Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Diletakkan di Kaos Kaki, Uang Saweran Jadi Penyemangat Pemain Tarkam

Redaksi • Senin, 14 Juli 2025 | 09:12 WIB
Pemain sepak bola tarkam mengeluarkan saweran dari dalam kaos kaki.
Pemain sepak bola tarkam mengeluarkan saweran dari dalam kaos kaki.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Banyak hal yang menarik untuk disimak dalam perjalanan pertandingan sepakbola antar kampung (tarkam).

Biasanya di pertandingan tarkam, uang saweran jadi pelecut semangat pemain. Bahkan uang saweran itu sengaja ditunjukkan di karera. Ada juga yang menyelipkan uang saweran di kaos kakinya.

Laga tarkam yang penuh semangat rakyat ini sering kali menjadi ajang hiburan murah meriah di banyak daerah. Menariknya, momen pamer saweran ini menjadi sorotan dan viral di media sosial, seperti unggahan dari akun Instagram Radar Bali.

Saweran ini bukan hadiah resmi, melainkan bentuk apresiasi spontan dari penonton yang larut dalam euforia pertandingan. Dalam unggahan tersebut, tampak para pemain tersenyum lebar sambil memamerkan uang tunai yang mereka simpan di kaos kaki.

Nominalnya bervariasi, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu, tergantung kontribusi mereka di lapangan seperti mencetak gol atau memberi assist.

Tarkam sendiri adalah akronim dari antar kampung, sebuah kompetisi olahraga yang umum dimainkan oleh atlet-atlet amatir. Tak jarang, total uang saweran yang dikumpulkan seorang pemain bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah dalam satu pertandingan.

Fenomena ini memperlihatkan betapa besarnya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola tarkam. Meski hanya pertandingan amatir, atmosfer di pinggir lapangan sering kali tak kalah meriah dibandingkan laga profesional.

Meski bukan ajang resmi, tak sedikit kampung yang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menyewa pemain profesional. Tujuannya jelas: meningkatkan peluang menang dan membanggakan kampung mereka di depan publik.

Umumnya, pertandingan ini mempertemukan dua tim dari kampung, desa, atau kecamatan berbeda dalam berbagai cabang olahraga, terutama sepak bola.

Seorang agen top tarkam bernama Agen Agung mengungkapkan ia bisa meraup penghasilan hingga Rp45 juta dari satu kompetisi tarkam. Pendapatannya bergantung dari seberapa banyak pemain bintang yang ia kelola dan seberapa jauh tim tersebut melaju di turnamen.

"Semakin sering menang, semakin banyak juga uang yang bisa dikumpulkan," ujarnya dalam wawancaranya di kanal YouTube Sport77. Pendapatan tersebut belum termasuk bonus dari pihak panitia atau sponsor lokal yang kadang turut memberikan penghargaan.

Banyak dari pemain tarkam itu sebelumnya adalah atlet daerah atau eks pemain profesional. Mereka bermain demi uang tambahan, menjaga kebugaran, sekaligus karena kecintaan mereka terhadap sepak bola.

Salah seorang pemain tarkam di Pekanbaru, Riau, bernama Azwir menambahkan, ada kalanya pemain bintang berlaga di tarkam. Biasanya kehadiran pemain bintang akan mempengaruhi jumlah penonton.

"Pemain kampung tidak kalah hebatnya dengan pemain bintang. Pemain tarkam akan habis-habisan membela klub yang membawanya. Sedangkan pemain bintang lebih banyak cari aman. Hanya membawa bola-bola bersih. Mungkin mereka takut cidera," kata Azwir.

Fenomena tarkam ini menjadikan sepak bola sebagai panggung alternatif bagi para pesepak bola non-liga. Meskipun bukan karir utama, pertandingan tarkam mampu menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan.

Tarkam juga memiliki nilai budaya yang cukup kuat di masyarakat Indonesia. Tak hanya sebagai ajang adu gengsi antar kampung, tetapi juga wadah hiburan rakyat yang mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Antusiasme dalam tarkam juga mendorong munculnya bakat-bakat muda yang berpotensi menjadi pemain profesional di masa depan. Suasana kompetitif yang dibalut kegembiraan ini menjadi tempat belajar ideal bagi calon-calon atlet.

Sementara itu, bagi para pemain senior, tarkam menjadi ajang nostalgia dan pelampiasan semangat kompetitif yang tak pernah padam. Dengan dukungan warga dan hadiah saweran yang menggiurkan, mereka pun bermain sepenuh hati.

Tradisi saweran di tarkam ini kini menjadi semacam insentif yang tidak tertulis. Semakin baik performa seorang pemain, semakin tebal pula isi kaos kakinya di akhir laga yang belum termasuk bonus jika menang.

Azwir menambahkan, biasanya klub tarkam akan mencari dua sampai lima pemain luar. Jika permintaannya sampai lima, Azwir mengaku siap membawa teman-teman lainnya.

"Bisa hidup dengan main di tarkam. Ada nominalnya di sana. Memang tidak besar, tapi bisa untuk hidup," ucapnya.

Jika bermain di luar daerahnya, Aswir juga bisa mendapatkan uang tambahan. "Nanti rental mobil. Saya yang bawa. Dari sana saya dapat uang tambahan," ulasnya.

Para pemain tidak malu untuk memamerkan hasil saweran mereka di depan kamera, menjadi simbol kebanggaan atas kontribusi mereka di pertandingan.

Bahkan ada yang sengaja menyelipkan uang di beberapa bagian tubuh untuk menghindari jatuh atau hilang saat berlari seperti di dalam kaos kaki.

Meski diadakan secara sederhana, dampak sosial dan ekonomi dari tarkam sangat besar di banyak daerah di Indonesia. Maka tak heran jika budaya tarkam ini terus berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Dengan viralnya momen saweran di media sosial, tarkam kini bukan lagi sekadar pertandingan biasa. Ia telah menjadi simbol menghidupi sepak bola akar rumput terhadap minimnya akses ke dunia olahraga profesional dan bukti semangat rakyat tak pernah padam.

Sumber: Jawapos.com

Editor : Rinaldi
#sepakbola #saweran #kaos kaki #tarkam