JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Skala bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus menunjukkan dampak serius. Hingga Selasa (2/12), jumlah korban meninggal dunia melonjak menjadi 744 jiwa, sementara 551 orang masih dilaporkan hilang dan 2,6 ribu jiwa terluka.
Sumatera Utara menjadi wilayah dengan korban terbanyak. Laporan situs https://gis.bnpb.go.id, tercatat sebanyak 301 orang meninggal dunia, 163 jiwa hilang, dan 614 jiwa terluka. Sejumlah daerah menjadi titik paling parah terdampak. “Wilayah yang paling terdampak adalah Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, dan Tapanuli Utara,” ujar Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapuspedatin) BNPB Abdul Muhari dalam jumpa pers daring yang disiarkan melalui YouTube BNPB Indonesia, Selasa (2/12).
Upaya pencarian masih berlangsung, namun medan sulit dan banyaknya titik longsor membuat evakuasi memerlukan waktu lebih lama. Di Aceh, BNPB mencatat 218 orang meningggal dunia, 227 masih belum ditemukan, dan 1,8 ribu jiwa luka-luka. Empat kabupaten hingga kini belum bisa diakses sepenuhnya melalui jalur darat.
Dalam rapat rencana operasi harian, BNPB menegaskan bahwa Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tamiang menjadi daerah yang paling sulit dijangkau. Akses terputus total di beberapa titik membuat bantuan harus dikirim melalui jalur udara dan laut.
Sementara itu, di Sumatera Barat korban jiwa terus bertambah. Korban meninggal dunia mencapai 225 jiwa, yang hilang 388 jiwa, dan 112 ribu orang terluka. Abdul menegaskan bahwa prioritas utama tim gabungan saat ini adalah pemulihan akses di dua wilayah terdampak berat.
“Untuk Provinsi Sumatera Barat, fokus utama untuk pembukaan akses ada di Kabupaten Agam dan Kota Padangpanjang yang terdampak banjir longsor di kawasan Gunung Singgalang. Ini menjadi atensi dan fokus untuk bisa dipulihkan secepat mungkin,” ujarnya. (yus/sol)
Editor : Arif Oktafian