Andy Liany adalah salah seorang musisi rock legendaris kebanggaan Tanjungpinang yang pernah mewarnai jagat musik Indonesia tahun 90-an. Namanya tertulis dengan tinta emas dalam Hall Of Fame di Kanada.
Laporan: RPG (Tanjungpinang)
MESKIPUN kini Andy Liany yang bernama asli Juli Hendri Saleh Rachim ini telah berpulang ke Rahmatullah, namun nama dan karya-karya musiknya tetap eksis bertahan hingga kini.
Karya-karya lagu Almarhum Andy Liany, tetap mendapatkan tempat tersendiri di hati para penikmat musik rock Indonesia khususnya Tanjungpinang.
Rocker bersuara khas nan melengking ini, memang mempunyai bakat menyanyi sejak kecil. Bakat ini mengalir dari sang kakek dan ayahnya.
Sejak saat itu, rocker kelahiran Tanjungpinang 19 Juli 1964 ini bertekad menjadi musisi terkenal. Lulus dari Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Tanjungpinang, Andy kemudian hengkang ke Bandung melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Kala itu, Almarhum Andy sering mendengarkan musik rock dan lagu-lagu rock dari Janis Joplin hingga band ACDC serta mendengar beberapa band rock lainnya.
Almarhum terus mengasah bakat menyanyi hingga menyelesaikan pendidikan di SMA Pasundan Bandung. Setelah tamat SMA, Almarhum sempat mengenyam pendidikan kedokteran selama dua semester di Universitas Pasundan Bandung, namun tidak selesai.
Hal itu dikarenakan Almarhum Andy Liany telah berpikir matang ingin fokus bermusik dan bertekad ingin menjadi penyanyi dan musisi rock terkenal.
Saat itu pula, Almarhum Andy Liany mengambil keputusan tidak melanjutkan pendidikan kedokteran lnya setelah mendapat restu dan izin dari ibu tercinta.
Almarhum pun mengabadikan kisah restu dan izin ibunya itu dalam sebuah lagu hits berjudul ‘Boleh Ma’. Lagu ini masuk dalam album solo pertamanya berjudul Misteri yang membuat nama Andy berkibar di jagat musik Indonesia.
Andy Liany merupakan anak kedua dari pasangan Almarhum Saleh Rachim dan Almarhumah Masnah Djain. Sang rocker mempunyai kakak perempuan, Sylivia Saleh Rachim. Dua adik laki-laki, Ramadani Saleh Rachim dan Oj Rock Alhafiz Saleh Rachim serta adik bungsu, Jeane Saleh Rachim.
Saat ini, seluruh keluarga besar Almarhum Andy Liany masih menetap dan berdomisili di Tanjungpinang, Kepri. Sementara Oj, mengikuti jejak Almarhum menjadi musisi dan menetap di Jakarta dan Bali.
Karir di Belantika Musik Indonesia
Kepada Batam Pos, Oj (54 tahun) sang adik bercerita. Setelah tidak melanjutkan pendidikan kedokteran, Andy Liany fokus bermusik. Almarhum bertemu dengan seorang guru vokal yakni Aswin Ratumbusang. Gurunya itu mengajari Andy teknik bernyanyi untuk menjadi musisi terkenal.
Selanjutnya, musisi asli Tanjungpinang ini, awalnya bergabung dengan band Chivas bersama Pay (eks Slank) dan Indra Q (eks Slank) pada tahun 1987.
“Jauh sebelum mengenal Pay, Almarhum lebih dulu akrab dengan musisi rock legendaris seperti Ahmad Albar, Totok Tewel, Iwan Fals dan Setiawan Djodi,” ungkap Oj saat berkunjung ke Tanjungpinang.
Kemudian, seiring berjalannya waktu, Chivas mengikuti kontes Djarum Fiesta Music Contest tahun 1987 yang diikuti oleh band rock dari seluruh Indonesia.
Pada kontes tersebut, Chivas keluar sebagai band terbaik pertama di seluruh Indonesia dengan membawa lagu berjudul ‘Jumpa Ceria’ dan ‘Kata Cinta’.
“Dari kontes musik itu nama Andy Liany mulai berkibar di belantika musik Indonesia,” kata Oj yang merupakan pemegang Hak Cipta seluruh karya Andy Liany.
Pada tahun 1990, Almarhum tergabung bersama proyek band yaitu Z Liar. Bersama band ini Andy menyayikan tiga lagu yaitu ‘Fitna’, ‘Tragedi’ dan ‘Cacing Tanah’.
Almarhum juga bergaul di Gang Potlot, Jakarta yang merupakan markas band Slank dan musisi lainnya. Almarhum bahkan pernah menyumbangkan suara khasnya.
Andy, kata Oj, turut menyumbangkan suara lengkingan khasnya saat menjadi backing vocal pada lagu ‘Suit-Suit He-He (Gadis Sexy)’ dan ‘Ladies Night di Ebony’ di album pertama Slank pada tahun 1990.
“Pada masa-masa itu, Almarhum melihat potensi saya dan meminta saya untuk mengikuti kursus musik di Elfa Music School di Bandung,” kata Oj yang juga seorang penyanyi dan pencipta lagu.
Almarhum Andy juga sempat menjadi vokalis pengganti sementara band Elpamas menggantikan posisi Ecky Lamoh (eks Edane) yang saat itu tengah menyelesaikan suatu urusan.
Kemudian Almarhum bertemu penulis lagu terkenal kala itu yakni Lief AR. Saat itu, Lief menuliskan lagu pertama untuk Almarhum Andy Liany berjudul ‘Satu Cita’ pada 1991.
Almarhum juga bergabung dalam proyek musik Pay dan Dedi Dores bernama Fargat 727 bersama Pay (eks Slank), Once (Eks Dewa) dan Ronald (eks Gigi).
Bersama Fargat 727, Andy Liany, Pay dan Once merilis beberapa single lagu dalam kompilasi berjudul ‘Seribu Angan’ pada tahun 1991.
Tak lama kemudian, Almarhum membuat proyek rock solo dan sejumlah musisi Indonesia bergabung bersamanya yakni Pay (gitar), Thomas (bass) dan Ronald (drum).
Lalu terbitlah album solo pertamanya yaitu Misteri yang mengguncang jagat musik Indonesia, pada tahun 1993 dengan hit lagu berjudul ‘Sanggupkah’.
“Beberapa lagu di album Misteri, salah satunya lagu Kata Cinta terinspirasi dari masa kecil Almarhum di Tanjungpinang. Almarhum menciptakan lagu itu saat sering nongkrong dan mandi di tepi laut Tugu Pensil,” jelas Oj.
Tak hanya itu, dalam album pertama ini, suara khas yang melengking 4 oktav juga ia tunjukkan pada beberapa judul lagu seperti ‘Brother Jack’, ‘Bukan Itu’ dan ‘Boleh Ma’.
Album Misteri produksi Win Records kemudian membawa nama Andy Liany dengan suara khasnya semakin berkibar di belantika musik Indonesia.
“Album Misteri itu, sesuai dengan karakter Almarhum yang penuh misteri. Lagu-lagu yang ada di album itu kisah nyata dan merupakan pengalaman hidup Almarhum,” ungkap Oj.
Tak hanya itu, lanjut Oj, lagu hits album Misteri berjudul ‘Sanggupkah Aku’ juga mendapat penghargaan bergengsi BASF Awards The Best Selling Album pada tahun 1993.
Musisi Rock N Roll ini juga mendapat penghargaan sebagai musisi pendatang baru dan Vocalist Rock Alternative Indonesia kategori BASF Award 1993.
“Album pertama ini meledak di pasaran dan terjual hingga 1,7 juta copy,” tambah Oj.
Pada tahun 1994, Almarhum kembali meluncurkan album keduanya berjudul Antara Kita dengan hit lagu berjudul ‘Antara Kita’.
Sejumlah lagu dengan teknik vokal yang khas dan unik menghiasi album solo kedua seperti lagu ‘Mimpi Burukmu’, ‘Sakau’ dan ‘Jampi’.
Selain itu, namanya juga masuk dalam Hall Of Fame di Kanada bersama musisi dari berbagai belahan dunia karena nama Almarhum sangat berpengaruh kala itu.
Meskipun meraih kesuksesan, Almarhum tetap terkenal dengan kepribadiannya yang pendiam, ramah dan murah senyum serta bergaul dengan semua kalangan.
“Abang saya itu orangnya pendiam tapi peduli sama siapa saja, sederhana dan dia itu ramah orangnya,” kenang Oj.
Meskipun berada di puncak kesuksesan dan di sela-sela kesibukannya, Oj mengungkap bahwa almarhum mempunyai usaha lain yaitu usaha jasa katering.
“Walaupun seorang rocker berambut gondrong, dia itu koki. Almarhum itu pintar memasak. Punya usaha katering, Almarhum sendiri yang memasak,” ungkap Oj.
*Kisah Sukses di Jagat Musik Indonesia Berakhir
Oj Rock melanjutkan ceritanya. Sebelum pergi untuk selama-lamanya, Almarhum pernah berpesan kepadanya untuk tetap berkarya dan menjadi diri sendiri.
Almarhum berpesan kepada Oj, untuk menjadi seorang musisi sejati, maka harus mempunyai komitmen, sikap rendah hati dan tidak sombong.
“Almarhum pesan, menjadi musisi harus pandai bergaul secara positif. Yang jelas Almarhum itu bangga jadi anak Pinang (Tanjungpinang),” katanya.
Oj melanjutkan, saat berada di puncak karir bermusik, kisah sukses Andy Liany berakhir. Pada 24 Juli 1995, kabar duka menyelimuti dunia musik rock Indonesia.
Rocker Tanjungpinang yang saat itu berusia 31 tahun, dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Andy Liany mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpangi bersama rekan-rekannya dari Pasar Minggu Jakarta Selatan, menabrak pohon di kawasan jalan Tol Karawang Jawa Barat.
“Sebelum pergi itu, saya masih ingat kata-kata terakhirnya. Dia cuma bilang ke saya mau pergi beli beras dan ayam kampung. Almarhum mau masak untuk menjamu teman-temannya,” kata Oj.
Jenazah Andy Liany, sempat disemayamkan di rumah duka kawasan Cireundeu Tangerang sebelum pihak keluarga membawa jenazah Andy ke Tanjungpinang.
“Saat itu, rekan-rekan artis dan musisi meminta keluarga untuk disemayamkan di Tangerang terlebih dahulu, sebagai penghormatan terakhir,” jelas Oj.
Setelah jenazah tiba Tanjungpinang dengan pesawat khusus, ribuan masyarakat dan penggemar penggemar musik rock, mengiringi kepergian musisi rock Indonesia itu.
Keluarga memakamkan Almarhum di tempat peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Taman Bahagia Tanjungpinang.
Oj menambahkan, kala musibah itu menyelimuti dunia musik Indonesia, Almarhum Andy Liany tengah menggarap lagu-lagu untuk album solo ketiganya.
Saat itu, hanya beberapa lagu untuk album ketiga yang selesai rekaman yaitu lagu hit berjudul ‘Ingin Rasanya’ dan ‘Aku Vs Kamu’.
“Almarhum mulai taat beribadah dan sebenarnya akan menikah dengan seorang desainer yang kini menetap di Eropa. Rencana itu setelah album ketiga selesai. Tapi takdir berkata lain,” jelas Oj.
Sebagai bentuk penghormatan kepada sang legenda dunia musik Indonesia, album ketiga Almarhum yang berisi beberapa lagu dari album pertama dan kedua, tetap meluncur yaitu Cendera Mata.
Meskipun telah tiada, namun suara khas Almarhum Andy Liany, tetap ada untuk menghibur penikmat musik rock Indonesia. Karya-karya musiknya, tetap abadi dan menjadi motivasi serta inspirasi para musisi Indonesia saat ini.
“Almarhum adalah ikon Tanjungpinang. Almarhum pernah bilang ke saya, anak-anak Tanjungpinang rata-rata punya bakat dan potensi di bidang seni. Karena itu yakinlah dengan potensi yang ada dan jadilah diri sendiri,” terang Oj.
Untuk mengenang kiprah Andy Liany di dunia musik Indonesia, Oj juga berencana menggelar Andy Liany In Memoriam 29th Live Concert di Batam dalam waktu dekat.
“Ini baru rencana untuk tahun 2024. Mudah-mudahan terselenggara,” tutup Oj yang kini disela-sela kesibukannya, menjadi koki di restoran Singapura.
Laporan: RPG (Batam)
Editor : RP Edwir Sulaiman