Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jondul dan Aware Masyarakat terhadap Kegiatan Prostitusi

Rindra Yasin • Rabu, 6 Mei 2015 | 11:18 WIB
PERUMAHAN Jondul  Pekanbaru. Siapa yang tak kenal? Kompleks Perumahan itu  gampang dikenali setelah kita melewati Pasar Sail. Jalan Kuantan juga bisa digunakan sebagai akses ke perumahan itu. Dilihat sekilas memang sulit membedakan mana rumah “baik-baik” di perumahan itu dan mana yang menjadi  tempat praktik prostitusi. Jadi jangan membayangkan akan ada rumah dengan  spanduk, atau papan reklame pusat jajan pria di sana. Seperti diakui Ketua RW 10 Ahmad Heri.

“Mereka tidak memasang plang panti pijat, namun para pelanggan  sudah tahu mana tempat yang dijadikan sebagai tempat bisnis esek-esek. Warga di sini juga sudah tahu, karena pakaian minim dan banyaknya tamu berdatangan pada malam hari ke rumah itu,’’ katanya (Riau Pos, 2 Mei)

Namun warga yang muak dengan praktik esek-esek di perumahan tersebut meluap sudah.  

Masyarakat dari seluruh  elemen yang berasal dari majelis taklim, ormas  yang  ada di Kecamatan Tenayan Raya  membuat gempar masyarakat di sekitar Perumahan Jondul, Jumat (1/5) siang. Mereka berkumpul bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tenayan Raya mendatangi Kompleks Jondul, Kelurahan  Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya. Menurut, lokasi yang kerap dijadikan tempat prostitusi berkedok panti pijat yang sudah meresahkan. Mereka menuntut agar lokalisasi Jondul ditutup.

“Aware” masyarakat ini membuahkan hasil. Wali Kota Pekanbaru  H Firdaus ST MT menyampaikan dukungan atas aksi damai yang dilakukan warga di Kompleks Perumahan Jondul tersebut. Ia pun memerintahkan agar ketua RT, RW, lurah, camat dan pemuka masyarakat terlibat melakukan penertiban. Dengan cara seperti itu diharapkan semua pihak dapat ikut  mengawasi dan mempersempit ruang gerak pelaku prostitusi.

Sebelum ini sesungguhnya Kota Pekanbaru sudah mencatatkan keberhasilan dalam perang melawan prostitusi. Keputusan Pemko Pekanbaru yang mengakhiri kawasan lokalisasi Teleju yang selama berpuluh tahun sebagai kawasan prostitusi terpadat di Riau adalah langkah besar mengeliminir bisnis prostitusi di Bumi Lancang Kuning ini.

Siapa yang nyana  kalau penutupan lokalisasi Teleju justu menumbuh-suburkan bisnis esek-esek ini di tempat lain di Pekanbaru. Mungkinkah berkembangnya Jondul ada korelasi dengan penutupan lokalisasi ini?  Perlu pendataan lebih lanjut, jika kita ingin menguak hubungan tersebut. Yang jelas, dari segi prasarana Jondul tentu lebih ‘strategis’ untuk mengundang lebih banyak lagi para pelanggan yang menjadi penikmat usaha esek-esek ini.

Kita menyambut baik langkah-langkah yang diambil Pemerintah Kota Pekanbaru yang menerima apresiasi warga yang tidak sudi lingkungannya digunakan untuk kegiatan-kegiatan prostitusi ini. Pemerintah Riau dan Pemko Pekanbaru juga terlihat sudah mengambil langkah-langkah penting untuk menghadang laju  bisnis prostitusi ini, termasuklah memerintahkan dua dinasnya untuk  melakukan pemantauan  terhadap bisnis esek-esek secara online di wilayah Riau.

Mengakhiri bisnis biru yang sudah dalam menggurita  ini memang perlu perjuangan keras dan tak kenal lelah. Namun, dengan menumbuhkan “aware” masyarakat dan sehingga terbentuk kesamaan sikap yang anti terhadap kegiatan semacam itu akan membuat para pengusaha  dan pelaku usaha tersebut akan berfikir berkali-kali sebelum mencoba-coba melakukannya.*** Editor : Rindra Yasin