Rupiah Sentuh Rp18.100 per Dolar AS

Tim Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 28 Oktober 2026 | 10:27 WIB
GRAFIS Nilai Tukar Rupiah ke dolar AS paqe-0001. (jpg)
GRAFIS Nilai Tukar Rupiah ke dolar AS paqe-0001. (jpg)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Nilai tukar rupiah kian tertekan hingga menembus level psikologis Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Senin (26/10), rupiah ditutup melemah ke level  Rp18.116 per dolar Amerika Serikat (AS), dari posisi Rp18.069 per dolar AS pada penutupan Jumat (23/10). Tren pelemahan pun berlanjut. Selasa (27/10), mata uang Garuda tercatat Rp18.139.Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi dinamika pasokan dan permintaan valuta asing (valas) di pasar. Bank sentral terus mencermati perkembangan pasar sekaligus menelusuri penyebab pelemahan mata uang domestik tersebut. ”Kita tetap ada di pasar. Ini tergantung  hari ini. Pokoknya tetap kita monitor pergerakannya,” kata Destry di Jakarta, kemarin (27/10).

Terkait kemungkinan perubahan strategi intervensi untuk meredam tekanan terhadap rupiah, Destry menyebut volatilitas yang terjadi masih menjadi bagian dari dinamika pasar. Meskipun demikian, BI akan terus memantau perkembangan dan mengidentifikasi faktor utama yang memengaruhi nilai tukar. ”Ini volatilitas biasa. Tapi kita akan terus ada. Kita lihat juga,” tegasnya.

Arus Modal Keluar 

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menilai, pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.100 per dolar AS menjadi sinyal yang perlu diwaspadai otoritas moneter dan pelaku pasar. Tekanan tersebut merupakan akumulasi sejumlah faktor eksternal dan domestik.

Baca Juga: Merawat Warisan Kuliner Minang, Erina Tumbuh Bersama Indomaret

Dari sisi global, pergerakan indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau  memengaruhi aliran modal ke pasar keuangan negara berkembang. ”Penguatan atau volatilitas pada imbal hasil obligasi pemerintah AS serta pergerakan indeks dolar (DXY) secara konsisten menjadi magnet yang menarik arus modal keluar () dari pasar keuangan domestik ke aset-aset,” papar Rahma.

Dari dalam negeri, ekspektasi pasar terhadap kondisi makroekonomi, kebutuhan likuiditas valas korporasi, serta sentimen terhadap reformasi pasar modal, termasuk diskursus mengenai indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), turut memengaruhi kepercayaan investor asing.

Beban Produksi Naik

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya impor dan beban produksi. Industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri, seperti sektor kimia, komponen elektronik, farmasi, pangan, hingga pakan ternak, berisiko menghadapi pembengkakan biaya.

Baca Juga: HLN ke-81, PLN Perkuat Peran Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Kenaikan biaya tersebut dapat memicu , yakni inflasi yang bersumber dari kenaikan harga barang impor. Pelaku usaha harus memilih antara menyerap tambahan biaya dengan konsekuensi penurunan margin keuntungan atau meneruskannya ke harga jual.

”Jika kenaikan biaya dibebankan kepada konsumen, daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah, berpotensi semakin tertekan,” imbuhnya.

Rahma menambahkan, penyesuaian suku bunga acuan atau BI-Rate tetap menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan untuk meredam ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas rupiah. Namun, langkah tersebut perlu dikaji secara hati-hati agar tidak menambah beban sektor riil.(mim/dio/jpg)

 

Editor : Arif Oktafian
dolar as nilai tukar rupiah rupiah melemah