Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Momen Lari untuk Menagih Keadilan Gajah Rahman

Hary B Koriun • Rabu, 16 Juli 2025 | 19:15 WIB

Aktivis lingkungan dan perempuan, Fitriani Dwi Kurniasari, saat mengikuti Riau Bhayangkara Run 2025, Ahad (13/7/2025) lalu dengan membentangkan kampanye untuk gajah Rahman.
Aktivis lingkungan dan perempuan, Fitriani Dwi Kurniasari, saat mengikuti Riau Bhayangkara Run 2025, Ahad (13/7/2025) lalu dengan membentangkan kampanye untuk gajah Rahman.

Sudah setahun setengah, gajah jinak di Fying Squad Tesso Nilo, tewas yang diduga karena diracun. Para aktivis pencinta gajah di Riau sudah melakukan berbagai cara agar kematian Rahman diselidiki secara serius oleh kepolisian sebagai kejahatan lingkungan serius. Kini, mereka mengampanyekan lagi dalam ajang lari Riau Bhayangkara Run 2025 di Pekanbaru.

Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru

SEBUAH komunitas pecinta gajah di Riau, yakni Komunitas For Gajah Rahman, melakukan sesuatu yang unik saat Riau Bhayangkara Run yang diselenggarakan oleh Polda Riau, Ahad (13/7/2025) lalu. Mereka mengikuti kegiatan itu dengan membawa simbol, yakni gajah Rahman, gajah Flying Squad Tesso Nilo yang tewas diduga diracun dalam tugasnya menjaga hutan di kawasan taman nasional tersebut. Mereka membawa semangat dengan nama Run for Rahman dalam lomba lari tersebut.

Menurutnya, aksi ini telah menginspirasi puluhan pelari lain dari berbagai penjuru Indonesia, baik yang hadir langsung maupun yang berlari secara virtual untuk turut serta dalam Run for Rahman. Dan jumlahnya terus bertambah, empat pelari telah menyatakan dedikasinya untuk berlari di ajang Bromo Marathon dan ASN Marathon pada bulan Agustus nanti. Aktor sekaligus produser, Chicco Jerikho, yang terus mendukung pengusutan keadilan untuk Rahman, juga berkomitmen untuk mendedikasikan larinya kepada Rahman.

Dijelaskan oleh aktivis lingkungan ini, Run For Rahman bukan sekadar ajang olahraga. Ini adalah bentuk kepedihan yang diubah menjadi aksi. Ini adalah suara dari warga biasa, bukan lembaga, bukan institusi, yang khawatir jika kasus Rahman dibiarkan begitu saja, ini akan menjadi preseden buruk.

“Jika seekor gajah jinak yang terdaftar resmi sebagai bagian dari taman nasional saja bisa dibunuh tanpa kejelasan hukum, bagaimana nasib gajah-gajah dan satwa liar lainnya yang bahkan tidak punya nama?” ujar Fitriani hari itu ikut lomba lari bersama aktivis lingkungan lainnya, Syamsidar, dan yang lainnya.

“Kami sangat berharap kepada Bapak Kapolda Riau, yang selama ini sangat aktif menyuarakan kepedulian terhadap gajah dan hutan. Kepemimpinan dan komitmen Bapak sangat dibutuhkan untuk memastikan kasus ini tidak berakhir tanpa keadilan. Kami percaya, keadilan untuk Rahman adalah sinyal kuat bahwa kejahatan terhadap satwa liar tidak bisa lagi dibiarkan,” tambah Fitriani lagi.

Lewat lari ini, kata dia, For Gajah Rahman mengajak publik untuk tidak diam dan turut menyuarakan cerita Rahman, juga gajah-gajah lainnya, untuk menunjukkan bahwa kejahatan terhadap satwa tidak boleh dianggap remeh. Seperti diketahui, selain gajah jinak Rahman, ada lebih 11 gajah liar lainnya juga mati di Tesso Nilo. Ada yang dijerat sling jebakan, ditembak, dan sebagainya. Mereka diburu untuk mendapatkan gadingnya.

Sebelumnya, For Gajah Rahman telah melakukan audiensi dengan Direskrimsus Polda Riau Satker IV, bersama selebritas dan pecinta gajah, Chicco Jerikho pada 25 Maret 2024, menanyakan perkembangan proses penyidikan Rahman. Sebelumnya, komunitas ini juga telah menggalang petisi publik untuk mendukung proses penegakan hukum atas kasus Rahman yang mendapat 11.237 dukungan.***

 

 

Editor : Edwar Yaman
#komunitas pecinta gajah #Menagih Keadilan Gajah Rahman #momen lari #Gajah Rahman #for rahman