Laporan RPG, Padang
Jasad mahasiswa Fakultas Ekonomi Unand itu ditemukan dalam kondisi tertimbun pasir di pinggir banjir kanal tak jauh dari jembatan Siteba, Kelurahan Suraugadang, Kecamatan Nanggalo, kemarin (7/10).
Jasad sekretaris Mapala Unand ini pertama kali ditemukan seorang pemancing yang kebetulan melintas di lokasi itu.
Pemancing diketahui bernama Sugiono, 41 itu, curiga setelah melihat tumpukan pasir yang mengeluarkan bau menyengat. “Jasad itu tertimbun pasir dalam posisi tertelungkup dengan bagian kepala mengarah ke hulu. Hanya tampak punggungnya, sedangkan tangan, kaki, serta mukanya tertimbun pasir,” ujar Sugiono.
Lekas-lekas Sugiono melaporkan penemuan itu kepada polisi yang berjaga di salah satu bank tak jauh dari lokasi itu. Selanjutnya, laporan itu diteruskan ke Mapolsek Nanggalo. Tak lama berselang, beberapa anggota gabungan SAR dan BPBD sampai di lokasi.
Pantauan Padang Ekspres (Riau Pos Group) di lokasi penemuan Aidil, sebelum gabungan tim SAR dan BPBD tiba, puluhan warga sudah mendatangi lokasi. Bahkan beberapa warga mengabadikan jasadnya dengan ponsel. Awalnya, tak ada warga berupaya secepatnya mengevakuasi korban. Umumnya hanya menutupi hidung dan menyaksikan begitu saja. Satu peleton tim SAR datang sekitar setengah jam kemudian, dan mereka baru melihat-lihat sembari menyediakan kantong mayat berwarna hitam.
Nah, waktu itulah seorang warga bernama Syafrial, 46, terusik rasa kemanusiaannya. Dengan tangan kosong, dia menggali timbunan pasir itu. “Tak tahan saya melihatnya. Terbayang oleh saya jika mayat itu adalah keluarga saya. Semua rasa ngeri, takut menjadi lenyap!” kata Syafrial.
Tak lama, dua orang yang diketahui senior Aidil di kampus, turut membantu Syafrial. Setelah menggali beberapa lama, barulah datang seorang warga membawa cangkul. Sejurus kemudian, jasad Aidil berhasil dipisahkan dari tumpukan pasir.
Syafrizal sangat menyayangkan kurangnya rasa kemanusiaan masyarakat, tak terkecuali tim penyelamat yang tidak cepat menggali jasad yang sudah sepuluh hari hanyut itu. “Mereka seakan tidak menyadari kewajibannya, seharusnya mereka menjadi garda terdepan melakukan proses evakuasi. Namun, mereka pula hanya melihat-lihat dan tidak ikut bekerja,” sesalnya.
Mustafa, 46, warga Siteba mengungkapkan hal senada. “Mengapa tim SAR yang seharusnya melakukan evakuasi hanya berdiri saja,” ungkap Mustafa yang kala itu tengah mengabadikan proses evakuasi dengan ponselnya. Namun saat ditanyakan mengapa Mustafa tidak ikut serta pula dalam proses evakuasi, ia berkilah jika ia tidak sanggup melihat mayat. “Saya tidak kuat melihat mayat, saya jantungan,” ungkapnya.
Setelah berhasil dievakuasi, jasad Aidil langsung dibawa menggunakan ambulan, diiringi teman, dan keluarga korban menuju RSUP M Djamil Padang untuk otopsi. Di RSUP M Djamil Padang, puluhan kolega, sahabat dan keluarga korban terlihat memadati luar ruang otopsi.
Usai diotopsi, jenazah dibawa menuju Sekretariat Mapala Unand, di Kampus Unand Limaumanih. Setelah dilakukan prosesi pelepasan jenazah secara simbolis bersama Civitas Akademika Unand dihadiri keluarga dan kerabat serta rekannya, jasad Aidil dibawa menuju rumah duka di Kelurahan Mandiagin, Kota Bukittinggi.
Sesuai SOP
Terkait proses evakuasi pertama hanya dilakukan warga dan senior serta rekan korban, Kabid Kedaruratan dan Kesiapsiagaan BPBD Sumbar Ade Edwar mengatakan, semuanya sudah bekerja sama secara maksimal, termasuk masyarakat. “Setelah informasi diterima, gabungan tim langsung menuju lokasi. Dan SOP evakuasi telah di lakukan,” ujarnya sore kemarin.
Dalam proses evakuasi, kata Ade, tidak semua anggota mampu melakukannya, karena butuh keahlian dan kemampuan di bidang itu. “Tidak semua juga siap. Jika memang masyarakat mampu, maka silakan. Masyarakat kan juga berperan, dan mungkin dalam penemuan Aidil mereka lebih terampil,” tutur Ade. Terpenting, tambahnya, kerja sama semua pihak. Seiring sudah ditemukannya jasad Aidil, berarti keenam anggota Mapala Unand terseret arus di Sungai Padangjaniah, pada Sabtu (28/9) lalu, sudah ditemukan. Keenamnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
Kepala BPBD Damkar Budi Erwanto juga menegaskan bahwa semua anggota gabungan, termasuk masyarakat satu tim kesatuan. ”Anggota yang telah hadir di lokasi pun telah bisa dikatakan bekerja. Jadi dalam konteks penemuan kemarin, yang menggali terlihat hanya tiga orang di luar anggota penyelamat, itu merupakan masyarakat yang benar-benar ingin melakukan penggalian sembari menunggu datangnya tim gabungan,” ungkapnya.
Dimakamkan di Bukittinggi
Jenazah putra sulung Wismar itu tiba di rumah orangtuanya, di gang Swadaya Mandiangin, Bukittinggi, sekitar pukul 18.00. Setelah beberapa menit jenazah disemayamkan di rumah duka, langsung dibawa ke Masjid Syukra Mandiangin untuk dishalat dan dimakamkan. Ribuan pelayat terlihat mengantarkan jenazah ke Pandam Pakuburan Budi Mulya di Suraugadang Mandiangin Bukittinggi, sekitar pukul 18.30.
Sebelum kedatangan jenazah, rumah duka sudah dipadati pelayat. Ibunda korban terlihat tegar menunggu kedatangan anak pertama dari tiga bersaudara itu. Begitu pula dengan keluarga dan kerabat lainnya, juga tampak lebih tegar menghadapi musibah. Tak ada komentar pihak keluarga kepada awak media, karena larut dalam suasana duka mendalam. (cr2/y/rpg)
Editor : RP Redaksi