JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pemerintah mempercepat restrukturisasi badan usaha milik negara (BUMN). Presiden Prabowo Subianto menargetkan proses penataan seluruh perusahaan pelat merah rampung tahun ini. Jumlah BUMN yang saat ini masih lebih dari 1.000 entitas bakal dipangkas drastis hingga tersisa sekitar 250 perusahaan.
”Sekarang dari 1.000 lebih BUMN, kita sudah tutup lebih dari 200. Nanti tinggal sekitar 250 sampai 300 perusahaan,” ujar Prabowo saat menutup Sarasehan Kebangsaan di Jakarta International Convention Center (JICC), Ahad (28/6).
Saat menyampaikan target tersebut, Prabowo sempat meminta konfirmasi kepada Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengenai jumlah akhir BUMN setelah restrukturisasi. ”Ujungnya nanti 250,” jawab Dony, yang juga Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN.
Baca Juga: Evaluasi Haji, Pengumuman Nominasi JCH sejak Juli
Efisiensi Keuangan Negara
Prabowo menegaskan, langkah perampingan dilakukan untuk memangkas biaya operasional perusahaan negara yang selama ini dinilai tidak efisien. Menurut dia, banyak BUMN tidak memberikan keuntungan, tetapi tetap membebani keuangan negara melalui biaya direksi, komisaris, dan operasional perusahaan.
”Bayangkan, lebih dari 750 kita tutup. Ada 750 direktur utama, direksi,
dan komisaris yang tidak lagi ada. Overhead-nya seperti apa, gajinya seperti apa. Ini semua uang rakyat,” tuturnya.
Baca Juga: Bahlil: Jangan Pesimis, Stok CPO 50 Juta Ton per Tahun
Karena itu, Prabowo meminta Danantara menuntaskan proses restrukturisasi pada tahun ini. Dia berharap dalam dua tahun pemerintahannya, BUMN dapat menjadi lebih efisien, transparan, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. “Saya minta dalam tahun ini harus selesai. Jadi dalam dua tahun kita akan bikin BUMN lebih efisien, lebih transparan, dan lebih bekerja untuk rakyat, tuturnya.
Tidak Ada PHK
Sementara itu, Dony menjelaskan, perampingan dilakukan secara bertahap melalui likuidasi, divestasi, konsolidasi, dan restrukturisasi bisnis. ”Yang sudah dilikuidasi sampai hari ini sekitar 167 perusahaan. Semua kami lakukan secara proper,” ujarnya.
Dony memastikan restrukturisasi tidak berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK). Efisiensi difokuskan pada perbaikan proses bisnis dan tata kelola perusahaan, bukan pengurangan tenaga kerja. ”Justru kami ingin menciptakan perusahaan yang lebih sehat sehingga manfaatnya juga dirasakan para pekerja,” imbuhnya.
Selain likuidasi, Danantara juga mengonsolidasikan BUMN berdasarkan sektor usaha, mulai dari logistik, perhotelan, rumah sakit, hingga jasa keuangan. Langkah tersebut diharapkan menciptakan skala ekonomi yang lebih efisien dan meningkatkan daya saing perusahaan negara.
Posisi Direksi Belum Terisi
Di sisi lain, proses restrukturisasi juga menyebabkan sejumlah posisi direksi di BUMN masih belum terisi. Dony menyebut pengisian jabatan ditunda karena Danantara masih memetakan model bisnis dan kondisi keuangan masing-masing perusahaan. ”Kami tidak ingin tergesa-gesa. Perusahaan yang masih kosong rata-rata sedang kami monitor langsung karena umumnya menghadapi persoalan yang perlu dibenahi lebih dulu,” pungkasnya.(mia/dio/jpg)
Laporan JPG, Jakarta
Editor : Arif Oktafian