Kiai Miftach-Gus Kikin Pimpin PBNU

Tim Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:54 WIB
Presiden Prabowo Subianto menerima Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama seumur hidup usai menutup Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026). (SESKAB RI )
Presiden Prabowo Subianto menerima Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama seumur hidup usai menutup Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026). (SESKAB RI )

 

JOMBANG (RIAUPOS.CO) - Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) melahirkan kepemimpinan baru periode 2026-2031. KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam. Sementara KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU.

Keduanya dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Penetapan Gus Kikin sebagai ketua umum dilakukan setelah sembilan anggota AHWA memusyawarahkan lima nama calon yang diajukan peserta muktamar.

Duet kepemimpinan tersebut membawa agenda pe­nguatan NU sebagai jam’iyyah yang solid, mandiri, dan kembali berpegang pada khitah organisasi. Bagi Kiai Miftach, sapaan KH Miftachul Akhyar,  penguatan ekonomi umat menjadi salah satu agenda utama NU.

Baca Juga: Diserahkan Ilham Habibie, Plt Gubri SF Hariyanto Terima Penghargaan Indeks Keinsinyuran Daerah 2026

Menurut dia, sektor pendidikan dan kesehatan sudah memiliki dukungan para pakar. Tantangan berikutnya adalah membangun kemandirian ekonomi warga nahdliyin. ”Di bidang pendidikan dan kese­hatan, Alhamdulillah sudah ada pakarnya. Nah, tinggal ekonomi. Ekonomi untuk umat yang harus betul-betul kita perjuangkan,” tuturnya.

Sebagai langkah konkret, PBNU akan memperkuat Lembaga Pengembangan Pertanian PBNU (LPP-PBNU) serta membentuk Kamar Pengusaha Sukses NU. Wadah tersebut ditujukan untuk menghimpun dan mengoptimalkan potensi ekonomi warga nahdliyin.

Tata SDM, Kembali ke Khitah

Sementara itu, Gus Kikin menegaskan komitmennya mengembalikan NU pada khitah sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (jam’iyyah diniyyah islamiyyah). Penataan sumber daya manusia (SDM), penegakan Qanun Asasi, dan konsolidasi organisasi menjadi prioritas awal kepemimpinannya. 

Baca Juga: UU Perampasan Aset Disahkan Paling Lambat 15 Desember

”Kami prioritaskan menata SDM dulu. Organisasinya kan ganti, semuanya baru. Ini cukup banyak yang harus ditata SDM-nya. Nanti kita tata mungkin paling lama satu bulan. Baru kita gerakkan lagi apa yang harus dikerjakan,” ujar Gus Kikin setelah penutupan Muktamar Ke-35 NU di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, kemarin (31/8).

Penyusunan kepengurusan baru segera dilakukan. Gus Kikin juga memastikan NU tetap memiliki panduan untuk mencegah organisasi terseret ke politik praktis. Pengasuh Ponpes Tebuireng tersebut menegaskan, kepemimpinannya akan terbuka dan merangkul seluruh potensi nahdliyin. Termasuk berkolaborasi dengan tokoh senior seperti KH Ma’ruf Amin.

”NU didirikan dengan sangat inklusif dan terbuka. Semua potensi yang ada di NU akan kita wadahi dan optimalkan. Kita harus bersatu, ada kebersamaan,” tegasnya. Di bidang pelayanan publik, PBNU akan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan layanan kesehatan. 

Baca Juga: Praperadilan Febrie Ditolak 

Transformasi pondok pesantren berbasis profesionalisme juga menjadi agenda kepemimpinan baru. Pengalaman pengelolaan rumah sakit dan perguruan tinggi NU di Jawa Timur akan menjadi salah satu rujukan pengembangan secara nasional.

Prabowo Tutup Muktamar

Presiden Prabowo Subianto menutup Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, kemarin (31/8). Dalam kesempatan itu, Prabowo dikukuhkan sebagai warga kehormatan NU dan menerima Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) seumur hidup.

Para kiai, nyai, dan nahdliyin menyambut pengukuhan tersebut dengan tepuk tangan dan lantunan salawat. Sejumlah pejabat negara turut hadir, antara lain Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.

Baca Juga: Budi Arie Minta Maaf

Dalam pidatonya, Prabowo menekankan pentingnya stabilitas politik dan koalisi besar untuk menopang pemerintahan. Menurut dia, koalisi mayoritas di parlemen menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.

Prabowo juga menyoroti penguatan ekonomi masyarakat bawah. Dana hasil efisiensi anggaran, kata dia, akan diarahkan untuk program pengentasan kemiskinan. Di antaranya penyediaan hunian layak dan perluasan akses pembiayaan. ”Akses permodalan ini penting agar masyarakat kita bisa lepas sepenuhnya dari jerat rentenir,” kata Prabowo di hadapan muktamirin.

Menurut Prabowo, NU memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi pemerintah dan organisasi kemasyarakatan diperlukan agar masyarakat tidak terjebak dalam praktik rentenir. 

Baca Juga: DPR Siap Terima Aspirasi Massa Aksi 27 Agustus

”Kita tidak beraspirasi untuk hidup seperti negara-negara dunia pertama. Kita hanya ingin rakyat kita hidup dengan layak, hidup dengan baik, bisa makan dengan baik, punya rumah yang layak, dan punya penghasilan tiap bulan yang cukup,” ujarnya.

Prabowo juga mengapresiasi pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU. Menurut dia, NU telah menunjukkan kedewasaan dalam mengelola perbedaan dan kompetisi internal. ”Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya disampaikan kepada jajaran kepemimpinan NU yang baru saja terpilih. Keberhasilan NU dalam mengelola keberagaman suara di tingkat akar rumput menjadi teladan penting bagi tata kelola organisasi nasional di Tanah Air,” ujarnya.

AHWA Gantikan One Man One Vote

Ketua Pelaksana Muktamar Ke-35 NU Saifullah Yusuf mengatakan, muktamar kali ini menghasilkan perubahan penting dalam mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Sistem one man one vote ditinggalkan dan diganti dengan mekanisme yang melibatkan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Baca Juga: Polisi Minta Massa Sampaikan Aspirasi dengan Damai

Keputusan tersebut sebelumnya dibahas dalam sidang pleno. Dari 552 suara, sebanyak 401 peserta memilih mekanisme AHWA, sedangkan 150 suara menginginkan one man one vote. ”Mekanisme baru ini sekaligus meneguhkan kembali supremasi Syuriah dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Pemimpin tertinggi berada di bawah kepemimpinan Rais Aam,” kata Gus Ipul.

Dalam mekanisme baru tersebut, peserta muktamar menjaring lima nama calon ketua umum. Lima nama dengan perolehan suara terbanyak kemudian diserahkan kepada AHWA untuk dimusyawarahkan.

Sembilan anggota AHWA lebih dahulu menetapkan Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam melalui musyawarah tertutup pada Ahad (30/8) malam. Senin (31/8) pagi, AHWA kemudian menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU secara mufakat.

Baca Juga: Apindo Minta RUU Ketenagakerjaan Jaga Keseimbangan Hak Buruh dan Dunia Usaha

Meski diwarnai perbedaan pendapat dalam sidang komisi dan pleno, Gus Ipul mengatakan tradisi musyawarah dan adab santri menjadi kunci penyelesaian dinamika internal NU. ”Muktamar sudah selesai. Sekarang waktunya keluarga besar Nahdlatul Ulama kembali bergandengan tangan dan memperkuat khidmat untuk umat, bangsa, dan negara,” ujarnya.(ian/oni/jpg)

Editor : Arif Oktafian
Muktamar Ke-35 NU KH Miftachul Akhyar muktamar nu pbnu