Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kenalkan Cara Perempuan Melayu Pakai Kebaya Labuh Kekek, Mengolah Makanan Berbahan Sagu hingga Tengkah Ayun Tari Zapin, Ini Upaya PPMP dan PR LAMR

Redaksi • Senin, 4 Agustus 2025 | 09:40 WIB

 

Komunitas PPMP dan PR LAMR foto bersama mengenakan pakaian melayu Kebaya Labuh Kekek pada kegiatan rutin bulanan yang digelar akhir Juli 2025.
Komunitas PPMP dan PR LAMR foto bersama mengenakan pakaian melayu Kebaya Labuh Kekek pada kegiatan rutin bulanan yang digelar akhir Juli 2025.

 PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Khasanah dan kekayaan budaya Melayu Riau, menurut Komunitas Perhimpunan Perempuan Melayu Pekanbaru (PPMP) perlu terus diperkenalkan. Bersama dengan Perempuan Lembaga Adat Melayu Riau (PR LAMR), mereka mengenalkan cara perempuan Melayu memakai Kebaya Labuh Kekek, kemudian mengolah makanan berbahan sagu hingga Tengkah Ayun Tari Zapin.

Kebaya Labuh pun, dipakai oleh komunitas PPMP dan PR LAMR pada kegiatan rutin bulanan yang digelar akhir Juli lalu. Pertemuan bulanan dilaksanakan di kediaman Hj Wan Faizah, AMd di Jalan Kubang Raya.

Informasi mengenalkan berbagai kekayaan kebudayaan melayu ini diungkapkan Ketua Komunitas PPMP Dr Marhamah, SPd MEd, kepada Riaupos.co pada awal Agustus 2025.

Menurut Marhamah, kegiatan diawali dengan membaca Al-Qur'an dan doa. Pantun turut disajikan oleh pembawa acara, serta laporan panitia hingga menyampaikan sambutan-sambutan sepatah dua patah kata dari narasumber juga diawali dengan pantun melayu.

"Pada kegiatan yang kita gelat bersama PR LAMR, berikut sosialisasi pakaian perempuan melayu kebaya labuh kekek yang disampaikan oleh puan Hj Dinawati, SAg MM selaku ketua PR LAMR Provinsi Riau, kemudian pengenalan dan praktek tengkah ayun tari zapin oleh puan Baiduri Zam, SH MSi yang merupakan timbalan ketua PR LAMR dan pengenalan cara mengkonsumsi bahan makanan dari sagu yang dipaparkan oleh puan R Arbaiyah, SPd dan puan Hj Wan Faizah, AMd," beber ketua panitia.

Dijelaskan Marhamah, dimana Hj Dinawati, SAg MM dalam kesempatam tersebyt menyampaikan tentang kebaya labuh kekek. Dimana kebaya labuh kekek digunakan perempuan melayu dengan ketentuan 4 jari dibawah lutut, kemudian 20 cm lingkar lengan bawah. Sementara ukuran baju dari badan kira-kira 10 cm.

"Beliau mengimbau agar puan-puan mulai mensosialisasikan baju kebaya labuh kekek sesuai yang diajukan Pemprov Riau untuk mendapatkan WBTB di UNESCO," jelas Marhamah.

Selanjutnya, narasumber R Arbaiyah, SPd dan Hj Wan Faizah, AMd memaparkan tentang makanan khas olahan dari sagu. 

Dikatakan, Sagu dapat diolah menjadi beberapa jenis makanan dan minuman. Jenis makanan yang dikenalkan pada kegiatan tersebut antara lain yakni kepuron, sempolet siput, gobak, lempeng, kue ongol-ongol, bubur bedegub dan sebagainya. 

Pada kesempatan tersebut R Arbaiyah, SPd mengenalkan cara menangkup sagu. Hal ini tentu sudah langka dan perlu untuk terus dikenalkan kepada generasi muda agar kelestariannya terjaga. 

"Beliau berharap agar menangkup sagu dapat direalisasikan di kedai-kedai makan yang ada di Pekanbaru dan seluruh kabupaten/kota di Riau. InsyaAllah bulan Agustus nanti PPMP akan mendemonstrasikan memasak dari bahan sagu sempena HUT RI ulang tahun Riau)," timpal Hj Wan Faizah, A Md diceritakan Marhamah.

Tak kalah menarik, selanjutnya ada pemaparan tentang Tengkah Ayun Tari Zapin, disampaikan Baiduri Zam SH MSi. Dikatakan, Tari zapin ini memiliki ciri khasnya yakni tangan kurang digerakkan, dimana kaki yang lebih banyak bergerak. Tengkah Tari zapin ini terdiri dari lebih kurang 15 macam. 

"Pada kegiatan ini, puan Baiduri yang didampingi langsung oleh penarinya mengenalkan tengkah alif dan tengkah lainnya (tengkah kongkang). Alhamdulillah, seluruh puan-puan yang hadir dapat mengikuti gerakan yang diajarkan oleh penari," sambung Dr Marhamah.

Sementara itu Ir Hj Embung Megasari Zam, MSi, CPEC CEHt sebagai pensehat PR LAMR Provinsi Riau menyampaikan pandangannya tentang model Kebaya Labuh yakni Kekek. 

Diungkapkan, Kekek ini berada di bawah ketiak yang lurus hingga ke bawah sepanjang baju. Lengannya lebar. panjang baju tergantung pada usia. 

Nah, biasanya usia remaja batas panjang baju pada lutut. jika sudah menikah, maka panjang baju dibawah lutut. Bahkan usia sepuh, panjang baju semakin ke bawah hingga menyamai batas rok. 

Menurut Baiduri Zam pula menambahkan, baju kebaya labuh berbeda dengan baju kebaya lainnya. Salah satunya pada hiasan yang biasa dipakai peniti yang disematkan pada baju bahagian depan dengan ukuran peniti yang sama bentuk dan besar atau ukurannya. 

"Orang tua dulu penitinya mirip seperti koin emas. Pada masa sekarang ini jarang ditemui," ulasnya. 

Selain itu, penghias pada bagian kepala bernama Tudung Manto. Tudung Manto ini mirip selendang yang transparan menutup kepala. 

Dalam kegiatan ini, para narasumber mengimbau agar menggunakan pakaian melayu perempuan dalm kehidupan sehari-hari.

Padu padannya, dijelaskan pula, dimana biasanya Baju Kebaya Labuh disanding dengan Kain Tenun Songket yang dipakai ketika acara resmi sedangkan pakaian-pakaian harian, kebaya labuhnya bermotif bunga-bunga dan tidak pakai songket. 

Kemudian, model roknya lipat sarung, namun kadang kala ada yang memakai model rok lipat disamping selain lipat sarung, tergantung pada seleranya si pemakai.

 

Pada akhir kegiatan, Ketua PPMP mengimbau agar masyarakat Pekanbaru khususnya dan Riau umumnya untuk membiasakan memakai pakaian melayu baik dalam situasi resmi maupun tidak resmi sehingga warisan budaya terjaga kelestariannya hingga mendatang. 

Begitu juga dengan juadah melayu baik yang berbahan dasar sagu maupun tidak agar disosialisasikan lebih luas kepada masyarakat.

Sebab sagu ini merupakan penghasil dan pengolahan bahan makanan pokok yg terbesar dari Riau di Indonesia. 

Demikian pula Tari zapin dengan tengkah dan ayunannya, diharapkan dapat dilatih kepada kaum muda maupun tua. 

PR LAMR kedepannya akan memfasilitasi bagi siapa saja yang ingin berlatih tari zapin dan tentunya kegiatan komunitas ini perlu dukungan dari berbagai pihak khususnya LAMR. 

"Mari berkunjung ke LAMR khususnya di teras ekraf PR LAMR Provinsi Riau yang beralamat di Jalan Diponegoro. Teras gerai ini menyediakan oleh-oleh khas Riau untuk dibawa pulang ke kampung halaman bagi para pelancong atau tamu-tamu penting pemerintah/swasta serta masyarakat Riau lainnya," pungkasnya.

Editor : Eka G Putra
#budaya melayu riau #olahan sagu #Makanan dari sagu #Pakaian perempuan melayu #Tengkah ayun tari zapin #tari zapin #Perhimpunan Perempuan Melayu Pekanbaru PPMP #Kebaya labuh kekek #Perempuan LAMR #Makanan olahan sagu