Para aktivis atau relawan Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) bersaksi betapa tidak manusiawinya Israel memperlakukan mereka. Tak terkecuali sembilan aktivis Indonesia yang tiba kembali di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Ahad (24/5).
Laporan JPG, Jakarta
Isak tangis, haru, hingga gemuruh takbir menyelimuti kedatangan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam relawan Global Sumud Flotilla, kemarin. Kedatangan mereka disambut Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah AK Alsattari.
Mereka tiba sekitar pukul 16.20 WIB, dengan membawa bendera Merah Putih kecil di tangannya dan mengenakan keffiyeh, syal khas Palestina, saat keluar dari pintu kedatangan.
Kesembilan WNI yang tiba itu empat di antaranya merupakan jurnalis nasional yakni, Thoudy Badai dan Bambang Noroyono (jurnalis Republika), Andre Prasetyo Nugrono (jurnalis TV Tempo), Rahendro Herubowo (mantan jurnalis Inews), serta lima aktivis kemanusiaan Andi Angga, Herman Budiyanto Sudarsono, Ronggo Wirasono, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo.
Kepulangan mereka mendapat sambutan hangat dari para keluarga yang telah menunggu. Diberitakan sebelumnya, setelah membajak keseluruhan 50 kapal GSF yang menuju Jalur Gaza, Palestina, Senin (18/5) dan Selasa (19/5) pekan lalu, pasukan pertahanan Israel kemudian membawa lebih dari 400 aktivis dari 44 negara yang mereka culik ke Ashdod.
Selama dibawa di atas kapal sampai interogasi di darat inilah kekerasan dalam beragam bentuk dialami para relawan. Dalam kesempatan itu, Herman Budianto menceritakan peristiwa yang dialaminya selama ditangkap dan ditahan tentara Israel.
Ia mengaku mendapat penyiksaan selama empat hari, dengan perlakuan yang sangat keji dari para tentara Israel. “Kami diperlakukan seperti hewan,’’ ujarnya.
Baca Juga: Saat sang Gajah dan Manusia Berbagi Ruang Kehidupan; Harmoni di Tanah Balai Raja
“Kami menyampaikan bahwa penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh IOF itu nyata, sangat keji, sangat brutal, dari mulai proses penculikan sampai dengan proses yang panjang, sekitar empat hari melakukan penyiksaan-penyiksaan,” tambahnya.
Relawan kemanusiaan asal Ponorogo, Jawa Timur, itu mengungkapkan banyak dari korban penyiksaan mengalami luka serius. Menurutnya, tentara Israel tidak memiliki rasa kemanusiaan, dengan tega menyiksa para tawanannya.
“Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah ada sekitar 40 orang, patah tangan, patah kaki, patah hidung, ada yang ditembak dan seterusnya,” bebernya.
Ia pun merasa prihatin atas masifnya kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh tentara Israel kepada para relawan. “Bahkan banyak juga kasus-kasus pelecehan seksual yang diterima, baik laki-laki maupun perempuan ketika proses yang panjang tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, militer Israel menganggap para aktivis kemanusiaan yang ditangkap seperti hewan. Para aktivis yang ditangkap dipaksa berjalan merangkak dan menunduk, tidak boleh menatap wajah-wajah para tentara Israel.
Baca Juga: Hobi yang Jadi Cuan dan Menginspirasi, Budidaya Anggur Beragam Varietas di Paritbaru Kota Siak
“Kami harus berjalan selalu menunduk tidak boleh menatap mereka, kami pun tidur di lantai yang tidak ada selimut, dalam kondisi baju basah,” tuturnya.
Herman tidak kuasa menahan tangis atas berbagai kekerasan yang dialami selama berada di dalam tahanan. Ia menyebut, peristiwa yang dialaminya tidak menjadikannya untuk berbesar hati. Sebab, penderitaan yang dialami warga Palestina lebih perih dari apa yang dirasakannya saat ditangkap tentara Israel.
“Karena saudara kita di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan dengan kami, kami ini hanya debu-debu yang beterbangan, yang tentu tidak patut untuk berbangga, tidak patut untuk merasa penting. Tapi mudah-mudahan ini bisa menggelorakan semangat membebaskan Palestina,” ujarnya sambil menahan tangis.
Penegasan serupa disampaikan jurnalis Tempo Andre Nugroho Prasetyo yang juga ikut dalam rombongan GSF. “Saya bakal kasih lihat ke dunia bahwa penjajahan Israel ke Palestina masih terjadi,” kata Andre yang disambut orang tua dan sejumlah petinggi media tempatnya bekerja di Soetta.
Warsono, ayah Andre, bersyukur anaknya tiba dengan selamat. Dia menceritakan, sebelum berangkat, sang anak sudah memberitahu bahwa medan yang akan diliput adalah zona merah sehingga risikonya sangat besar. “Saya terharu. Tekad anak saya sangat besar,” jelasnya. (wan/ttg/das)
Editor : Arif Oktafian