Duka yang mendalam datang dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Satu jemaah calon haji (JCH) meninggal dunia. Dia adalah Ngadiyem binti Arjo Wiyono (74) asal Desa Geringging Baru, Kecamatan Sentajo Raya. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit Hermina Pekanbaru, Selasa (28/4) pukul 21.00 WIB.
Laporan DESRIANDI CANDRA, Telukkuantan
NGADIYEM binti Arjo Wiyono masuk dalam daftar keberangkatan haji tahun ini bersama JCH Kuansing lainnya. Almarhumah sudah menunggu selama 13 tahun atau sudah mendaftar sejak tahun 2013. Niat itu selangkah lagi terwujud. Namun Allah SWT berkehendak lain.
Saat berkumpul bersama 187 orang JCH Kuansing lainnya di Masjid Agung Raudha Kuansing untuk dilepas langsung oleh Wakil Bupati H Muklisin, Selasa (28/4) itu, tiba-tiba sang nenek rubuh terbaring di saf perempuan karena sesak nafas.
Riau Pos yang berada di dalam masjid tidak melihat jelas sosok perempuan yang dengan cepat dibawa petugas kesehatan dengan mobil ambulans ke RSUD Telukkuantan. Ngadiyem pun akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Hermina Pekanbaru.
Pihak keluarga yang ikut mengantar di Masjid Agung pun kaget. Namun, mereka ikhlas melepas almarhumah yang telah meninggal dunia itu. Bagi pihak keluarga, sosok Ngadiyem adalah orang tua dan nenek yang baik hati.
Pariah Astuti (30), cucu perempuan Ngadiyem dari anak keduanya, tak kuasa menolak kenyataan itu. Apalagi, dia sejak kecil diasuh oleh sang nenek. “Ini adalah kehendak yang kuasa, kami sekeluarga iklas dengan kepergian nenek yang mendadak,” papar Astuti saat dihubungi Riau Pos, Rabu (29/4).
Astuti menuturkan, sejak kecil dia di asuh neneknya. Dia pun selalu membantu neneknya di warung harian di Desa Geringging Baru Kecamatan Sentajo Raya. Baginya, Ngadiyem sosok yang baik hati dan penting baginya selain kedua orang tuanya.
Neneknya (Ngadiyem), kata Astuti, sudah tinggal di Desa Geringging Baru Kecamatan Sentajo Raya menurut orang tuanya sejak tahun 1980. Lewat program transmigrasi yang digulirkan pemerintah pusat kala itu.
Dia bersama suaminya Siswanto pun menjadi anggota KUD Langgeng. Ngadiyem memiliki tiga orang. Anak pertama (perempuan) memilih tinggal tetap di Pulau Jawa. Sedangkan dua orang anak Ngadiyem lainnya juga tinggal di Desa Geringging Baru. “Termasuk ibu saya yang merupakan anak kedua nenek dan paman tingal di sini,” ujar Astuti.
Rencana keberangkatan haji tahun ini, lanjut Astuti, neneknya berangkat sendiri. Sebab suami neneknya Siswanto sudah meninggal dunia pada tahun 2012 lalu. Lalu pada tahun 2013, neneknya Ngadiyem mendaftar haji.
Dana itu, dikumpulkan dari hasil kebun sawit sebagai anggota KUD Langgeng dan warung kelontong (warung harian) miliknya ditambah bantuan keluarga. “Nenek itu semangat dan ingin sekali berangkat haji,” tutur Astuti.
Maka di tahun 2026, neneknya pun mempersiapkan diri, mengikuti rangkaian manasik haji. Memang neneknya Ngadiyem, punya riwayat sakit gula (diabetes) dan tensi yang sering tinggi. Terkadang tensinya sampai 170, namun kemudian kembali stabil.
Setelah menjalani vaksin Covid-19 pada 12 April 2026 lalu, nenek cerita kalau jantungnya sering berdebar-debar kencang tidak seperti biasa. Pada tanggal 17 April 2026, neneknya Ngadiyem, harus dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit di rawat selama empat hari. Dokter menyebutkan kalau ada pembengkakan di jantung. Tetapi kondisi kesehatan nenek pun membaik.
Sehari sebelum keberangkatan, pada 27 April 2026 kemaren, neneknya Ngadiyem cerita ke keluarga. Saat itu semua keluarga berkumpul untuk bersama-sama mengantar keberangkatan di Masjid Agung. “Nenek bilang pada kami semua. Kalau nenek sudah sehat. Dan besok berangkat haji. Tapi kalau nenek nanti wafat di Tanah Suci saat haji, jangan dibawa pulang. Tapi biar di makamkan di Makkah saja,” ujar Astuti.
Baca Juga: Potensi Kebocoran PAD hingga Ratusan Miliar
Ia dan pihak keluarga terdiam dan tetap memberikan semangat pada neneknya. Selasa (28/4) saat acara pelepasan di dalam Masjid Agung Kuansing, neneknya rubuh karena sesak nafas. Lalu dibawa ke RSUD Telukkuantan. Hasil pemeriksaan dokter, terkena serangan jantung, paru dan ginjal yang sudah stadium tiga.
Kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Hermina Pekanbaru. Belum lama di rawat, kondisi nenek terus drop dan akhirnya wafat sekitar pukul 21.00 WIB. Pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa pulang jenazah nenek malam itu juga. Persis sekitar pukul 00.00 WIB, jenazah almarhumah di bawa dari rumah sakit menuju Desa Geringging Baru.
“Rabu (29/4) sekitar pukul 04.00 Wib kami sampai di desa. Pukul 08,00 WIB dibawa ke pemakaman desa untuk di makamkan,” paparnya.
Ditanya soal siapa ahli waris yang akan menerima porsi haji pelimpahan di tahun 2027 mendatang, Astuti menyebutkan kalau pihak keluarga belum memusyawarahkan itu. Sebab masih fokus pada almarhumah nenek dan belum berkonsultasi pada Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kuansing soal tata caranya dan siapa yang boleh menggantikan.
“Kami atas nama keluarga besar Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Kuansing menyampaikan duka yang mendalam atas wafatnya Ibu Ngadiyem salah seorang jemaah kita,” kata Kakan Kemenhaj Kuansing, H Armadis.
Menurut keterangan petugas haji daerah (PHD) Wiwit R Natalia Dedetuwitri, JCH Kuansing Ngadiyem mengalami sesak nafas dan serangan jantung. Ia juga punya riwayat diabetes dan paru. “Jadi sudah komplikasi,” ujarnya.
Jenazah Ngadiyem, lanjut Armadis sudah dijemput pihak keluarga dari rumah sakit Hermina Pekanbaru dan dibawa ke Desa Geringging Baru untuk pemakaman. Kantor Kemenhaj Kuansing, sudah menyampaikan informasi itu pada Kemenhaj Riau pembatalan pemberangkatan dan pengusulan porsi pelimpahan haji pada ahli waris almarhumah yang di tinggalkan. “Porsi haji pelimpahan ini bisa digantikan oleh anak kandung atau saudara kandung almarhumah,” katanya.
Pemberangkatan porsi haji pelimpahan dari almarhumah baru bisa dilaksanakan pada tahun 2027. Karena perlu penyiapan dokumen penerima porsi haji pelimpahan. “Jenazah Ngadiyem yang sampai Rabu dini hari (29/4). Sekitar pukul 09.00 WIBsudah di makamkan di Desa Geringging Baru,”ujar Plt Camat Sentajo Raya, Wandy Gunawan.
Ia bersama kepala Desa, pihak keluarga, masyarakat desa, langsung mengantarkan jenazah almarhumah. Pihak keluarga iklas menerima kondisi ini. Kakan Kemenhaj Kuansing Armadis menyebutkan kalau jumlah JCH Kuansing yang berangkat ke Tanah Suci menjadi 186 orang termasuk satu orang petugas haji daerah (PHD).(das)
Editor : Arif Oktafian