SUNGAI PENUH (RIAUPOS.CO) - Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar bagi banyak daerah di Indonesia. Meningkatnya jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi masyarakat, serta keterbatasan kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) menyebabkan volume sampah terus bertambah setiap harinya.
Di sisi lain, sebagian besar sampah yang dihasilkan rumah tangga sebenarnya masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan baik melalui prinsip pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang (reduce, reuse, recycle/3R).
Berangkat dari kondisi tersebut, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah (UIP Sumbagteng) melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kota Sungai Penuh mengoptimalkan fungsi tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R). Program ini tidak hanya berorientasi pada pengurangan timbulan sampah menuju TPA, tetapi juga mendorong terbangunnya ekonomi sirkular yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga: Telkomsel Tanam 3.000 Pohon Mangrove untuk Lingkungan Berkelanjutan
Melalui program tersebut, sampah yang dikumpulkan dari rumah tangga dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian maupun penghijauan. Selain itu, pengelola TPS 3R juga mengembangkan budidaya maggot sebagai solusi pengolahan limbah organik yang lebih cepat, efisien, dan ramah lingkungan. Maggot yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun ikan, sementara residunya atau kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas.
Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual dipilah untuk didaur ulang atau disalurkan kepada mitra pengelola sampah. Adapun sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali dikirim ke tempat pemrosesan akhir sesuai prosedur pengelolaan yang berlaku. Melalui pola pengelolaan tersebut, volume sampah yang berakhir di TPA dapat ditekan secara signifikan sehingga memperpanjang usia layanan TPA sekaligus mengurangi potensi pencemaran lingkungan.
Baca Juga: Waspadai Gelombang Setinggi 2,5 Meter di Perairan Sumbar
Asisten Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN (Persero) UIP Sumbagteng, Muhammad Jamil, yang mewakili General Manager PLN UIP Sumbagteng, mengatakan bahwa pengelolaan lingkungan merupakan bagian dari komitmen PLN dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui Program TJSL. Menurutnya, program optimalisasi TPS 3R tidak hanya bertujuan mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola lingkungan secara mandiri.
‘’PLN Peduli berkomitmen menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui optimalisasi TPS 3R, kami ingin mendorong perubahan cara pandang terhadap sampah, dari yang semula dianggap sebagai limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Kami berharap sinergi bersama Dinas LHK Kota Sungai Penuh dan masyarakat dapat terus berkembang sehingga menghadirkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan,’’ ujar Jamil.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kota Sungai Penuh, Wahyu Rahman Dedi, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara Pemerintah Kota Sungai Penuh dan PLN UIP Sumbagteng dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat.(adv)
Editor : Arif Oktafian