Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pengungsi Mulai Terjangkit Penyakit

Yusnir. • Jumat, 5 Desember 2025 | 16:15 WIB

BAWA BANTUAN: Warga korban banjir membawa satu kardus bantuan yang didistribusikan personel TNI AU di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, Kamis (4/12/2025).
BAWA BANTUAN: Warga korban banjir membawa satu kardus bantuan yang didistribusikan personel TNI AU di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, Kamis (4/12/2025).


PADANG dan JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Korban meninggal dunia akibat bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) bertambah menjadi 836 orang, Kamis (4/12). Tak hanya itu, korban yang selamat mulai menghadapi masalah kesehatan.

Hal ini dialami korban yang menempati dua titik pengungsian di kawasan Pasielaweh, Kecamatan Lubuak Aluang, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat. “Sebagian besar pasien datang dengan batuk, pilek, demam, dan ada juga yang mengalami gatal-gatal,” ujar petugas kesehatan, Yayan, Kamis (4/12).

Ia menjelaskan, kondisi cuaca yang berubah-ubah, dari hujan lebat yang berlangsung berhari-hari kemudian berganti panas menyengat menjadi salah satu pemicu menurunnya daya tahan tubuh warga yang terdampak bencana.

Sekitar 300 pengungsi masih bertahan di dua lokasi tersebut.

Mereka merupakan warga yang kediamannya rusak berat serta belum dapat dihuni karena masih dipenuhi material lumpur sisa banjir bandang dan longsor. Situasi itu membuat mereka harus menetap di tenda-tenda darurat dengan sarana serba terbatas.

Menurut Yayan, tenaga kesehatan terus memberikan layanan medis di lapangan. Namun, ia mengakui keterbatasan obat dan fasilitas menjadi tantangan yang belum teratasi sepenuhnya. “Kami sangat membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah dan pihak terkait agar kesehatan para pengungsi tidak semakin menurun,” tegasnya.

Sementara itu, bantuan berupa kebutuhan pokok seperti makanan dan pakaian mulai mengalir dari berbagai pihak. Meski demikian, persoalan terbesar yang masih dirasakan para pengungsi adalah minimnya air bersih. Layanan distribusi air PDAM hingga kini belum pulih, sehingga menyulitkan warga untuk memenuhi kebutuhan harian, termasuk menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan sekitar tenda.

Sebelumnya, Bupati Padangpariaman, John Kenedy Azis mengatakan, banyak pipa distribusi air yang terdampak bencana banjir dan longsor di Padangpariaman. “Sekitar 70 persen pipa PDAM terdampak. Sekarang sedang kebut perbaikannya,” ujar John. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, katanya Perumda Air Minum Tirta Anai menyalurkan menggunakan mobil tangki. “Semoga pemulihan cepat selesai,” ujarnya.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan peningkatan signifikan jumlah korban jiwa maupun korban hilang. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan, korban meninggal kini mencapai 836 orang.

Angka tersebut meningkat cepat dalam satu hari terakhir seiring penemuan puluhan jenazah dari lokasi banjir dan longsor. “Hingga sore ini (kemarin, red), jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 836 jiwa,” kata Abdul Muhari dalam konferensi pers pada  Kamis (4/12) petang.

Aceh menjadi provinsi dengan jumlah korban meninggal terbanyak. Sebanyak 48 jenazah ditemukan lagi dalam proses pencarian kemarin, sehingga total korban meninggal di provinsi itu mencapai 325 orang. Di Sumatera Utara, proses pencarian yang masih berlanjut menemukan 12 korban baru, menjadikan total korban meninggal menjadi 311 orang.

Sedangkan di Sumatera Barat, enam korban tambahan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia sehingga keseluruhan korban tewas di provinsi itu menjadi 200 orang. Selain korban meninggal, BNPB juga mencatat ratusan warga masih belum ditemukan.

Abdul Muhari menyebutkan, total ada 518 orang yang masih dinyatakan hilang di tiga provinsi tersebut. Meski Aceh mencatat jumlah korban meninggal tertinggi, Sumatera Barat justru menjadi wilayah dengan korban hilang terbanyak.

Di Aceh, hingga sore kemarin, ada 170 orang yang masih dicari oleh tim gabungan. Sementara di Sumatera Utara, terdapat 127 orang yang belum ditemukan. Di Sumatera Barat, jumlah warga hilang lebih tinggi dibanding dua provinsi lainnya, yaitu 221 orang masih dinyatakan hilang dan sebagian besar diduga tertimbun material longsor atau terperangkap di area yang sulit dijangkau.

“Korban hilang di tiga provinsi berjumlah 518 jiwa, dan upaya pencarian masih terus dilakukan,” jelas Abdul. Di lapangan, tim gabungan yang terdiri dari BNPB, Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat masih berjibaku melakukan pencarian.

Mereka harus menghadapi medan berat, akses jalan yang tertutup lumpur dan longsor, serta cuaca yang berubah cepat. Kesulitan bertambah saat malam hari karena minimnya penerangan, membuat banyak lokasi baru bisa dieksplorasi saat pagi.

Meski kondisi sangat menantang, pencarian tetap dilanjutkan tanpa henti karena masih banyak warga yang belum ditemukan dan dikhawatirkan kondisi mereka semakin memburuk jika terlambat dijangkau. Pemerintah daerah di tiga provinsi terdampak diminta memastikan jalur evakuasi, distribusi logistik, serta layanan pengungsian berjalan optimal.

BNPB mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di kawasan perbukitan dan aliran sungai, sebab hujan diperkirakan masih akan turun dan berpotensi memicu banjir serta longsor susulan.

Tragedi banjir yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar ini disebut sebagai salah satu bencana terbesar menjelang akhir 2025. Pemerintah pusat menegaskan proses pemulihan, pencarian, dan penanganan pengungsi akan terus dipercepat agar penyelamatan korban bisa berjalan maksimal.

Kampung Hilang
Gubernur Aceh Muzakkir Manaf tak kuasa menahan air mata saat mengenang dahsyatnya banjir bandang dan longsor yang melanda wilayahnya, Selasa (25/11) lalu. Mantan Panglima GAM yang dikenal tegar itu tampak larut dalam kesedihan ketika menceritakan kampung-kampung yang hilang tersapu arus.

Video dirinya menangis dalam Apel Tim Recovery Bencana di Lanud Sultan Iskandar Muda, Sabtu (29/11) lalu, viral di berbagai platform media sosial. “Ada beberapa kampung hilang entah ke mana—Sawang, Jambo Aye di Aceh Utara, Peusangan di Bireuen. Malam itu ada empat kampung juga tidak tahu ke mana perginya. Aceh sekarang seperti mengalami tsunami kedua,” ujar Muzakkir Manaf dengan suara bergetar.

Ia menjelaskan, sedikitnya empat kampung lenyap akibat banjir bandang dan longsor yang menghantam 18 kabupaten/kota di Aceh. Kondisi ini membuat akses darat terputus, sehingga distribusi bantuan terhambat.

Muzakkir menegaskan bahwa penanganan bencana harus dilakukan secara cepat dan terukur. Pembukaan kembali jalur darat menjadi prioritas utama untuk memastikan bantuan logistik dapat menjangkau warga, terutama mereka yang terisolasi selama berhari-hari. “Tugas kita adalah melayani masyarakat terdampak. Tidak boleh ada jeda kemanusiaan,” tegasnya.

Bantuan untuk Aceh Baru Terserap 24 Persen
Badan Pangan Nasional (Bapanas) siap mengguyur beras sebanyak 14 ribu ton ke daerah bencana di Aceh. Namun, proses distribusi tidak mudah. Sebab, masih banyak akses yang terputus akibat banjir dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November lalu.

Stok beras untuk Aceh itu dipaparkan Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto dalam rapat koordinasi di Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Rabu (3/12).

Menurut Andriko, total ketersediaan beras untuk Aceh saat ini mencapai 14.721,29 ton, termasuk bantuan pangan dua bulan (Oktober–November) yang disalurkan sekaligus sebanyak 12.495,12 ton, serta tambahan minyak goreng sebanyak 2.449.024 liter.

Sesuai instruksi Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, seluruhnya harus segera disalurkan. “Di Aceh baru terealisasi 24 persen karena ada hambatan distribusi. Mudah-mudahan kendala ini bisa kita selesaikan sehingga seluruh bantuan bisa diterima. Target penerimanya mengacu pada data titik sebar dari Kementerian Sosial,” ujarnya kepada Harian Rakyat Aceh (RPG).

Andriko menerangkan, pihaknya juga telah menyetujui usulan bantuan sebesar 1.797,88 ton, yang akan ditambah hingga mencapai 3.000 ton. “Jadi perintahnya Pak Menteri jika dibutuhkan, diusulkan lagi Pak. Baik melalui Bupati atau Gubernur,” terangnya.

Ia menjelaskan, untuk setiap tiga titik wilayah dialokasikan sekitar 10.000 ton. Dengan alokasi 3.000 ton saat ini, masih ada sekitar 7.000 ton yang dapat digunakan untuk kebutuhan tanggap darurat selama 14 hari. Jika jumlah tersebut masih belum mencukupi, pemerintah memperbolehkan pengajuan tambahan secara bertahap.

Andriko menambahkan, Aceh juga memiliki Cadangan Pangan Pemerintah Aceh (CPP) sebanyak 187,10 ton, ditambah cadangan kabupaten/kota sebesar 241,19 ton, sehingga totalnya sekitar 428 ton. Beras sebanyak itu disimpan di Bulog.

“Realisasinya saat ini baru sekitar 20 ton, sehingga belum bisa didorong lebih jauh. Cadangan pangan pemerintah daerah itu sebenarnya berupa barang yang dititipkan pemprov dan pemkab di Bulog, dan bisa diminta sewaktu-waktu, tidak hanya untuk bencana,” ujar Andriko.

Ia juga mendorong agar alokasi 1.797,88 ton untuk bencana alam yang telah disetujui diharapkan dapat direalisasikan. Menurut dia, mekanisme penyaluran akan dilakukan berdasarkan permintaan resmi dari Gubernur Aceh, kemudian didistribusikan melalui BPBA hingga BPBD kabupaten/kota.

“Intinya harus ada penugasan agar prosesnya cepat. Kami juga sudah mengonfirmasi ke direktur operasional supaya seluruh jajaran Bulog dalam posisi siaga. Hambatannya saat ini memang pada akses distribusi,” kata dia.

Andriko juga melaporkan bahwa Kementerian Pertanian dan Bapanas telah mengumpulkan donasi sekitar Rp80 miliar yang akan dikirimkan ke Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara untuk mendukung penanganan bencana. “Informasinya mulai Kamis bantuan non-beras akan dikirim melalui laut dari Lhokseumawe. Karena beras tetap dari Bulog. Sesuai arahan Presiden, jangan ada hambatan terkait pangan karena ini kebutuhan paling mendesak,” ujarnya.

Bantah Isu Temuan Mayat Satu Truk
Pemerintah Aceh menegaskan bahwa kabar mengenai temuan mayat hingga satu truk di Aceh Tamiang belum terverifikasi. Masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya.

Sekda Aceh M Nasir menekankan pentingnya merujuk pada data resmi agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah penanganan bencana yang masih berlangsung. Nasir menyatakan bahwa hingga Rabu (3/12), pemerintah tidak menerima laporan temuan jenazah dalam jumlah besar seperti yang ramai beredar di media sosial.

Ia mengingatkan bahwa informasi semacam itu dapat memperburuk kondisi psikologis warga yang sudah terdampak bencana. “Itu berita yang belum teridentifikasi. Kita harus menenangkan masyarakat,” ujar Nasir.

Ia menjelaskan, laporan yang diterima pemerintah dari Wakil Menteri Sosial yang sedang berada di Aceh Tamiang menunjukkan bahwa situasi di wilayah kota relatif terkendali. Proses evakuasi korban di sejumlah titik masih berlangsung.

“Memang ada beberapa temuan mayat, dan itu sudah dievakuasi. Jumlah pastinya belum bisa kita sampaikan karena kita terus mengupdate data. Untuk seluruh Aceh saat ini ada 305 korban meninggal dunia,” jelasnya.

Terkait penanganan logistik di Aceh Tamiang, Nasir menyebut situasinya kini lebih baik setelah bantuan dari Kementerian Sosial berhasil masuk melalui jalur darat dari Sumatera Utara. Menurutnya, wilayah tersebut sempat berada dalam kondisi “SOS”, sehingga perlu segera dikirim bantuan logistik.

BPKH Salurkan Bantuan Rp3 M
Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bergerak cepat merespons musibah banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera. Mereka menyalurkan bantuan program tanggap bencana sebesar Rp3.029.100.000. Bantuan itu bersumber dari nilai manfaat Dana Abadi Umat (DAU) yang dikelola oleh BPKH. (yus/apg/sep/raf/oni/int/das)

Laporan YUSNIR dan JPG, Jakarta

Editor : Arif Oktafian
#bencana #pengungsi #terjangkit #penyakit