Tak hanya menjadi tempat seleksi untuk mengikuti Peksiminas, Peksimida Riau juga menjadi ajang bagi regenerasi dunia seni Riau di masa depan.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - SUASANA kontras terlihat di dua ruangan Gedung Integrated Classroom (IC) Universitas Riau (Unri), pagi itu, Sabtu (4/7/2026) lalu. Di ruang digital utama lantai satu, terlihat seorang mahasiswa, Mikaelo Noell Alva Sudarmo, sedang membaca sebuah puisi. Dengan penghayatan yang mendalam dan artikulasi suara yang dipadukan gaya panggung yang menawan, dia berusaha menarik perhatian dua juri dalam lomba baca puisi itu, Monda Gianes dan Fedli Aziz. Keduanya menjadi juri untuk lomba baca puisi putra-putri dan monolog dalam helat Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Riau tersebut.
Tak jauh dari ruangan itu, di ruang gedung seberang, sastrawan Marhalim Zaini yang menjadi juri lomba menulis cerpen, naskah lakon, dan puisi, ditemani salah seorang panitia dari UKM Batra, duduk di depan ruangan sambil mengamati para peserta yang sedang menulis. Tak ada suara keras seperti di ruang sebelahnya. Yang terlihat dan terasa hanya kesunyian, dengan sesekali terdengar suara keyboard laptop masing-masing peserta yang sedang mengetik.
Khusus untuk loma menulis ini, para peserta dari berbagai universitas di Riau diharuskan mengetik langsung karyanya di ruangan selama lebih kurang 5 jam. Mulai pukul 08.30 WIB hingga siang. Mereka diwajibkan membawa laptop masing-masing, mematikan jaringan internet dan gawai mereka dikumpulkan oleh panitia. Larangan penggunaan jaringan internet ini agar peserta menulis dari pikirannya sendiri, tidak mencari dan mencuri ide lewat pencarian di Google, dan tidak menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam menulis naskah kreatifnya.
“Juknis dari pusat memang melarang penggunaan internet untuk mencegah peserta melakukan plagiasi, baik sebagian maupun keseluruhan, juga menghindari penggunaan AI,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Peksimida di Unri, Popy Kurniawan MPd, kepada Riau Pos, Jumat (3/7), sehari sebelumnya, saat acara pembukaan dan technical meeting (TM).
Baca Juga: Diskusi Buku Puisi Joni Hendri, Pancang-Pancang Ingatan; Sebuah Cara Memaknai Sejarah Riau
Menurut lelaki yang biasa dipanggil Pay Lembang (nama penanya) ini, karena para juara pertama nanti akan dikirim untuk mengikuti Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) di Jember, Jawa Timur (Jatim), pada September 2026, maka standar yang dipakai panitia adalah petunjuk teknis (juknis) dari panitia Peksiminas. Ini agar mereka menyesuaikan dengan penyelenggaraan tingkat nasional.
Menurut dosen FKIP Unri ini, memang ada kegiatan yang ada dalam juknis yang tidak dilakukan di Peksimida ini. Misalnya, untuk cabang penulisan (cerpen, naskah lakon, dan puisi), dalam juknis ditentukan waktu penulisannya 8 jam yang dalam penyelenggaraan nasional diberlakukan. Juga ada sesi saharian penuh peserta dibawa ke luar ruangan untuk melakukan riset atau mencari inspirasi sesuai tema penulisan. Dalam Peksimida tingkat Riau ini, waktu penulisan hanya 5 jam. Juga tak ada sesi eksplorasi ke luar ruangan. Kata Pay, keterbatasan panitia penyelenggara membuat hal itu tak dilakukan.
“Namun, pada prinsipnya, tak menyalani juknis. Hanya menyesuaikan,” ujar penulis naskah dan sutradara teater yang kini sedang menempuh program doktoral di Unri ini.
Baca Juga: Artists-Art Fair Pekanbaru Suguhkan Pertunjukan Kreativitas Seniman Sumatera dan Jawa
Sementara itu, penanggung jawab Peksimida Riau di Unri, Imam Rahmatullah MPd, menjelaskan, selain Unri yang menjadi tuan rumah lima cabang seni, Peksimida tingkat Riau juga diselenggarakan di tiga universitas lainnya. Yakni di Universitas Islam Riau (UIR) yang memperlombakan cabang seni tari dan solo song (pop, dangdut, keroncong, dan seriosa). Kemudian Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) memperlombakan fotografi. Yang terakhir Universitas Hang Tuah yang memperlombakan cabang lukis, komik strip, dan desain poster. Peksimida Riau di tiga universitas itu akan diselenggarakan paling lambat akhir Juli ini.
“Diharapkan Peksimida Riau cepat selesai, paling lama akhir Juli 2026 ini karena September seluruh juara akan berangkat ke Peksimida di Jember. Tentu mereka perlu persiapan yang lebih matang lagi,” kata Imam yang merupakan dosen Pendidikan Olahraga di FKIP Unri dan Staf Ahli Wakil Rektor III Unri tersebut.
***
SAAT acara pembukaan sehari sebelumnya, Jumat, Ketua Umum Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Riau, Prof Dr Hermandra MA, menjelaskan, Peksimida adalah perlombaan berbagai cabang seni mahasiswa di Riau. Juara pertama masing-masing cabang seni akan dikirim mengikuti Peksiminas, yang tahun ini akan diselenggarakan di Jember, Jatim.
Kata dia, gelaran Peksimida ini, di samping sebagai ajang prestasi tingkat Riau, juga sebagai ajang paling fair seleksi siapa yang paling berhak ikut Peksiminas berdasarkan prestasi yang didapatkan sang mahasiswa. Sebagai penyelenggara, dia dan panitia berusaha menyelenggarakan Peksimida ini secara jujur dan terbuka. Akuntabilitas ini, katanya, sangat penting agar siapa pun yang menjadi juara pertama dan terpilih mewakili Riau di Peksiminas, benar-benar teruji dari seleksi yang benar.
“Misalnya, sebagai pejabat di Unri, saya tak bisa mengintervensi siapa-siapa yang akan menjadi juara meskipun saya sebagai ketua BPSMI. Misalnya menggunakan kekuasaan saya dengan menitipkan mahasiswa Unri untuk menjadi juara. Saya ingin penjurian dilakukan dengan jujur dan terbuka. Siapa yang menurut juri yang terbaik, dia harus dimenangkan. Meski penyelenggaraan lima cabang seni ini di Unri, tak harus mahasiswa Unri yang juara. Makanya, kami memang mencari juri yang berkompeten pada kegiatan ini, yakni dari para sastrawan dan budayawan yang memang memiliki kompetensi tinggi,” ujar Hermandra.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unri ini menambahkan, selain sebagai ajang seleksi untuk Peksiminas, Peksimida juga diharapkan melahirkan seniman-seniman kampus di universitas dan perguruan tinggi di Riau. Meski tidak semua universitas dan perguruan tinggi amblil bagian karena berbagai alasan, dia berharap dari sini akan muncul para seniman yang nanti menjadi generasi penerus seniman Riau dari cabang seni masing-masing.
Pada bagian lain, Hermandra meminta dukungan dari Pemprov Riau dan kalangan swasta di Riau untuk membantu kegiatan-kegiatan seni di kampus. Sebab, katanya, mesti ada kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha untuk membantu tumbuh dan berkembangnya kegiatan seni di kampus secara khusus, dan masyarakat secara umum. Dia mencontohkan, untuk biaya keberangkatan mengikuti Peksiminas di Jember, memerlukan biaya yang lumayan besar yang selama didanai secara patungan oleh perguruan tinggi yang mahasiswanya lolos ke Peksiminas. Ini sudah dilakukan di setiap iven dua tahunan ini digelar.
“Harapan saya, Pemprov Riau dan dunia usaha di Riau ikut membantu anak-anak dan adik-adik kita agar bisa mengikuti Peksiminas mendatang dengan maksimal. Selain itu, kalau bisa, setelah Peksimida ini, masing-masing pemenang yang akan berangkat ke Peksiminas, mendapat bimbingan langsung dari para juri maupun seniman lain yang mumpuni agar mereka secara mental dan kemampuan mereka meningkat. Untuk hal ini juga memerlukan biaya tambahan,” jelasnya lagi.
Para mahasiswa yang akan mengikuti ajang Peksiminas nanti adalah mahasiswa terpilih yang jika berprestasi tinggi di iven nasional itu –di beberapa kampus— akan mendapatkan apresiasi tinggi. Di Unri misalnya, kata Hermandra, di Jurusan Bahasa dan Sastra FKIP, mereka akan mendapatkan keringanan, salah satunya dibebaskan dari tugas akhir (skripsi) bagi yang sudah smester 7. Sebab, katanya, dengan keahlian mereka di bidang sastra, mereka sudah menunjukkan kalau mereka mampu mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di kampus.
“Setiap fakultas atau universitas punya kebijakan masing-masing, termasuk mereka yang berprestasi di bidang olahraga, sain, dan lainnya. Value yang dimiliki mahasiswa di luar akademis ini penting dan sudah sepatutnya mereka yang berprestasi tinggi diberi penghargaan dengan cara masing-masing tergantung kebijakan fakultas dan universitas tempat mereka belajar,” kata pengajar pada Program Pascasarjana Unri ini.
***
SAYANGNYA, banyak perguruan tinggi yang tak mengirimkan utusan ke ajang seni mahasiswa tertinggi di Riau ini. Di cabang tulis sastra, yakni cerpen, puisi, dan naskah lakon, pesertanya tak banyak. Hanya diikuti perwakilan dari beberapa universitas. Ini berbanding terbalik dari banyaknya universitas dan perguruan tinggi di Riau. Beberapa juri sangat menyayangkan hal ini. Padahal tak banyak iven seni mahasiswa di Riau yang seprestisius Peksimida ini. Salah satu cabang seni yang pesertanya minim adalah menulis naskah lakon yang hanya diikuti satu mahasiswa.
“Saya sangat senang menjadi juri di ajang ini karena bisa melihat potensi pada bidang yang saya tekuni, yakni sastra dan teater. Tetapi saya juga sedih karena pesertanya tak banyak. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi dunia seni mahasiswa,” ujar Marhalim Zaini, juri untuk ketiga cabang seni itu bersama Hary B Koriun.
Menurut Kepala Suku Seni Riau ini, ada baiknya BPSMI Riau mengadakan pelatihan masing-masing cabang seni yang rendah keikutsertaannya sebelum Peksimida diadakan dengan melibatkan seluruh perguruan tinggi di Riau, minimal di Pekanbaru. Hal ini penting dilakukan bukan hanya untuk memperbanyak peserta, tetapi juga untuk menambah pemahaman dan pengalaman peserta tentang lomba seni yang diikutinya.
Hal yang sama juga disampaikan Fedli Aziz. Menurut seniman teater ini, masing-masing peserta dalam cabang seni yang dinilainya bersama Monda Gianes, kualitasnya masih harus ditingkatkan lagi. Paling tidak, dalam sisa waktu menjelang keberangkatan nanti, mereka harus berlatih keras dan dibantu oleh mentor.
“Ingat, di tingkat nasional, tekanannya akan semakin berat lagi karena akan banyak perguruan tinggi khusus seni akan ambil bagian. Selain itu, tingkat persaingan akan tinggi karena hampir seluruh provinsi mengirim perwakilannya,” ujar Fedli yang diamini Monda.***
Editor : Bayu Saputra