JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Aksi kekejaman dipertontonkan oleh aparat Israel. Mereka memaksa ratusan aktivis pro-Palestina berlutut dengan tangan terikat usai mencegat kapal bantuan menuju Gaza.
Aksi ini pun memicu gelombang kecaman internasional. Kontroversi makin membesar setelah video penahanan itu diunggah langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.
Flotilla atau armada bantuan kemanusiaan itu sebelumnya dicegat pasukan Israel di perairan internasional Selasa (20/5), sebelum seluruh peserta dibawa ke pelabuhan Israel untuk ditahan.
Dalam video yang beredar dan kemudian viral di media sosial X pada Rabu (21/5), terlihat ratusan aktivis duduk berbaris di area pelabuhan dengan tangan diikat ke belakang menggunakan kabel ties. Sebagian dipaksa berlutut di tanah sambil diawasi aparat bersenjata, diperlakukan kejam bak binatang.
Disebutkan total ada sekitar 430 aktivis dari 40 negara yang ikut dalam misi tersebut, termasuk warga Italia dan Korea Selatan. Mereka berangkat dari Turki selatan untuk mencoba menembus blokade Gaza dan mengirim bantuan kemanusiaan.
"Mereka datang sebagai pahlawan besar. Lihat mereka sekarang. Tidak lagi jadi pahlawan dan bukan apa-apa," kata Ben-Gvir dalam video tersebut sambil membawa bendera Israel besar.
Ben-Gvir dengan bangga mengunggah video penahanan sambil menyindir para aktivis. Dalam video lain, seorang aktivis perempuan terlihat dijatuhkan ke tanah setelah meneriakkan slogan "Free, free Palestine".
Namun menteri-menteri Israel tidak semua seperti Ben-Gvir. Ada juga yang punya rasa kemanusiaan. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menilai tindakan Ben-Gvir justru merusak upaya diplomatik negaranya.
"Anda telah menghancurkan upaya besar, profesional, dan berhasil yang dilakukan begitu banyak pihak, mulai dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan lainnya," tulis Saar.
Baca Juga: Iran Tak Gentar Bertempur Lawan AS, Mayjen Hatami: Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga ikut menjaga jarak dari aksi kontroversial tersebut. Meski membela hak Israel untuk mencegat kapal bantuan menuju Gaza, Netanyahu menilai perlakuan terhadap para aktivis tidak mencerminkan nilai Israel. "Perlakuan itu tidak sesuai dengan nilai dan norma Israel," ujar Netanyahu meski sebatas retorika saja.
Netanyahu menambahkan bahwa pemerintah telah menginstruksikan agar para aktivis segera dideportasi. Israel sendiri bersikeras bahwa blokade laut terhadap Gaza sah secara hukum.
Pemerintah Israel juga menyatakan seluruh peserta flotilla telah dipindahkan ke kapal Israel dan akan diberi akses bertemu perwakilan konsuler masing-masing. Namun kelompok hak asasi manusia Israel, mengatakan para aktivis kini ditahan di pelabuhan Ashdod dan tengah mendapat pendampingan hukum.
Baca Juga: Prabowo Sentil Oknum ”Hijau” dan ”Coklat” Jadi Beking Koruptor
Adapun misi flotilla ini menjadi upaya terbaru menembus blokade Gaza setelah sejumlah misi sebelumnya juga dicegat Israel. Organisasi kemanusiaan internasional menyebut bantuan ke Gaza masih sangat terbatas meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah berlaku sejak Oktober 2025.
Sebagian besar dari lebih 2 juta penduduk Gaza kini hidup mengungsi di bangunan hancur, tenda darurat, dan area terbuka akibat perang berkepanjangan.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi