Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jalur Lembah Anai Dibuka 6 Hari untuk Minibus, Korban Jiwa Mencapai 1.030 Orang

Tim Redaksi • Selasa, 16 Desember 2025 | 10:23 WIB

Personel Polres Padangpanjang mengatur lalu lintas kendaraan yang melewati Jalur Padang-Bukittinggi via Lembah Anai, Sumatera Barat, Senin (15/12/2025).
Personel Polres Padangpanjang mengatur lalu lintas kendaraan yang melewati Jalur Padang-Bukittinggi via Lembah Anai, Sumatera Barat, Senin (15/12/2025).


JAKARTA DAN PADANG (RIAUPOS.CO) - Jalur Padang-Bukittinggi via Lembah Anai dibuka untuk uji coba kendaraan roda empat (minibus) selama enam hari, mulai Selasa (16/12) hari ini hingga Ahad (21/12). Kebijakan ini diambil setelah asesmen bersama Polres Padangpanjang, PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI), dan pemerintah daerah.

Kapolres Padangpanjang AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo Putro mengatakan, selama masa uji coba, kendaraan roda dua dan roda empat diizinkan melintas dengan pembatasan waktu. “Kita laksanakan uji coba selama enam hari. Kendaraan roda empat dan roda dua dapat melintas pukul 16.00 WIB hingga 09.00 WIB,” ujar AKBP Kartyana, Senin (15/12).

Ia menjelaskan, pembatasan waktu diberlakukan karena pada siang hari dilakukan pekerjaan konstruksi menggunakan alat berat dan material di lokasi. “Siang hari kami maksimalkan pekerjaan alat berat. Malam hari alat tidak bekerja, sehingga jalur bisa digunakan masyarakat,” katanya.

Polres Padangpanjang mengimbau pengguna jalan menyesuaikan jadwal perjalanan dan mematuhi arahan petugas di lapangan. Kendaraan diwajibkan mengantre dan menyesuaikan kecepatan sesuai rambu. “Jalur ini tidak bisa saling mendahului. Pengguna jalan wajib mengikuti petunjuk petugas dan rambu dari PU maupun HKI,” tegas Kapolres.

Selama uji coba, sistem buka tutup satu jalur akan diterapkan di titik tertentu secara bergantian. Pada beberapa segmen lain, jalur dapat dilalui dua arah dengan kewajiban kehati-hatian. AKBP Kartyana menambahkan, jalur dapat ditutup kembali sewaktu-waktu apabila terjadi hujan deras atau kondisi darurat. Setelah uji coba berakhir, akan dilakukan evaluasi menyeluruh untuk penanganan lanjutan.

Kampung Terancam Hilang, Warga Ingin Cepat Direlokasi
Rencana pemerintah merelokasi hunian yang rusak sangat dinanti oleh para pengungsi. Terutama mereka yang rumahnya hancur tersapu banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November lalu.

Di Kota Padang, ada satu kampung yang nyaris hilang akibat terjangan banjir. Kampung itu bernama Batu Busuk di Kecamatan Pauh. Pantauan tim Padang Ekspres (RPG), hingga kemarin kondisi kampung tersebut masih memprihatinkan. Banjir masih menggenangi permukiman dan jalan utama. Diperkirakan, hampir separu perkampungan disapu bersih oleh bencana ini. Banjir bandang telah melumpuhkan seluruh infrastruktur dasar. Tiang listrik roboh, akses air bersih terputus, dan persediaan logistik menipis. Jalanan utama rusak parah, bahkan ada yang hilang tergerus arus banjir. Jembatan-jembatan vital mengalami kerusakan serius.

Sebagian besar masyarakat Batu Busuk kini terpaksa mengungsi. Mereka bertahan di pengungsian dengan logistik dan sanitasi terbatas, tanpa kepastian kapan bisa kembali. Ancaman hilangnya kampung ini semakin nyata karena derasnya arus dan material lumpur terus menggerus bibir sungai. Pengikisan ini memakan jalan dan merobohkan pemukiman, menempatkan sisa kampung di ambang bahaya.

Zulfikar, 60, warga yang sudah 30 tahun tinggal di sana, menyebut bencana kali ini adalah yang terbesar dan terparah. “Saya tinggal di sini puluhan tahun. Orang tua saya bahkan lahir dan besar di sini. Mereka pun selalu mengatakan bahwa bencana galodo kali ini adalah yang paling parah,” kata Zulfikar kemarin (15/12).

Dia khawatir dengan perubahan alam drastis yang membuat sungai semakin lebar dan dekat dengan sisa rumah warga. “Dulu, luas badan sungai tidak selebar ini. Sekarang, lihatlah, sungai sudah sangat dekat dengan rumah-rumah yang masih tersisa,” ujarnya.

Melihat ancaman yang semakin nyata, warga mendesak Pemkot Padang segera bertindak. Permintaan utama adalah relokasi. Hal itu dianggap sebagai satu-satunya solusi logis untuk menjamin keselamatan warga dari ancaman galodo yang berkelanjutan. “Saya khawatir, jika banjir bandang datang lagi, maka kampung Batu Busuk ini akan hilang disapu bersih, tak ada lagi yang tersisa,” katanya.

Korban Jiwa Bertambah
Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga Senin (15/12), total korban jiwa mencapai 1.030 orang. Sebanyak 206 orang masih dinyatakan hilang dan pengungsi mencapai 608.980 jiwa.

“Untuk korban jiwa meninggal dunia bertambah 14 jiwa sehingga total menjadi 1.030 jiwa. Penambahan tujuh jiwa di Aceh, enam di Sumatera Utara, dan satu di Sumatra Barat,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, kemarin.

BNPB merinci, Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan jumlah korban dan pengungsi terbanyak. Di provinsi tersebut, korban meninggal dunia tercatat sebanyak 431 orang, 32 orang masih dinyatakan hilang, dan 572.862 orang masih berada di pengungsian.

Sementara itu, di Sumatera Utara tercatat sebanyak 355 orang meninggal dunia, 84 orang masih hilang, dan 24.086 orang mengungsi. Adapun di Sumatera Barat, jumlah korban meninggal dunia mencapai 244 orang, dengan 90 orang masih dinyatakan hilang dan 12.032 orang masih mengungsi.

Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat adanya penurunan jumlah korban hilang dan pengungsi dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi seiring dengan berlanjutnya proses pencarian, evakuasi, serta pendataan di lapangan. “Untuk jumlah pengungsi saat ini berkurang menjadi 608.940 jiwa. Ini proporsi jumlah terbesar masih di Provinsi Aceh sebanyak 572.862 jiwa,” ujarnya.(han/cr3/oni/das)

Laporan YUSNIR dan RPG, Jakarta dan Padang

Editor : Arif Oktafian
#lembah anai #buka tutup #korban jiwa #bencana banjir