JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Nilai tukar rupiah ditutup menguat 54 poin ke level Rp17.333 per dolar AS pada perdagangan, Kamis (7/5) dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.387 per dolar AS. Penguatan rupiah didorong pelemahan indeks dolar AS seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang meredanya konflik di Timur Tengah.
Pemerintah mulai menyiapkan langkah tambahan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah kenaikan yield SBN dan tekanan di pasar keuangan global. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, Kemenkeu akan menghidupkan kembali skema Bond Stabilization Fund (Dana Stabilitas Obligasi) untuk meredam gejolak pasar obligasi domestik.
“Sebetulnya sudah ada tapi mati, saya mau hidupin aja,” tuturnya. Langkah tersebut dilakukan setelah yield SBN mengalami kenaikan cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir. Dari kisaran 5,9 persen, yield obligasi pemerintah kini bergerak di level sekitar 6,7 persen. Kenaikan yield membuat harga obligasi turun dan memicu potensi capital loss bagi investor asing.
Baca Juga: JCH Dilarang Ziarah sebelum Armuzna
Menurut Purbaya, kondisi tersebut dapat memicu arus keluar modal apabila tidak diantisipasi sejak dini. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga harga obligasi agar tekanan terhadap pasar tidak semakin besar. “Kalau bond jatuh, asing yang punya bond di sini kan ada capital loss. Kalau loss sekian, mereka harus potong portofolio. Itu bisa memicu capital outflow,” jelasnya.
Dana untuk skema stabilisasi tersebut disebut berasal dari APBN. Selain menjaga pasar obligasi domestik, pemerintah juga mempercepat diversifikasi sumber pembiayaan melalui penerbitan panda bond di pasar Cina.
Purbaya menyebutkan, yield panda bond (imbal hasil obligasi panda) berpotensi berada di kisaran 2,3 persen hingga 2,5 persen, jauh lebih rendah dibanding biaya penerbitan di sejumlah pasar lain.
Pemerintah pun mengklaim telah mendapat respons positif dari investor dan lembaga keuangan di Cina. “Kita tetap diversifikasi supaya tidak tergantung kepada pendanaan dari Amerika atau negara-negara Barat saja. Cina market-nya besar sekali,” ujarnya.
Baca Juga: Awali Kuartal II, Penjualan Daihatsu Tumbuh 11 Persen
Sementara itu, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah akan bergerak fluktuatif Jumat (5/7) hari ini. “Untuk perdagangan Jumat (8/5), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif, namun berpotensi kembali menguat di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.340 per dolar AS,” ujarnya.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menjamin, di tengah pelemahan rupiah, stabilitas nilai tukar tetap terjaga. Fundamental ekonomi Indonesia, menurut bank sentral juga tetap kuat. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terjadi hampir terhadap seluruh mata uang dunia.
Kondisi itu dipicu kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga tinggi The Fed yang membuat imbal hasil aset dolar semakin menarik. Meski demikian, Perry menegaskan, kondisi rupiah masih relatif stabil dibanding mata uang negara berkembang lainnya. Menurut dia, BI telah melakukan langkah stabilisasi secara agresif melalui tujuh strategi kebijakan.
Baca Juga: BOOMBASTRIP 5.5. Tawarkan Tiket Pesawat Beli 1 Gratis 1
Di antaranya, intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga offshore non-deliverable forward (NDF) di pusat keuangan dunia seperti Hongkong, Singapura, London, dan New York. “Itu bukan business as usual (bisnis berjalan seperti biasa) Kami intervensi around the clock (sepanjang waktu) di pasar global,” kata Perry di Jakarta, Kamis (5/7).
Untuk menjaga likuiditas, BI mempertahankan pertumbuhan uang primer di atas 10 persen, bahkan terakhir mencapai 14,1 persen. Di sisi lain, BI mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen selama Februari-April 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Inflasi April 2026 tercatat rendah di level 2,42 persen atau masih dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
Fundamental ekonomi Indonesia, kata Perry, juga masih solid. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, termasuk salah satu yang tertinggi di kelompok G20. Neraca perdagangan Januari-Maret 2026 juga surplus 5,5 miliar dolar AS yang didorong surplus nonmigas. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat 148,2 miliar dolar AS dan dinilai lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas eksternal.(mim/ttg/jpg)
Editor : Arif Oktafian