Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Hubungan AS-Cina Mulai Cair

Redaksi • Minggu, 13 Juli 2025 | 12:39 WIB
Menlu AS Marco Rubio
Menlu AS Marco Rubio

KUALA LUMPUR (RIAUPOS.CO) - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China akibat perang tarif mencapai babak baru yang positif. Hal itu tampak dari pertemuan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio dengan Menlu China Wang Yi di Malaysia, Jumat (11/7). Salah satu hasilnya adalah mewujudkan rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.


AS dan China juga sepakat untuk meningkatkan komunikasi. “Kami bahkan akan membuat beberapa pengumuman lagi tentang peningkatan kemitraan strategis,” ujar Rubio dalam pernyataan resmi yang dirilis state.gov. Rubio tidak menampik bahwa sikap Washington terkait tarif impor bisa melunak. Sebab, tarif tersebut baru diberlakukan pada 1 Agustus 2025. Sebelum tanggal tersebut, AS siap bernegosiasi dengan negara-negara yang terdampak.

Rubio juga menyebutkan bahwa pertemuan dengan Menlu China Wang Yi sangat konstruktif. Pernyataan itu bahkan dia ulangi sampai enam kali. Dia menegaskan, Trump dan Xi Jinping sebenarnya memiliki riwayat hubungan yang baik. Jika ada ketegangan, dia menganggap hal wajar.

”Kami mengakui ada beberapa masalah yang harus diselesaikan, tidak hanya perdagangan, tetapi juga masalah lainnya, tetapi saya pikir ini adalah pertemuan yang sangat konstruktif dan positif dan memberi kami banyak hal untuk dikerjakan,” bebernya.

Rubio juga menyebut, Xi Jinping dan Trump sama-sama ingin bertemu secara langsung. Karena itu, saat ini dua negara sedang berusaha mengatur jadwal pertemuan tersebut. Namun, tanggalnya belum bisa ditentukan.

ASEAN Foreign Ministers Meeting

Rubio dan Wang Yi bertemu dalam forum ASEAN Foreign Ministers Meeting atau pertemuan menteri-menteri luar negeri (menlu) ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah negara ASEAN yang terkena kebijakan tarif Trump.

Seperti diketahui, pada akhir pekan lalu beberapa negara ASEAN mendapatkan surat dari Presiden Trump terkait penerapan tarif impor. Dilansir dari Al Jazeera, bea sebesar 25 persen dikenakan untuk Malaysia, 32 persen untuk Indonesia, 36 persen untuk Kamboja dan Thailand, serta 40 persen untuk Laos dan Myanmar. Hanya Vietnam yang sudah dapat keringanan tarif impor karena berhasil berdiplomasi dengan Trump.

Dampak dari penerapan tarif itu membuat negara-negara ASEAN mencari alternatif tujuan ekspor baru. Salah satunya dengan Cina. Karena itu, tidak heran jika Wang sangat antusias menghadiri acara di Malaysia. “Cina akan selalu dapat diandalkan untuk menjaga stabilitas dunia dan mitra bagi negara-negara ASEAN,” kata Wang seperti dilansir dari fmprc.gov, website Kemenlu China.

Wang menyatakan kesiapan negaranya untuk memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara Asia Tenggara melalui pembentukan China-ASEAN Free Trade Area Version 3.0. Inisiatif ini bertujuan mendorong kerja sama saling menguntungkan di tengah dinamika global yang terus berubah. Kerja sama ini akan difokuskan pada implementasi berkualitas dari Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), serta penguatan rantai industri dan pasokan yang saling terhubung.

“Cina siap bekerja sama dengan ASEAN untuk membangun Zona Perdagangan Bebas Cina-ASEAN versi 3.0, mendorong implementasi RCEP yang berkualitas tinggi, dan menciptakan jaringan perdagangan bebas tingkat tinggi,” ujarnya.

Wang juga menegaskan bahwa inisiatif Belt and Road akan tetap menjadi platform utama kerja sama. Terutama dalam konektivitas infrastruktur dan pengembangan sektor energi bersih, transformasi digital, serta kecerdasan buatan (AI).

Cina juga mengapresiasi komitmen ASEAN dalam menjaga sistem perdagangan bebas dan multilateral. Menurut Wang, segala perbedaan ekonomi dan perdagangan sebaiknya diselesaikan lewat dialog setara yang mengedepankan prinsip saling menghormati dan menguntungkan, tanpa merugikan negara ketiga mana pun.

Pertemuan menteri-menteri luar negeri ASEAN itu menjadi lawatan pertama Rubio ke ASEAN. Ada dugaan bahwa kedatangan Rubio untuk meyakinkan bahwa hubungan Amerika dengan ASEAN baik-baik saja. Rubio juga membenarkan bahwa pertemuan itu membicarakan isu perdagangan dan tarif. Namun, dia membantah jika kebijakan tarif impor AS disebut menciptakan peluang bagi Tiongkok. “Kami tidak memandang ini (tarif Trump, red) sebagai peluang bagi siapa pun. Kami tidak memandangnya seperti itu. Kami memandangnya sebagai peluang untuk mengatur ulang perdagangan global dengan cara yang adil bagi rakyat Amerika,” ucapnya.(lyn/oni/jpg)

Editor : Bayu Saputra
#AS China #Belt And Road Initiative #ASEAN 2025 #Diplomasi Ekonomi #Perang Tarif