KAMPAR (RIAUPOS.CO) – Sekitar 30 ton ikan ditemukan mati secara mendadak di aliran Sungai Tapung yang melintasi Desa Sekijang, Desa Kota Garo, dan Desa Koto Aman, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, pada Senin (30/3/2026). Menindaklanjuti laporan warga, Polsek Tapung Hilir bersama tim gabungan langsung turun ke lokasi pada Selasa (31/3/2026) sore untuk menyelidiki dugaan pencemaran yang berpotensi mengancam sumber air utama masyarakat setempat.
Tim gabungan yang terdiri dari pihak kepolisian, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kampar, aktivis lingkungan, serta masyarakat melakukan pengecekan menyeluruh di sepanjang aliran Sungai Tapung dengan menggunakan perahu.
Dalam kegiatan tersebut, Kapolsek Tapung Hilir diwakili oleh Kanit Intelkam Aipda Ardian bersama anggota. Turut hadir Kabid Penataan Lingkungan Hidup Kabupaten Kampar Erinaldi, Ketua DPC Laskar RMRB Kabupaten Kampar Zepril Padela, perwakilan Laskar Pemerhati Lingkungan Kecamatan Tapung Hilir Fiktor Hutagaol, serta masyarakat Desa Sekijang.
Baca Juga: Sektor Swasta Diimbau WFH Jumat
Kapolsek Tapung Hilir AKP Khairil mengatakan pihaknya segera merespons laporan masyarakat karena Sungai Tapung merupakan sumber kehidupan warga sekitar.
“Kami langsung menindaklanjuti laporan masyarakat terkait banyaknya ikan mati di Sungai Tapung. Sebagai aparat yang bertugas menjaga keamanan dan kesejahteraan masyarakat, kami perlu memastikan penyebab kejadian ini. Kerja sama dengan berbagai pihak sangat penting untuk mengetahui penyebab pastinya,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Tim gabungan juga melakukan pengambilan sampel air di tiga anak sungai yang bermuara ke Sungai Tapung. Yaitu Anak Sungai Kompe, Anak Sungai Banau, dan Anak Sungai Doliek. Pengambilan sampel dilakukan untuk mengetahui kualitas air yang diduga menjadi salah satu faktor penyebab kematian massal ikan.
Baca Juga: Masyarakat Desa Kuala Panduk Pelalawan Dambakan Perbaikan Jalan
Berdasarkan hasil pengecekan awal di lapangan, suhu air masih dalam kondisi normal dan tingkat kekeruhan air juga berada dalam batas wajar. Kadar oksigen terlarut (DO) tercatat sekitar 3 mg/L dan masih dalam batas toleransi. Namun, pemeriksaan kandungan zat kimia lainnya masih menunggu hasil uji laboratorium dari DLH Kabupaten Kampar.
Meski beberapa parameter menunjukkan kondisi normal, tim menemukan banyak ikan mati yang sudah mulai membusuk di sepanjang aliran Sungai Tapung. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sungai tersebut merupakan sumber air penting bagi kebutuhan konsumsi, pertanian, serta aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
“Kami masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab kematian ikan. Sungai Tapung memiliki peran penting bagi masyarakat, sehingga perlu segera ditemukan solusi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Erinaldi.
Berdasarkan informasi yang berkembang di lapangan, di bagian hulu Sungai Tapung terdapat pabrik kelapa sawit dan area perkebunan milik PT Buana Wira Lestari (BWL) yang saat ini sedang melakukan kegiatan replanting. Pohon sawit yang diremajakan dikubur dan diberi bahan kimia tertentu. Masyarakat menduga bahan tersebut berpotensi mencemari aliran Sungai Tapung.
Baca Juga: Diduga Tercemar Limbah, Puluhan Ton Ikan Mati Mendadak
Saat ini, dugaan tersebut masih dalam tahap penyelidikan dan menunggu hasil uji laboratorium resmi dari DLH Kabupaten Kampar.
Tim gabungan berharap hasil pemeriksaan laboratorium dapat segera diketahui agar langkah penanganan yang tepat dapat dilakukan guna menjaga kelestarian lingkungan serta melindungi sumber kehidupan masyarakat Tapung Hilir.(kom)
Editor : Edwar Yaman