Mengenal Peran Penting Dokter Anestesi, Sebelum, Selama, dan Setelah Operasi

Tim Redaksi • Dipublikasikan Minggu, 8 November 2026 | 12:31 WIB
Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif RS Awal Bros Sudirman, dr. Muhammad Sukri Dinihar, Sp.AN-TI
Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif RS Awal Bros Sudirman, dr. Muhammad Sukri Dinihar, Sp.AN-TI

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Mendengar kata operasi, sebagian orang mungkin langsung membayangkan rasa sakit, jarum suntik, atau ketakutan tidak sadar kembali setelah menjalani pembiusan. Perasaan cemas tersebut merupakan hal yang wajar, terutama bagi pasien yang baru pertama kali menjalani tindakan pembedahan. Namun, di balik setiap prosedur operasi, terdapat tim medis yang bekerja untuk menjaga keselamatan pasien, termasuk dokter spesialis anestesiologi yang memiliki peran penting sejak persiapan sebelum operasi hingga proses pemulihan setelah tindakan selesai.

Selama ini, sebagian masyarakat masih menganggap dokter anestesi hanya bertugas memberikan obat bius agar pasien tertidur selama operasi. Padahal, tanggung jawab dokter anestesi jauh lebih luas. Dokter spesialis anestesiologi berperan dalam menilai kondisi kesehatan pasien, menentukan teknik anestesi yang sesuai, mengendalikan rasa nyeri, memantau fungsi organ vital, serta membantu menangani berbagai kondisi medis yang dapat muncul selama pembedahan maupun masa pemulihan.

Menurut dr. Muhammad Sukri Dinihar, Sp.AN-TI, Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif RS Awal Bros Sudirman, pelayanan anestesi merupakan bagian penting dari keselamatan pasien dalam setiap tindakan pembedahan. Peran dokter anestesi tidak berhenti pada proses pembiusan, tetapi mencakup seluruh rangkaian perawatan sebelum, selama, dan setelah operasi.

Baca Juga: Penyandang Talasemia Diperkirakan Lebih Banyak dari Data

Mengenal Anestesi dan Peran Dokter Anestesi

dr. Muhammad Sukri menjelaskan, anestesi merupakan tindakan medis yang bertujuan menghilangkan atau mengurangi sensasi, terutama rasa nyeri, agar prosedur medis dapat dilakukan sesuai kebutuhan pasien. Dalam praktiknya, anestesi dapat melibatkan pengendalian nyeri, pengaturan tingkat kesadaran, dan relaksasi otot, bergantung pada jenis tindakan yang akan dijalani.

Setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda. Prosedur kecil pada area tubuh tertentu memerlukan pertimbangan yang berbeda dibandingkan operasi besar yang melibatkan organ dalam. Oleh karena itu, pemilihan teknik anestesi harus mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien, jenis dan durasi operasi, serta berbagai faktor klinis lainnya.

Baca Juga: Pakar Medis 11 Negara Bahas Perkembangan Toksin Botulinum di Bali

“Dokter spesialis anestesiologi memiliki kompetensi untuk melakukan evaluasi sebelum tindakan, merencanakan dan memberikan anestesi, memantau respons tubuh selama operasi, serta menangani nyeri dan masalah medis yang berkaitan dengan proses pembedahan. Selama tindakan berlangsung, dokter anestesi juga memantau pernapasan, tekanan darah, denyut jantung, kadar oksigen, dan parameter lainnya sesuai kebutuhan pasien,” katanya.

Dengan demikian, anestesi bukan sekadar membuat pasien tertidur atau tidak merasakan sakit. Lebih dari itu, pelayanan anestesi merupakan bagian dari upaya menjaga kestabilan fungsi tubuh dan mendukung keselamatan pasien selama menjalani tindakan medis.

Sebelum Operasi, Dokter Anestesi Memastikan Kesiapan Pasien

Persiapan sebelum operasi menjadi salah satu tahap penting dalam pelayanan anestesi. Sebelum memasuki ruang operasi, pasien umumnya menjalani pemeriksaan pra-anestesi bersama dokter spesialis anestesiologi untuk menilai kondisi kesehatan, mengidentifikasi faktor risiko, dan menentukan rencana anestesi yang sesuai.

Dalam pemeriksaan ini, dokter akan menanyakan riwayat penyakit, alergi, obat-obatan yang sedang dikonsumsi, serta pengalaman pembiusan sebelumnya. Pasien juga perlu menyampaikan apabila memiliki penyakit penyerta, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau gangguan pernapasan. Informasi tersebut membantu dokter mempertimbangkan kebutuhan pasien dan mengantisipasi kemungkinan komplikasi.

Selain wawancara medis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk menilai kondisi jalan napas, fungsi jantung dan paru-paru, serta keadaan umum pasien. Pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, elektrokardiogram atau EKG, maupun pemeriksaan lainnya dapat dilakukan apabila diperlukan berdasarkan kondisi pasien dan jenis operasi yang direncanakan.

Pada tahap ini, pasien juga akan mendapatkan penjelasan mengenai teknik anestesi yang akan digunakan, manfaat, risiko yang mungkin terjadi, serta langkah penanganannya. Pasien dianjurkan untuk menyampaikan pertanyaan dan kekhawatiran secara terbuka agar memahami proses yang akan dijalani sebelum memberikan persetujuan tindakan.

Pemeriksaan pra-anestesi bukan sekadar tahapan administratif. Proses ini merupakan bagian penting dalam menyusun rencana perawatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Persiapan yang baik membantu tim medis mengenali risiko lebih awal dan menentukan langkah yang diperlukan untuk meningkatkan keselamatan selama operasi.

Pasien Harus Berpuasa Sebelum Operasi

Salah satu instruksi yang sering diberikan menjelang operasi adalah berpuasa selama jangka waktu tertentu. Anjuran ini berkaitan dengan risiko aspirasi, yaitu kondisi ketika isi lambung masuk ke saluran pernapasan.

Ketika seseorang menjalani anestesi, refleks pelindung jalan napas dapat berkurang. Jika masih terdapat makanan atau cairan di dalam lambung, isi lambung berisiko naik ke kerongkongan dan masuk ke saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga komplikasi paru yang serius.

Meski demikian, lama puasa sebelum operasi tidak selalu sama bagi setiap pasien. Ketentuannya bergantung pada jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi, usia, kondisi kesehatan, jenis tindakan, serta instruksi tim medis. Puasa yang terlalu lama juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan berdampak pada kondisi tubuh, terutama pada kelompok pasien tertentu.

“Maka, pasien perlu mengikuti petunjuk dokter mengenai waktu terakhir makan dan minum sebelum operasi. Jangan menentukan sendiri jadwal puasa hanya berdasarkan informasi umum yang ditemukan di internet, karena kebutuhan setiap pasien dapat berbeda.”

Pada kondisi darurat, operasi terkadang harus dilakukan meskipun waktu puasa belum mencukupi. Dalam situasi tersebut, tim anestesi akan menilai risiko dan menerapkan strategi penanganan yang sesuai untuk mengurangi kemungkinan komplikasi. Keputusan tetap didasarkan pada urgensi tindakan dan kondisi klinis pasien.

Pasien dengan Penyakit Penyerta Memerlukan Persiapan Khusus

dr. Muhammad Sukri menjelaskan, seseorang yang memiliki penyakit diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung tidak serta-merta berarti seseorang tidak dapat menjalani operasi. Namun, kondisi tersebut memerlukan penilaian dan persiapan yang disesuaikan agar risiko selama anestesi dan pembedahan dapat dikelola dengan baik.***

Oleh : Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif RS Awal Bros Sudirman, dr. Muhammad Sukri Dinihar, Sp.AN-TI

 

Editor : Bayu Saputra
Dokter anastesi operasi Aman Anastesiologi rs awal bros pekanbaru kesehatan pekanbaru