Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jasad Aidil Ditemukan Tertimbun Pasir

Redaksi • Rabu, 9 Oktober 2013 - 02:12 WIB
Drama pen­­­ca­rian Aidil Akbar Walsya, sa­lah seorang anggota Ma­ha­siswa Pen­cinta Alam Uni­ver­sitas An­dalas (Mapala Unand) yang ha­nyut terseret arus Su­ngai Pa­dang­janiah, Patamuan, Ba­tu­bu­­suk, Kecamatan Pauh, Pa­dang pada Sabtu (28/9) lalu, ber­­akhir pilu.

Laporan RPG, Padang

Jasad mahasiswa Fakultas Eko­­nomi Unand itu dite­mu­kan dalam kondisi tertimbun pa­­sir di pinggir banjir kanal tak jauh dari jembatan Siteba, Ke­lu­rahan Suraugadang, Keca­ma­tan Nanggalo, kemarin (7/10).

Jasad sekretaris Mapala Unand ini pertama kali dite­mu­kan seorang pemancing yang ke­betulan melintas di lokasi itu.

Pemancing diketahui ber­na­ma Sugiono, 41 itu, curiga se­te­­lah melihat tumpukan pasir yang me­ngeluarkan bau men­ye­ngat. “Jasad itu tertimbun pasir da­­lam po­sisi tertelungkup de­ngan ba­gian kepala mengarah ke hu­lu. Hanya tampak pung­gung­n­ya, se­dangkan tangan, kaki, ser­ta mu­ka­nya tertimbun pasir,” ujar Su­giono.

Lekas-lekas Sugiono mela­por­kan penemuan itu kepa­da po­lisi yang berjaga di salah satu bank tak jauh dari lokasi itu. S­e­lanjutnya, laporan itu dite­rus­kan ke Mapolsek Nanggalo. Tak la­ma berselang, beberapa ang­gota ga­bungan SAR dan BPBD sam­pai di lokasi.

Pantauan Padang Ekspres (Riau Pos Group) di lokasi penemuan Aidil, sebe­lum gabungan tim SAR dan BPBD tiba, puluhan warga su­dah mendatangi lokasi. Bahkan b­e­­berapa warga mengabadikan ja­­sadnya dengan ponsel. Awal­nya, tak ada warga berupaya se­ce­­patnya mengevakuasi ko­r­ban. Umumnya hanya menutupi hi­dung dan menyaksikan begitu sa­ja. Satu peleton tim SAR da­tang sekitar setengah jam ke­mu­dian, dan mereka baru me­lihat-li­hat sembari men­ye­diakan kan­tong mayat berwarna hitam.

Nah, waktu itulah seorang war­ga bernama Syafrial, 46, te­r­usik rasa kemanusiaannya. De­ngan tangan kosong, dia meng­gali tim­bunan pasir itu. “Tak ta­han saya melihatnya. Ter­ba­yang oleh saya jika mayat itu ada­lah keluarga saya. Semua rasa ngeri, takut menjadi le­nyap!” kata Syafrial.

Tak lama, dua orang yang diketahui senior Aidil di kampus, tu­rut membantu Syafrial. Set­e­lah menggali beberapa lama, ba­rulah datang seorang warga mem­­bawa cangkul. Sejurus ke­mudian, jasad Aidil berhasil di­pisahkan dari tumpukan pasir.

Syafrizal sangat menya­yang­kan kurangnya rasa ke­ma­nu­sia­an masyarakat, tak ter­kecuali tim penyelamat yang tidak cepat meng­gali jasad yang sudah sepu­luh hari hanyut itu. “Mereka se­akan tidak menyadari kewa­ji­ban­nya, seharusnya mereka men­­jadi garda terdepan mela­ku­kan proses evakuasi. Namun, me­reka pula hanya melihat-lihat dan tidak ikut bekerja,” sesalnya.

Mustafa, 46, warga Siteba me­ngungkapkan hal senada. “Me­ngapa tim SAR yang se­harus­nya melakukan evakuasi ha­nya berdiri saja,” ungkap Mus­ta­­fa yang kala itu tengah me­nga­ba­dikan proses evakuasi dengan pon­­selnya. Namun saat ditanyakan mengapa Mus­tafa tidak ikut serta pula da­lam proses evakuasi, ia berki­lah jika ia tidak sanggup melihat ma­yat. “Saya tidak kuat melihat ma­yat, saya jantungan,” ung­kapnya.

Setelah berhasil dievakuasi, ja­sad Aidil langsung dibawa meng­gunakan ambulan, diiringi te­man, dan keluarga korban me­nuju RSUP M Djamil Padang untuk otopsi. Di RSUP M Djamil Pa­dang, puluhan kolega, sahabat dan keluarga korban terlihat memadati luar ruang otopsi.

Usai diotopsi, jenazah diba­wa menuju Sekretariat Mapa­la Unand, di Kampus Unand Li­mau­manih. Setelah dilakukan pro­sesi pelepasan jenazah secara sim­bolis bersama Civitas Aka­demika Unand dihadiri keluarga dan kerabat serta rekannya, ja­sad Aidil dibawa menuju ru­mah duka di Kelurahan Man­diagin, Kota Bukittinggi.

Sesuai SOP

Terkait proses evakuasi per­ta­­ma hanya dilakukan warga dan senior serta rekan korban, Ka­bid Kedaruratan dan Kesiap­sia­­gaan BPBD Sumbar Ade Ed­war mengatakan, semuanya su­dah bekerja sama secara mak­si­mal, termasuk masyarakat. “Se­t­elah informasi diterima, ga­bungan tim langsung menuju lo­ka­si. Dan SOP evakuasi telah di la­kukan,” ujarnya sore kema­rin.

Dalam proses evakuasi, kata Ade, tidak semua anggota mam­pu melakukannya, karena butuh ke­ahlian dan kemampuan di bi­dang itu. “Tidak semua juga siap. Jika memang masyarakat mam­pu, maka silakan. Masya­rakat kan juga berperan, dan mungkin da­lam penemuan Aidil mereka le­bih terampil,” tutur Ade. Ter­penting, tambahnya, kerja sama semua pihak. Seiring sudah dite­mu­kannya jasad Aidil, berarti ke­enam anggota Mapala Unand ter­seret arus di Sungai Padang­janiah, pada Sabtu (28/9) lalu, sudah ditemukan. Keenamnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Kepala BPBD Damkar Budi Er­wanto juga menegaskan bah­wa semua anggota gabungan, ter­masuk masyarakat satu tim ke­satuan. ”Anggota yang telah ha­dir di lokasi pun telah bisa di­ka­takan bekerja. Jadi dalam kon­­teks penemuan kemarin, yang menggali terlihat hanya tiga orang di luar anggota penyela­mat, itu merupakan masyarakat yang benar-benar ingin mela­kukan penggalian sembari me­nung­gu datangnya tim gabu­ngan,” ungkapnya.

Dimakamkan di Bukittinggi

Jenazah putra sulung Wis­mar itu tiba di rumah orangtua­nya, di gang Swadaya Man­dia­ngin, Bukittinggi, sekitar pukul 18.00. Setelah beberapa menit je­nazah disemayamkan di ru­mah duka, langsung dibawa ke Mas­jid Syukra Mandiangin un­tuk dishalat dan dimakam­kan. Ri­buan pelayat terlihat me­ngantarkan jenazah ke Pandam Pa­ku­buran Budi Mulya di Su­rau­­gadang Mandiangin Bu­kit­tinggi, sekitar pukul 18.30.

Sebelum kedatangan jena­zah, rumah duka sudah dipadati pe­layat. Ibunda korban terlihat te­gar menunggu kedatangan anak pertama dari tiga ber­sau­dara itu. Begitu pula dengan ke­luarga dan kerabat lainnya, juga tam­pak lebih tegar menghadapi mu­­sibah. Tak ada komentar pi­hak keluarga kepada awak me­dia, karena larut dalam sua­sana duka mendalam. (cr2/y/rpg)

Editor : RP Redaksi
#mapala unand