PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Republik Indonesia Mohammad Jumhur Hidayat, mengajak para mahasiswa untuk tidak takut menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan atau praktik bisnis yang merusak alam. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada kegiatan kuliah umum di Universitas Islam Riau (UIR), Senin (4/5).
Keberanian bersikap kritis diakuinya sebagai modal paling penting dalam mengawal kebijakan publik di sektor ekologi. Ia menjamin bahwa pintu kementerian terbuka lebar bagi berbagai masukan maupun hujatan yang konstruktif demi perbaikan sistem tata kelola alam di Tanah Air.
“Silakan Anda ngomong apa saja, mau dihujat mau apa silakan. Kalau orang dari sejak dini sudah tertanam ideologi lingkungan, kelak jadi apa pun dia pasti akan selalu menjaga bumi,” katanya. Lebih lanjut dikatakannya, kesadaran ekologis memiliki kekuatan luar biasa yang mampu melampaui sekat politik, budaya, hingga batas negara.
Kesadaran kolektif inilah yang dinilai mampu meredam dominasi pihak-pihak yang kerap berlindung di balik dalih investasi daerah. “Isu lingkungan telah berkembang menjadi isu strategis yang bersinggungan langsung dengan keamanan seperti kebakaran hutan dan lahan, perambahan hutan, serta aktivitas-aktivitas pertambangan ilegal bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan tentang keberlanjutan hidup,” sebutnya.
Rektor UIR Assoc Prof Dr Admiral dalam menyampaikan kegiatan kuliah umum ini sangat relevan dengan Program Green Policing yang digarap oleh Polda Riau. Untuk itu kuliah umum dinilai penting dihadirkan kepada mahasiswa Universitas Islam Riau memberikan edukasi dan pemahaman baru.
Baca Juga: Suhu di Madinah Mencapai 42 °C, 3.923 JCH Riau Sudah Tibadi Tanah Suci
“Acara dilatarbelakangi oleh maraknya kasus kerusakan lingkungan dimana isu ini telah menjadi perbincangan hangat di Indonesia salah satunya di Provinsi Riau. Berbagi kerusakan lingkungan terjadi mulai dari darat, laut hingga udara,” sebutnya.
Selain kuliah umum di UIR, Jumhur Hidayat juga berkunjung ke Mapolda Riau, Pekanbaru, Senin (4/5). Bukan sekadar seremoni, kinjungan ini membawa misi besar yakni mengadopsi dan mereplikasi konsep Green Policing secara nasional. Menteri Jumhur didampingi Syahganda Nainggolan dan Rocky Gerung yang selama ini aktif mendorong kesadaran ekologis di ruang publik.
Sejak tiba, Menteri Jumhur disuguhi rangkaian kegiatan yang menampilkan komitmen kuat jajaran kepolisian dalam menjaga lingkungan. Mulai dari penyambutan adat, pemutaran program Green Policing dan Waste to Energy, hingga paparan komprehensif mengenai penegakan hukum lingkungan.
Menteri Jumhur secara terbuka mengaku terkesan konsep yang dijalankan Polda Riau yang melampaui ekspektasinya. “Saya mendengarkan seluruh paparan dari Kapoldo. Saya merasa tidak ada lagi yang perlu saya pidatokan di sini. Apa yang terjadi hari ini (kemarin, red) akan saya adopsi,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa konsep Green Policing layak dijadikan model nasional. “Ini sangat bagus. Kalau Green Policing ini terjadi di mana-mana, di setiap institusi, saya rasa tidak perlu lagi Kementerian Lingkungan Hidup. Ini luar biasa,” tegasnya.
Menteri Jumhur memastikan pihaknya akan mendorong implementasi nyata konsep tersebut di berbagai daerah. “Saya akan memastikan bersama jajaran kementerian, bagaimana apa yang dikerjakan ini bisa benar-benar terjadi di seluruh daerah,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran pemerintah pusat di daerah sebagai bentuk penghormatan sekaligus perhatian terhadap persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat Riau.
Kapolda Riau, Herry Heryawan, dalam sambutannya menegaskan bahwa persoalan lingkungan di Riau tidak bisa dipandang secara parsial dan berkaitan erat dengan keamanan, ekonomi, hingga keadilan sosial.
“Melalui pendekatan Green Policing, kami tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga membangun kesadaran kolektif melalui perubahan pola pikir, perilaku, dan budaya organisasi,” ujar Herry.(sol/nda)
Editor : Arif Oktafian