
Setiap agama memiliki cara sendiri untuk berbicara tentang kelahiran, permulaan dan pembaruan. Kelahiran bukan sekadar peristiwa biologis. Dalam banyak tradisi keagamaan, kelahiran membawa makna yang jauh lebih dalam: ia menjadi simbol hadirnya harapan, kemungkinan baru dan pembaruan kehidupan manusia. Karena itu, kelahiran selalu memiliki dimensi spiritual. Ia mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak berhenti pada apa yang telah terjadi. Selalu ada kemungkinan untuk memulai kembali.
Dalam tradisi Kristen, misalnya, kelahiran Yesus dipahami sebagai peristiwa penting yang membawa harapan dan keselamatan. Dalam tradisi Buddhis, kelahiran Siddhartha Gautama dikenang sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang pada akhirnya membawa manusia kepada pencerahan. Dalam tradisi Hindu, kisah kelahiran dan kehadiran para avatara juga mempunyai makna tentang pemulihan keteraturan ketika dunia mengalami kekacauan.
Tentu saja, setiap tradisi memiliki doktrin dan teologi yang berbeda. Kita tidak perlu menyamakan semuanya. Tetapi secara fenomenologis terdapat satu tema yang menarik: kelahiran tokoh atau hadirnya kehidupan baru sering dipahami sebagai tanda dimulainya sebuah kemungkinan baru bagi manusia.
Di sinilah Maulid Nabi Muhammad SAW memperoleh relevansinya. Dalam tradisi kita, peristiwa Maulid Nabi sering kali kita rayakan dengan membaca Barzanji, Diba’, bershalawat, mendengarkan ceramah, makan bersama dan berkumpul dengan masyarakat. Kelahiran nabi yang mulia ini, telah membentuk tradisi besar dalam kehidupan umat Islam. Namun demikian, patut untuk kita lanjutkan tradisi ini dengan sebuah pertanyaan penting untuk apa sesungguhnya kita memperingati kelahiran nabi setiap tahun ini?
Jika Maulid hanya berhenti pada pengulangan seremoni semata, maka kita sebenarnya hanya mengingat sebuah peristiwa sejarah. Padahal agama tidak pernah bermaksud menjadikan sejarah sekadar nostalgia. Kelahiran Nabi Muhammad SAW seharusnya dibaca sebagai simbol bahwa sejarah manusia dapat memasuki babak baru.
Muhammad lahir di tengah masyarakat Arab yang memiliki persoalan sosial, politik, ekonomi dan moralnya sendiri. Beberapa dekade kemudian, masyarakat yang sama mengalami transformasi besar. Dari masyarakat kesukuan menuju komunitas yang dibangun di atas prinsip tauhid, keadilan, persaudaraan dan tanggung jawab moral. Karena itu, tradisi Maulid ini, menggeser kita kepada sebuah pertanyaan eksistensial: apa yang harus kita lahirkan kembali dari diri kita setelah memperingati kelahiran nabi?
Kalau setelah Maulid kita masih mudah menghina, memfitnah, melakukan kekerasan, merendahkan orang lain, korupsi, memelihara kebencian dan tidak peduli terhadap penderitaan sesama, maka ada sesuatu yang hilang dari cara kita memahami Maulid. Sebab yang kita rayakan bukan hanya kelahiran seorang manusia, melainkan lahirnya sebuah visi kemanusiaan.
Maulid dan “Awal Baru” Kehidupan
Mircea Eliade, seorang ahli sejarah agama, dalam bukunya A History of Religious Ideas berpandangan bahwa manusia religius memiliki pengalaman yang khas tentang waktu. Ada waktu profan—waktu kehidupan sehari-hari—dan ada waktu sakral yang dihadirkan melalui ritual.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



