Mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan kata Suharyanto, dibuatlah skenario latihan simulasi bencana gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kamis (5/9).
"Fokus kita untuk memeriksa rencana evakuasi mandiri, jalur evakuasi, memelihara shelter dan melatih kembali komunikasi risiko berbasis komunitas. Misalnya, memanfaatkan sistem peringatan dini yang ada seperti kentongan, toa masjid, lonceng gereja, maupun sirine untuk menyampaikan tanda bahaya dan evakuasi. Mari kita perkuat budaya sadar bencana agar kita siap dan selamat," ucapnya.
Selain Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat yang melibatkan total 600 personel, simulasi juga dilakukan di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten diikuti 700 personel di Lapangan Kecamatan Carita, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat total 700 personel di tempat evakuasi sementara (TES) Pasar Wisata dan Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah total 700 personel di Kantor Kelurahan Tegalkamulyan dan Politeknik Negeri Cilacap.
"Tujuan simulasi ini guna membangun dan melatih kembali kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa dan tsunami di sepanjang kawasan megathrust Sumatera dan Jawa. Kegiatan ini bukan hanya latihan simulasi bencana sekali seumur hidup, tapi harus menjadi budaya dan pelajaran seumur hidup," tegasnya.
Dalam simulasi itu diilustrasikan warga Kepulauan Mentawai dikejutkan dengan gempa dengan magnitudo 8,9, dengan kedalaman 17 kilometer. Gempa dengan durasi lebih kurang 30 detik tersebut, juga diikuti peringatan tsunami dari BMKG dengan status ancaman AWAS. Apel siaga dan simulasi tersebut, juga dihadiri Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldi, Kapolda Sumbar Irjen Suharyono dan Danrem 032 Wirabraja Brigjen TNI Wahyu Eko Purnomo.
Sumber: Padek.jawapos.com
Editor : RP Rinaldi