Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Wisata Budaya dan Pertumbuhan Ekonomi

Rindra Yasin • Kamis, 6 Juli 2017 | 09:23 WIB
Wisata budaya sebenarnya bukanlah sesuatu topik yang baru dalam dunia pariwisata. Memang dalam dunia pariwisata ada berbagai sektor yang perlu kita cermati bersama yaitu sektor wisata panorama, wisata budaya dan wisata religi. Biasanya untuk kedua yang terakhir, sering digabungkan menjadi wisata budaya.

Kita kadangkala sering tidak atau kurang  menyadari, mengapa dari berbagai mancanegara bila ingin berliburan dalam bentuk berwisata di Indonesia, tujuan utama ke Pulau Bali. Mengapa demikian? Yang sering kita ketahui hanyalah mengapa para turis mancanegara sangat tertarik ke Pulau Bali, karena Bali memiliki panorama alam yang indah baik panorama daerah pantai maupun panorama daerah pegunungan. Kalau hal itu yang menjadi tujuan wisata turis mancanegara ke Pulau Bali, tentunya akan timbul pertanyaan lanjutan, di mana kalau  terkait tentang keindahan panorama alam, maka sangat banyak sekali panorama alam dari daerah-daerah atau provinsi lain di Indonesia yang jauh lebih indah dan menarik dibandingkan yang ada di Pulau Bali. Para pembaca tentu setuju dengan pernyataan tersebut ya?

Mungkin belum banyak dari di antara kita yang sampai di Kepulauan Anambas Provinsi Kepulauan Riau , dan panorama alam di sana, sangat jauh lebih indah dari yang ada di Pulau Bali, dan begitu pula dengan daerah-daerah lain seperti di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sulawesi Utara serta Papua dan lainnya. Jadi apa ya yang menjadi daya tarik para wisatawan asing tersebut ke pulau dewata tersebu?

Dari hasil survei yang penelitian yang dilakukan para akademisi dari berbagai negara dan telah diterbitkan dalam berbagai jurnal internasional dalam 10 tahun terakhir ini dan bahkan pernah pula dalam waktu yang sudah sangat relatif lama di masa lalu  oleh PATA (Pacific Area Travel Association)    1961 di Amerika Utara, diperoleh suatu kesimpulan bahwa lebih dari 50 persen para turis mancanegara yang mengunjungi Asia dan daerah Pasifik, motivasi perjalanan wisata mereka adalah untuk melihat dan menyaksikan adat-istiadat, proses berkehidupan,  peninggalan sejarah, bangunan-bangunan kuno yang tinggi nilainya.

Jadi kalau begitu balik ke pertanyaan tentang Pulau Bali, jawabannya dari pengamatan secara umum dari berbagai literatur tentang pariwisata, secara garis besar disimpulkan bahwa  para turis asing tersebut  seperti orang dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan sebagainya datang beramai-ramai ke Pantai Kuta dan Pantai Sanur di Bali bila hanya ingin melihat panorama alam di Bali, sudah dapat dipastikan bahwa  banyak pantai yang mungkin saja pemandangan alamnya  di negaranya lebih indah daripada pemandangan Pantai Kuta dan Sanur di Bali tersebut, dan ternyata mereka ingin melihat Kebudayaan Bali yang terkenal eksotis dan unik, berbeda dengan kebudayaan masyarakat mereka. Bila Bali tidak menawarkan kebudayaan masyarakatnya tersebut, mungkin tidak akan ada daya tarik para wisatawan untuk mengunjunginya. Pergeseran motif dari ”berkunjung” ke ”menghayati” turut mendorong pesatnya perkembangan perjalanan budaya atau cultural travel di sejumlah negara. Kini banyak orang yang lebih tertarik melakukan experience (tinggal di satu komunitas) daripada  sekadar trip alias sekadar jalan-jalan.

Objek-objek tersebut tidak jarang dikemas khusus bagi penyajian untuk turis, dengan maksud agar menjadi lebih menarik. Dalam hal inilah seringkali terdapat kesenjangan selera antara kalangan seni dan kalangan industri pariwisata. Banyak hal yang harus dikompromikan dan sering harus diambil oleh para kalangan seniman mengatakan bahwa pengemasan khusus objek-objek tersebut untuk turis akan berisiko menghilangkan keaslian dari suatu budaya, sedangkan kalangan pariwisata mengatakan bahwa hal tersebut tidaklah salah asalkan tidak menghilangkan substansi atau inti dari suatu karya seni.

Walaupun tidak sedikit pihak yang menentang perkembangan pariwisata berbasis budaya ini, namun di sisi lain dalam jumlah yang berimbang para sosiolog dan antropolog yang justru melihat bahwa pariwisata dari sudut pandang global adalah tidak merusak kebudayaan, melainkan justru memperkuat, karena terjadinya proses yang disebut involusi kebudayaan. Kalangan akademisi McKean (1978) mengatakan, meskipun perubahan sosial ekonomi sedang terjadi di Bali, semua itu terjadi secara beriringan dan sejalan dengan usaha konservasi kebudayaan tradisional. Kepariwisataan pada kenyataannya telah memperkuat proses konservasi, reformasi, dan penciptaan kembali berbagai tradisi. Sedangkan Philip F. McKean (1973) bahkan bahwa the traditions of Bali will prosper in direct proportion to the success of tourist industry (Wood, 1979). Di sisi lain para ahli budaya dunia lainnya  berpendapat bahwa dampak kepariwisataan di Bali bersifat aditif, dan bukan substitutif. Kesemuanya itu bermakna bahwa dampak tersebut tidak menyebabkan transformasi secara struktural, melainkan terintegrasi dengan kehidupan tradisional masyarakat (Lansing, 1974).

Terlambatkah kita mengembangkan wisata budaya, jika dibandingkan dengan negara lain di ASEAN? Terutama Kamboja dan Vietnam sudah jauh meninggalkan kita dalam urusan kuantitas dan kualitas dalam berbagai program promosi wisata dan budaya. Contoh yang sederhana saja yaitu Angkor Wat, misalnya dikunjungi lebih dari 2,1 juta turis per tahun dan bila kita bandingkan dengan jumlah pengunjung Candi Borobudur maka jumlah tersebut adalah  dua kali lipatnya. Kita semuanya tahu bahwa Indonesia mempunyai keanekaragaman wisata yang sangat banyak variasinya dan memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara, namun pengelolaan cultural travel di Indonesia masih jauh kalah apik dari negara Asean lainnya.

Kita lirik Thailand dan memang kita akui kemasan wisata budaya Thailand itu lebih matang dan jauh lebih komprehensif  dalam mengembangkan cultural travel. Dalam 1 dekade belakangan ini bahkan Kamboja juga sudah mulai terlihat dengan sajian wisata Angkor Wat-nya. Lebih lanjut kalau kita loncat ke Afrika, sebut saja Mesir yang negara banyak padang pasirnya, sangat paham menjual wisata budaya nya atas peninggalan sejarah lampau.

Ya memang untuk kelompok  Asean yang paling menonjol adalah Thailand.  Wisata budaya dan sejarah, di Thailand cenderung sebenarnya hanya memperlihatkan hal homogenintas karena hanya beberapa etnis dan didominasi peninggalan situs Budha, dan coba kita  bandingkan dengan Indonesia yang memiliki lebih dari 300 suku besar dan terbagi atas ratusan sub-etnis dengan budaya dan bahasa yang berbeda-beda dari Sabang sampai Marauke, maka seharusnya yang bisa disajikan oleh Indonesia terkait wisata budaya jauh lebih banyak ragamnya dan keunikannya.

Secara teoritis, pengertian pariwisata budaya menurut Geriya (1995:103) adalah salah satu jenis pariwisata yang mengandalkan potensi kebudayaan sebagai daya tarik yang paling dominan serta sekaligus memberikan identitas bagi pengembangan pariwisata tersebut. Dalam kegiatan wisata budaya tersebut terkandung sepuluh elemen budaya yakni: 1) kerajinan, 2) tradisi, 3) sejarah dari suatu tempat/daerah, 4) arsitektur, 5) makanan lokal/tradisional, 6) seni dan musik, 7) cara hidup suatu masyarakat, 8) agama, 9) bahasa, 10) pakaian lokal/tradisional (Shaw dan William, 1997).

Dari pakar dikemukakan pula bahwa pariwisata budaya merupakan aktivitas yang memungkinkan wisatawan untuk mengetahui dan memperoleh pengalaman tentang perbedaan cara hidup orang lain, merefleksikan adat dan istiadatnya, tradisi religinya dan ide-ide intelektual yang terkandung dalam warisan budaya yang belum dikenalnya (Borley, 1996: 181). Pakar lainnya seperti Sirtha (2001) mengemukakan motivasi pariwisata budaya, antara lain: 1) mendorong pendayagunaan produksi daerah dan nasional; 2) mempertahankan nilai-nilai budaya, norma, adat istiadat dan agama; 3) berwawasan lingkungan hidup, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial.


Secara logika kita sepakat bahwa kedatangan wisatawan ke suatu destinasi tentunya akan mendatangkan manfaat ekonomis karena aktivitas di tujuan wisata mengharuskan mereka mengeluarkan uangnya untuk memenuhi keperluannya selama berada di destinasi wisata. Namun, dari sudut pandang yang berbeda dinyatakan bahwa kehadiran wisatawan dapat pula berdampak negatif jika mereka melakukan kunjungan tanpa memperhatikan atau memenuhi kaidah-kaidah pelestarian sumber-sumber pariwisata. Kesemuanya itu bermakna bahwa ada konsekwensi yang bersifat fisik (misalnya lingkungan alam dan budaya tangible yang mungkin rusak akibat kegiatan pariwisata) dan non fisik (misalnya pengaruh masuknya budaya luar yang cenderung merusak tatanan nilai suatu masyarakat daerah tujuan wisata) karena adanya kegiatan pariwisata itu. Secara teori juga dinyatakan bahwa jumlah pengunjung yang sangat tinggi misalnya, dianggap sebagai tantangan terhadap kelestarian lingkungan alam dan budaya yang berpotensi pula mengancam keberpihakan alam untuk berkembang jika tidak dikelola secara maksimal (Simpson, 2001). Karena alasan inilah sustainability telah menjadi alternatif pendekatan dalam meminimalisir konsekwensi negatif pariwisata tersebut (Ruhanen, 2010).

Pandangan dari beberapa pakar menyatakan bahwa pariwisata budaya dapat dilihat dalam tiga elemen yang saling berkaitan yakni pemanfaatan budaya dan aset warisan atau pusaka (heritage), konsumsi pengalaman dan produk wisata serta wisatawan sebagai faktor utama (McKercher, 2002; McKercher dan Du Cros 2002; Stylianou-Lambert, 2011). Para wisatawan yang berkunjung ke sebuah destinasi khususnya ketika kunjungan tersebut diarahkan pada aset budaya, maka aktivitas kunjungan tersebut akan berdampak pada kemungkinan pengunjung mempelajari dan memahami hal-hal yang bersifat lampau serta pengalaman akan lingkungan alam dan budaya destinasi tersebut (Fernandes, 2013; Swarbrooke, 1996; Sharpley, 2000). Dari ketiga elemen tersebut, dapat dimengerti bahwa wisatawan yang berada di suatu wilayah akan memanfaatkan fasilitas akomodasi sebagai tempat tinggal sementara, menikmati kuliner di restoran dan melakukan komunikasi dengan masyarakat setempat. Di sinilah sangat eratnya keterkaitan wisata budaya dan pertumbuhan eknomi. Dari hasil riset ilmiah juga dinyatakan bahwa para wisatawan budaya (cultural tourists) secara khusus akan mengunjungi bangunan maupun peninggalan yang bernilai sejarah dan budaya, museum, monument, pusat seni dan budaya serta berpartisipasi pada even-even sejarah dan budaya (Fernandes, 2013; Timothy dan Nyaupane, 2009; Timothy, 2011).

Pariwisata budaya acap kali dikaitkan dengan berbagai iven budaya, misalnya festival budaya, upacara adat, dan sebagainya. Berbagau iven ini dibuat atau didesain untuk menarik wisatawan asing dan domestik yang pada akhirnya mengarah pada eksploitasi budaya untuk kepentingan konsumsi wisatawan (Cole 2007; Goulding, 1998).

Penciptaan atau pembuatan iven ini yang biasanya dapat mengarah pada persoalan keaslian budaya suatu destinasi. Mengingat kebudayaan yang didesain sedemikian rupa tidak lagi mencerminkan keaslian dari kebudayaan itu sendiri, maka ada kecenderungan keaslian kebudayaan itu seolah olah telah kehilangan identitas. Adanya dikotomi dan berbagai pandangan itulah yang menyebabkan isu komodifikasi dan keaslian budaya suatu daerah tujuan wisata telah banyak menjadi perdebatan dari para peneliti dan penulis-penulis pariwisata dan kebudayaan (Chhabra, Healy dan Sills, 2003; Cole, 2007; Wang, 1999).


Kita semua pasti setuju bila yang terpilih negara yang paling unggul di dunia dalam memajukan  wisata budaya nya adalah  Australia. Terbukti bahwa devisa terbesar yang masuk sebagai pendapatan negara Australia salah satu dari 5 besarnya yaitu dari penerimaan devisa dan pajak dari kedatangan wisatawan mancanegara ke negara Australia tersebut.


Kita lihat secara singkat, apa saja yang disajikan Australia tentang wisata budayanya: yang pertama di Sydney, New South Wales. Ada berbagai pertunjukan teater, simfoni atau balet di gedung Opera House ternama Sydney, dan pertunjukan yang dipersembahkan Sydney Theatre Company atau Bangarra Dance Theatre di Walsh Bay yang anggun, serta  teater mandiri di Surry Hills dan Kings Cross.  Juga ada wisata budaya dari The Rocks sampai Hyde Park, Museum Seni Kontemporer, Galeri Seni New South Wales dan Museum Australia.  Berbagai iven secara rutin terkait budaya yaitu: Festival Sydney pada Januari, Festival Penulis Sydney pada Mei dan Festival Film Sydney bulan Juni.

Yang kedua di Melbourne, Victoria. Ada berbagai koleksi karya seni Australia di Galeri Nasional Victoria, salah satu galeri di kawasan budaya ternama Federation Square dan Pusat Seni Kontemporer Australia di Southbank , juga kita dapat menyaksikan penampilan Melbourne Theatre Company atau Melbourne Symphony Orchestra. Kita bisa dengan mudah menemukan  karya seni publik di Docklands dan lukisan dinding, seni instalasi dan galeri yang dikelola seniman di lorong-lorong berkelok kota ini.  Ada destinasi lainnya seperti City Museum dan Museum Melbourne, yang menawarkan kesempatan untuk menyaksikan kebudayaan Aborigin di Victoria dan kunjungan ke Koorie Heritage Trust atau dalam perjalanan Wisata Budaya Aborigin melintasi kebun raya Royal Botanic Gardens. Melbourne menyelenggarakan berbagai acara budaya, termasuk Festival Komedi Melbourne pada April, Festival Jazz Internasional pada Mei dan Festival Seni Internasional pada September.

Begitu pula berbagai macam lainnya kegiatan atau iven wisata budaya di Brisbane, Queensland dan Adelaide, South Australia serta Hobart, Tasmania, di mana pada setiap negara bagian di Australia memiliki masing-masing puluhan iven dan destinasi wisata budaya, dan hal itu memang menjadi andalan negara dalam penerimaaan pendapatan negara baik dari segi pajak maupun devisa dan sekaligus menumbuhkembangkan ekonomi sebagai sumber kekuatan utama.

Terlambatkah Indonesia terkait mengembangkan wisata budaya? Tidak ada kata terlambat. Namun ada yang perlu kita koreksi secara bersama tentang sikap dan pola pandang kita tentang wisata budaya, yaitu banyak pihak selalu mengatakan bahwa tidak berkembangan wisata budaya karena pihak pemerintah belum mengembangkannya secara maksimal. Mind set seperti itu tentunya harus diubah. Dalam menumbuhkembangkan perekonomian dalam bidang budaya swasta, justru pihak swastalah yang harus berinisiatif sebagai pihak yang melihat hal itu adalah peluang bisnis, dan pihak pemerintah hanya sebagai fasilitator.***

Dr H Irvandi Gustari - DIRUT PT Bank Riau Kepri
Editor : Rindra Yasin