Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kebijakan Moneter AS Longgar, Harga Emas Terdongkrak

Tim Redaksi • Senin, 6 Juli 2026 | 11:08 WIB
 Harga emas Antam pada perdagangan Selasa (28/4/2026) tercatat naik tipis Rp5.000 menjadi Rp2.814.000 per gram. (JPG)
Ilustrasi Emas. (JPG)

 

SURABAYA (RIAUPOS.CO) - Harga emas dunia diperkirakan masih melanjutkan tren penguatan pada perdagangan pekan ini. Prospek tersebut ditopang kombinasi sentimen teknikal dan fundamental yang sama-sama mengarah positif, mulai ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat hingga tingginya permintaan aset safe haven.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, secara teknikal pergerakan emas (XAU/dolar AS) pada grafik harian masih berada dalam tren bullish. Peluang kenaikan dinilai tetap terbuka selama harga mampu bertahan di atas level support utama. ”Pergerakan emas telah memberikan sinyal pembalikan arah yang cukup kuat setelah terbentuknya pola double bottom,” ujarnya, Ahad (5/7).

Geraldo menjelaskan, selama area support tidak ditembus, tren kenaikan masih menjadi skenario utama. Dia memproyeksikan, harga berpeluang menguji level resistance pertama di kisaran 4.220 dolar AS per troy. Jika mampu menembus level tersebut, penguatan diperkirakan berlanjut menuju area 4.330.

Dari sisi fundamental, permintaan emas sebagai aset lindung nilai diperkirakan masih tinggi. Ketidakpastian ekonomi global dan risiko geopolitik membuat investor kembali meningkatkan porsi investasi pada aset yang dinilai lebih aman.

Baca Juga: Tarif Juli–September Tidak Naik, PLN Pastikan Pasokan Listrik Andal dan Layanan Berkualitas

Selain itu, pasar juga menaruh perhatian terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Menurut Geraldo, peluang Federal Reserve memangkas suku bunga akan semakin besar apabila inflasi terus melandai, pertumbuhan ekonomi melemah, atau pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.

“Jika inflasi bergerak lebih rendah, pertumbuhan ekonomi melambat, atau pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum, peluang penurunan suku bunga akan semakin terbuka,” jelasnya.

Kondisi tersebut diperkirakan menekan nilai tukar dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Secara historis, pelemahan dolar dan turunnya imbal hasil obligasi menjadi katalis positif bagi harga emas karena meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut di mata investor global.(bil/dio/das)

Laporan JPG, Surabaya

 

Editor : Arif Oktafian
#XAU/USD #harga emas #Federal Reserve #emas dunia