BEIJING (RIAUPOS.CO) - Lonjakan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah mulai memicu efek domino pada industri otomotif. Kondisi tersebut justru membuka peluang bagi produsen mobil listrik (EV) Cina untuk memperluas pasar di kawasan Asia.
Managing Director Sino Auto Insights Tu Le mengatakan, produsen EV Cina seperti BYD kini berada dalam posisi strategis. Kenaikan harga bahan bakar fosil dinilai dapat mempercepat peralihan konsumen ke kendaraan listrik.
“Dalam situasi seperti ini, mobil listrik Cina berpotensi semakin banyak masuk ke berbagai negara Asia karena spekulasi kenaikan harga BBM akibat krisis global,” ujarnya seperti dilansir CNN kemarin.
Ketergantungan Asia terhadap minyak dari Timur Tengah menjadi faktor penting. Sekitar 60 persen pasokan berasal dari wilayah tersebut, sehingga Asia menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terhadap gejolak pasokan energi.
Lembaga riset energi Ember menyebut kendaraan listrik salah satu cara paling efektif untuk menekan impor energi. Secara global, penggunaan EV diperkirakan telah mengurangi konsumsi minyak hingga 1,7 juta barel per hari pada tahun lalu. Angka itu setara dengan sekitar 70 persen ekspor minyak Iran pada 2025.
Cina dinilai lebih siap menghadapi risiko krisis energi. Dengan lebih dari 40 persen impor minyak berasal dari Timur Tengah, negara tersebut sejak lama berinvestasi besar pada energi baru terbarukan dan kendaraan listrik. (bil/dio/jpg)
Editor : Arif Oktafian