JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menilai kenaikan harga minyak goreng tidak hanya dipengaruhi oleh naiknya harga minyak dunia akibat perang di Iran. Menurutnya, kenaikan harga plastik juga turut menyumbang lonjakan harga.
Tungkot mengatakan, penutupan Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah mengakibatkan pasokan bahan baku terganggu. Akibatnya kenaikan harga produk turunan energi fosil seperti plastik tak bisa dihindari.
“Harga energi fosil dunia meningkat dari sekitar 60 dolar AS per barel sebelum perang menjadi lebih dari 110 dolar AS per barel. Akibatnya, semua produk turunan dari energi fosil seperti plastik mengalami kenaikan,” kata Tungkot.
Baca Juga: Harga Emas Stagnan, UBS-Antam dan Galeri24 Kompak Tak Bergerak
Kondisi ini memiliki dampak langsung kepada masyarakat. Terlebih Indonesia menjadi salah satu negara konsumsi minyak goreng tertinggi di dunia.
Tungkot menjelaskan, ada tiga jenis minyak goreng sawit yang dikonsumsi oleh masyarakat di dalam negeri, yakni minyak goreng sawit (MGS) kemasan premium dengan berbagai merek, MGS Minyakita dengan segmen masyarakat berpendapatan rendah dan UMKM, serta MGS curah untuk industri pangan.
Dari ketiga jenis minyak goreng sawit tersebut, pemerintah bisa mengendalikan harga dan ketersediaan MGS Minyakita. Sedangkan MGS premium dan curah dikendalikan oleh pasar.
“Harga dan ketersediaan MGS Minyakita ini dikendalikan pemerintah melalui kebijakan DMO (domestic market obligation), pengendalian penyaluran (D1, D2), dan HET (harga eceran tertinggi),” imbuhnya.
Baca Juga: Sambut Idulfitri 1447 H, PLN Nusantara Power Gelar Apel Siaga Kelistrikan
Sejauh ini kenaikan harga terlihat pada kategori dalam periode Januari 2026 minggu ke-3 April 2026, harga MGS premium naik dari Rp21.166 per liter menjadi Rp21.793 per liter. Kemudian harga MGS curah naik dari Rp17.790 per liter menjadi Rp19.486 per liter.
“Hal yang menarik, harga MGS Minyakita pada periode yang sama justru turun dari Rp16.865 menjadi Rp15.949 per liter, mendekati HET Rp15.700 per liter,” jelasnya.
Penurunan harga MGS Minyakita dinilai imbas dari kebijakan DMO yang dilakukan oleh pemerintah. Kebijakan ini efektif dalam menjaga pasokan MGS untuk memenuhi HET.
“Namun apakah harga MGS Minyakita dapat dipertahankan ke depan dengan kenaikan harga kemasan plastik? Ini tergantung pemerintah,” pungkasnya.(gem)
Laporan JPG
Editor : Arif Oktafian