PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar mulai langka di Riau, khususnya di Pekanbaru, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu. Pengendara mobil bermesin diesel terpaksa mengantre sampai ke jalan raya hingga berjam-jam untuk mendapatkan solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Di Pekanbaru antrean mengular terjadi di SPBU Jalan Soekarno-Hatta, SPBU Jalan SM Amin, SPBU Jalan Kelapa Sawit/Rawamangun, dan SPBU Jalan Imam Munandar/Harapan Raya Pekanbaru.
Wil, salah seorang sopir truk angkutan pasir/tanah mengatakan, memang saat ini terjadi kelangkaan solar. Ia mengaku harus mengantre di SPBU hingga 2 jam. Kelangkaan solar ini sudah terjadi sejak dua pekan terakhir ini.
“Untuk mendapatkan solar, saya harus mengantre hingga 2 jam. Ini memang sering terjadi apalagi menjelang akhir tahun. Tahun lalu juga menjelang akhir tahun terjadi kelangkaan seperti ini,” ujarnya, Senin (3/11).
Antrean panjang hingga ke jalan raya ini juga mengganggu pengguna jalan lainnya. Masyarakat mengeluhkan keberadaan SPBU yang dianggap tidak mengindahkan keamanan dan kenyamanan warga lain. Menurut Wil, beberapa SPBU terlihat tidak mengatur antrean yang menggunakan jalan umum. Sampai menyebabkan macet, apalagi kalau yang antrean itu kendaraan bertonase besar.
Di Rokan Hulu (Rohul), kebutuhan solar di wilayah Pasirpengaraian, Kecamatan Rambah masih mencukupi sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan. Namun, dalam dua pekan terakhir, antrean panjang kendaraan bermotor di sejumlah SPBU menjadi pemandangan yang kerap terjadi. Tidak hanya pagi dan sore, bahkan malam hari terlihat parkir truk dan mobil pribadi untuk mengisi solar.
Pengawas SPBU Jalan Tuanku Tambusai Pasirpengaraian Hasbi menjelaskan, kuota bio solar untuk SPBU- nya dipasok sebanyak 8.000 liter per hari, sesuai jatah tahunan yang telah ditetapkan oleh pihak Pertamina. “Dalam satu tahun, kuota BBM subsidi jenis bio solar sudah ditetapkan. Kami menyesuaikan kebutuhan harian dan bulanan hingga akhir tahun 2025. Untuk dexlite, stoknya sejauh ini aman dan mencukupi,” ujarnya, Senin (3/11).
Ia menegaskan, antrean panjang yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan oleh pengurangan kuota di SPBU tersebut, melainkan karena sejumlah SPBU terdekat seperti di Jalan Lingkar Km 4 Pasirpengaraian dan Dusun Okak, Desa Rambah Samo Barat, Kecamatan Rambah Samo, mengalami kekosongan stok bio solar. “Banyak kendaraan seperti truk Fuso, dump truk, dan mobil pribadi akhirnya beralih mengisi di SPBU Tuanku Tambusai karena SPBU lain sedang kosong,” jelasnya.
Hasbi menambahkan, antrean biasanya terjadi dua hingga tiga jam sebelum mobil tangki Pertamina tiba untuk menyalurkan pasokan bio solar. Dalam satu kali pengiriman, SPBU menerima sebanyak 8.000 liter. “Paling lama satu sampai dua jam BBM habis. Bahkan, ada truk yang tidak kebagian. Jadi, bukan karena pengurangan kuota, tapi karena banyak kendaraan dari luar wilayah yang datang ke sini,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi antrean panjang yang berulang, manajemen SPBU Tuanku Tambusai menambah permintaan pasokan ke Pertamina menjadi 16.000 liter pada Senin (3/11) malam. “Kita harapkan tambahan pasokan ini bisa mengurangi antrian kendaraan di SPBU,” tambah Hasbi.
Sementara itu, Budi (49), salah seorang sopir pengangkut pasir dan batu (sirtu) mengaku sangat terdampak dengan kondisi kelangkaan bio solar di sejumlah SPBU Kecamatan Rambah. “Sudah lama mengantre, begitu sampai giliran, petugas bilang solar sudah habis. Terpaksa hari ini (kemarin, red) saya tidak bisa kerja mengangkut pasir ke pelanggan,” keluh Budi.
Ia berharap pihak berwenang, khususnya Kapolda Riau dan Kapolres Rohul turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPBU wilayah Rambah.
Budi menduga ada oknum yang melakukan kecurangan, seperti memodifikasi tangki kendaraan untuk mendapatkan solar dalam jumlah lebih banyak. “Kami sebagai sopir truk sangat dirugikan secara ekonomi dengan kondisi ini,” tegasnya.
Di Kuantan Singingi (Kuansing), SPBU Sungai Jering Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuansing, terlihat sepi dari antrean kendaraan, Senin (3/11). Tak seperti Ahad (2/11), yang terlihat antrean panjang kendaraan berbahan bakar solar seperti L300, colt diesel, mobil pikup, dan kendaraan pribadi lainnya.
Menurut Administrator SPBU Sungai Jering, Mega Wahyuna, memang dari Ahad (2/11) malam, solar tidak masuk. Kondisi ini disebabkan terjadinya kesalahan dalam penembusan yang mereka lakukan. “Mudah-mudahan segera masuk,” kata Mega.
Dari segi pasokan bio solar, normal dan tidak ada pengurangan, yakni 16 kl per hari. “Kalau bio solar, pasokan normal. Cuma malam tadi ada kesalahan penebusan. Jadi hari ini tidak masuk. Sementara untuk Pertamax 92 juga terlihat kosong. Ini disebabkan stoknya yang kosong di Pertamina,’’ ujarnya.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) memastikan penyaluran bersubsidi jenis bio solar di wilayah Provinsi Riau tetap berjalan dengan baik dan terkendali.
Area Manager Communication, Relations and CSR, Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, fenomena antrean kendaraan di sejumlah SPBU disebabkan oleh adanya penyesuaian kecukupan kuota BBM bersubsidi hingga akhir tahun. “Penyesuaian kuota BBM yang ditetapkan pemerintah dilakukan supaya cukup sampai akhir tahun,” ungkapnya.
Per Senin (3/11), stok BBM di Riau dipastikan aman. Untuk stok pertamax tercatat sebanyak 2.541 kl, pertamax turbo 3.164 kl, pertalite 14.694 kl, bio solar 3.552 kl, solar 10.276 kl, dan pertamina dex 1 kl.
Pertamina Patra Niaga terus melakukan pemantauan bersama tim operasional dan memastikan pasokan BBM subsidi tersalurkan sesuai alokasi kuota yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
Hingga saat ini, stok BBM subsidi jenis biosolar di wilayah Riau berada dalam kondisi aman dan penyaluran tetap berlangsung sebagaimana mestinya. Menjelang akhir tahun, Pertamina bersama lembaga penyalur terus melakukan langkah pengendalian .
Tujuannya agar penyaluran BBM subsidi tetap sesuai dengan kuota yang ditetapkan pemerintah, sehingga ketersediaan energi bagi masyarakat dapat terjaga hingga akhir periode anggaran. Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat untuk membeli BBM sesuai peruntukannya dan tidak melakukan penimbunan.
‘’Apabila masyarakat membutuhkan informasi lebih lanjut terkait ketersediaan produk BBM dan elpiji, dapat menghubungi Pertamina Call Center 135,’’ ujarnya.(dof/epp/dac/azr)
Editor : Arif Oktafian