjutnya dibawa ke Pustu Kampung Teluk Lanus, agar mendapatkan pertolongan medis. Setibanya di Pustu Kampung Teluk Lanus, korban mendapatkan pertolongan pertama dari bidan yang bertugas di sana.
“Setelah mendapatkan pertolongan pertama, korban selanjutnya dibawa menggunakan speedboat menuju Pelabuhan Penyengat. Setibanya di Pelabuhan Penyengat, korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke RSUD Tengku Rafian Siak menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan medis,” terangnya.
Camat Tengku Mukhtasar mengatakan, dia telah melakukan koordinasi dengan Kapolsek Iptu Adifian Ikhsan SH, dan Danramil 02/Sungai Apit Kapten Inf Saidina Ali Tanjung.
“Ini kami baru selesai koordinasi, dan atas instruksi Bupati Afni, dirinya sebagai camat, telah meminta penghulu menyampaikan imbauan ke masyarakat agar berhati-hati dalam beraktivitas. Diupayakan tidak sendirian apabila ke kebun atau ke hutan. Terlebih pada waktu rawan, petang, malam, dan pagi hari,” sebutnya.
Baca Juga: Kerap Sebabkan Kecelakaan, Warga Swadaya Tambal Jalan Berlubang Depan Masjid YAMP Tembilahan
Sementara Kabid II BBKSDA Siak Hermanto, membenarkan terjadinya konflik manusia dan harimau kembali terjadi.
“Kami akan menurunkan tim penanganan konflik ke tempat kejadian perkara (TKP) dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan APH,” katanya.(mng)
Editor : Edwar Yaman