Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

UMKM Makin Tangguh, Indeks Bisnis BRI Triwulan I 2025 Tembus 104,3

Redaksi • Senin, 2 Juni 2025 | 09:58 WIB

 

pelaku UMKM semakin adaptif dengan memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produk dan meningkatkan layanan.
pelaku UMKM semakin adaptif dengan memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produk dan meningkatkan layanan.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat kinerja positif sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada awal tahun ini. Berdasarkan laporan Indeks Bisnis UMKM yang dirilis BRI untuk Triwulan I 2025, angka indeks tercatat di level 104,3. Angka ini tidak hanya lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya (102,1), tetapi juga melampaui capaian periode yang sama tahun lalu (102,9).

Peningkatan ini didorong oleh sejumlah faktor musiman dan struktural. Momentum Ramadan dan Idulfitri disebut sebagai pendorong utama lonjakan permintaan barang dan jasa, terutama di sektor pertanian, industri pengolahan, jasa angkutan, dan jasa lainnya. Adanya pencairan THR dan bantuan sosial turut memperkuat daya beli masyarakat, yang berdampak langsung pada kenaikan omzet pelaku usaha.

Tak hanya itu, panen raya yang terjadi di sejumlah wilayah penghasil komoditas pangan juga mendorong pertumbuhan signifikan di sektor pertanian. Harga jual hasil panen yang kompetitif menjadi insentif tambahan bagi petani dan pelaku usaha di sektor ini.

Baca Juga: BRI Raih Pengakuan atas Kontribusi di Urban Farming dan Pemberdayaan Perempuan

Menariknya, pelaku UMKM semakin adaptif dengan memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produk dan meningkatkan layanan. Langkah ini terbukti memperkuat daya saing sekaligus memperluas jangkauan pasar mereka.

Secara keseluruhan, hampir seluruh komponen penyusun indeks menunjukkan tren positif. Rata-rata harga jual mencatat indeks tertinggi di angka 116,0—tertinggi sejauh ini—disebabkan lonjakan harga menjelang hari besar keagamaan. Sementara itu, volume produksi sedikit tertahan di angka 99,2. Namun demikian, peningkatan permintaan tetap mendorong pertumbuhan omzet (101,4), pemesanan barang input, dan penyerapan tenaga kerja.

Kondisi likuiditas juga membaik, dan rentabilitas UMKM menunjukkan tren pemulihan meski masih tertekan oleh naiknya harga bahan baku di sektor industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan. Di sisi lain, investasi tetap tercatat tumbuh, meski pertumbuhannya relatif stagnan dibanding triwulan sebelumnya.

Laporan ini menjadi sinyal optimisme bahwa pelaku UMKM masih memiliki daya tahan tinggi di tengah tantangan ekonomi. Peran mereka tetap vital sebagai penggerak roda ekonomi nasional.

Baca Juga: BRI Bantu UMKM Raih Sertifikasi Halal Lewat Program BRI Peduli

Dilihat secara sektoral, hampir semua sektor masih ekspansif, kecuali sektor pertambangan dan penggalian, sektor konstruksi, serta sektor hotel dan restoran. Ekspansi sektor pertanian didorong adanya panen raya tanaman pangan, meningkatnya permintaan hasil pertanian dan peternakan selama Ramadhan dan Idulfitri, harga jual yang tetap menarik, serta kemudahan akses barang input seperti pupuk dan obat-obatan.

Aktivitas sektor pertambangan dan konstruksi mengalami kontraksi akibat cuaca yang kurang kondusif bagi sektor ini (musim hujan), lesunya permintaan dari proyek pemerintah dan swasta pada awal tahun anggaran, serta kenaikan harga material. Ekspansi sektor industri pengolahan dan perdagangan ditopang oleh meningkatnya permintaan selama puasa dan hari raya, adanya perbaikan daya beli konsumen seiring pemberian tunjangan hari raya, bantuan sosial, serta hasil panen tanaman pangan dan hortikultura yang bagus.

Kinerja sektor hotel dan restoran menurun akibat waktu operasional yang lebih pendek dan sebagian tutup selama Ramadhan. Lebih lanjut, sektor pengangkutan tumbuh moderat ditopang permintaan jasa transportasi untuk mudik selama hari raya. Aktivitas sektor jasa tumbuh melambat karena turunnya permintaan jasa selama bulan puasa.

Baca Juga: Pengajuan Kartu Kredit Easy Card Kini Dapat Dilakukan Secara Daring di Situs BRI

Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi mengatakan bahwa meskipun ekspansi UMKM membaik di Triwulan I/2025, pelaku usaha masih menghadapi kendala seperti daya beli yang belum pulih sepenuhnya, naiknya harga barang input sektor industri pengolahan dan konstruksi, serta ketatnya persaingan di sektor perdagangan dan transportasi.

“Oleh karena tantangan tersebut, pelaku UMKM memperkirakan pertumbuhan yang lebih moderat pada Q2-2025 seperti tercermin pada Indeks Ekspektasi Bisnis yang turun ke 119,2 dari 120,4, namun tetap di atas 100,” ujar Hendy. Moderasi pertumbuhan pada Q2-2025 juga didorong faktor (1) normalisasi permintaan dan produksi pada sektor manufaktur dan perdagangan pasca-Idulfitri, (2) daya beli konsumen yang belum pulih dalam waktu dekat, (3) naiknya harga barang input sektor industri dan konstruksi, serta (4) prospek ekonomi yang diperkirakan tumbuh lebih lambat pada tahun 2025.

Sejalan dengan bisnis UMKM yang masih mengalami ekspansi, sentimen pebisnis UMKM terhadap perekonomian dan usaha secara umum tetap baik. Hal ini tecermin pada Indeks Sentimen Bisnis (ISB) UMKM Q1-2025 yang berada pada level 114,1. Komponen Indeks Situasi Sekarang (ISS) naik 0,2 poin menjadi 93,7, sementara Indeks Ekspektasi (IE) melemah -1,2 poin menjadi 134,5. IE yang melemah sejalan dengan ekspektasi terbatasnya ekspansi bisnis UMKM pada Q2-2025.

“Seiring dengan membaiknya kondisi bisnis UMKM di Q1-2025 dan ekspektasi yang masih positif ke depan, pelaku UMKM tetap memberi penilaian tinggi terhadap kemampuan pemerintah dalam menjalankan tugas-tugas utamanya”, ujar Hendy. Hal ini tecermin pada Indeks Kepercayaan pelaku UMKM kepada Pemerintah (IKP) Q1-2025 yang tetap berada pada level yang tinggi (125,9). Semua komponen penyusunnya tetap bertahan diatas level 100, meski sedikit terkoreksi dari kuartal sebelumnya.

Pebisnis UMKM memberikan penilaian tertinggi terhadap kemampuan pemerintah menciptakan rasa aman dan tenteram (indeks terkait 144,4), serta menyediakan dan merawat infrastruktur (indeks terkait 137,1). Sedangkan penilaian terendah diberikan oleh pelaku UMKM terhadap kemampuan pemerintah menstabilkan harga barang dan jasa, dengan level indeksnya tetap di atas 100 (indeks terkait 111,5). “Hal ini terkait daya beli masyarakat yang belum pulih dan tingginya harga barang input di sektor industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan yang berpotensi menggerus keuntungan pelaku usaha”, tambah Hendy.

 

Metodologi Survei                                

Survei Kegiatan Usaha dan Sentimen Bisnis UMKM Bank Rakyat Indonesia dilaksanakan oleh BRI Research Institute pada 25 Maret 2025 hingga 13 April 2025. Survei ini melibatkan 7.060 responden, yang merupakan debitur UMKM BRI dari berbagai sektor ekonomi dan tersebar di 33 provinsi di Indonesia.

Pengambilan sampel dilakukan dengan metode stratified systematic random sampling, sehingga hasil survei ini dapat merepresentasikan keberagaman sektor usaha, wilayah provinsi, dan skala usaha dari pelaku UMKM.

Adapun, informasi yang dikumpulkan dalam survei ini adalah persepsi pelaku usaha UMKM terhadap perkembangan dan prospek perekonomian secara umum, sektor usaha responden serta perkembangan dan proyeksi kinerja usaha responden. Informasi ini digunakan untuk menyusun Indeks Bisnis UMKM (IB), Indeks Sentimen Bisnis (ISB) serta Indeks Kepercayaan Pelaku (IKP) usaha UMKM kepada pemerintah.

Indeks-indeks ini melengkapi indeks serupa yang disusun oleh Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik di mana surveinya dilakukan terhadap pelaku usaha kategori menengah dan besar. Di samping itu juga dikumpulkan informasi mengenai kondisi usaha responden untuk keperluan monitoring dan sekaligus menjadi Early Warning System (EWS) terhadap keberlangsungan usaha debitur UMKM.

Dalam survei ini, responden diminta menjawab sejumlah pertanyaan yang mencerminkan persepsi mereka terhadap perkembangan dan prospek usaha. Untuk setiap pertanyaan, responden dapat memberikan salah satu dari tiga pilihan jawaban, yaitu positif (lebih tinggi atau lebih baik), negatif (lebih rendah atau lebih buruk), atau netral (sama saja atau tetap). Dalam penghitungan indeks difusi, hanya jawaban positif dan negatif yang diperhitungkan, sementara jawaban netral diabaikan.

Nilai indeks di atas 100 menunjukkan bahwa persepsi positif lebih dominan dibandingkan persepsi negatif. Sebaliknya, apabila nilai indeks berada di bawah 100, hal tersebut mencerminkan bahwa jumlah responden yang memberikan jawaban negatif lebih banyak dibandingkan dengan yang memberikan jawaban positif.

Editor : Rindra Yasin
#bri #bbri #Indeks Bisnis UMKM #kinerja UMKM