Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kegelisahan Epistemik dan Dimensi Religius Kartini

Tim Redaksi • Rabu, 22 April 2026 | 12:51 WIB
Mustiqowati Ummul Fithriyyah (Dosen Administrasi Negara UIN Suska Riau). (JPG)
Mustiqowati Ummul Fithriyyah (Dosen Administrasi Negara UIN Suska Riau). (JPG)

 

RIAUPOS.CO - Peringatan Hari Kartini setiap 21 April seringkali direduksi menjadi simbol kebaya, lomba-lomba seremonial, dan narasi emansipasi yang disederhanakan sebagai “kebebasan perempuan dari tradisi.” Namun, pendekatan semacam ini justru mengaburkan kompleksitas intelektual dan spiritual sosok Raden Ajeng Kartini. 

Kartini bukan sekadar ikon modernitas, melainkan seorang pemikir kritis yang berusaha menjembatani tradisi, agama, dan perubahan sosial secara reflektif. Namun, pertanyaan yang layak diajukan secara lebih kritis adalah sejauh mana kita benar-benar memahami Kartini sebagai subjek intelektual, bukan sekadar simbol emansipasi yang direduksi menjadi narasi populer?

Apakah Kartini hanya perempuan Jawa yang memperjuangkan pendidikan, ataukah ia seorang pemikir yang mengalami kegelisahan epistemik yang mendalam—yakni kegelisahan tentang bagaimana manusia mengetahui, memahami, dan memaknai realitas? Apakah kita selama ini membaca Kartini secara utuh, atau hanya melalui lensa barat yang memisahkan agama dari perjuangan perempuan?

Baca Juga: Sisi Gelap dari Kekuasaan

Tulisan ini berangkat dari asumsi bahwa Kartini bukan sekadar figur sosial, melainkan juga seorang pencari kebenaran. Ia hidup dalam persimpangan tradisi Jawa, kolonialisme Belanda, dan kebangkitan intelektual Islam. Di dalam pusaran itulah muncul kegelisahan epistemik yang tidak sederhana—sebuah kegelisahan yang mendorongnya untuk mempertanyakan otoritas pengetahuan, struktur sosial, dan bahkan praktik keagamaan yang ia warisi.

Kegelisahan epistemik, dalam pengertian sederhana, adalah kegelisahan terhadap sumber dan legitimasi penge­tahuan. Kartini mengalami ini secara intens. Dalam kumpulan suratnya yang kemudian dibukukan sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang, kita menemukan refleksi-refleksi mendalam tentang ketidakpuasan terhadap kondisi inte­lektual masyarakatnya.

Kartini hidup dalam lingkungan priyayi Jawa yang membatasi akses perempuan terhadap pendidikan formal. Namun, justru dalam keterbatasan itulah muncul kesadaran kritis. Ia membaca buku-buku Eropa, berkorespondensi dengan tokoh-tokoh Belanda, dan membandingkan ber­bagai sistem nilai. Di titik ini, pertanyaan epistemik muncul: pengetahuan mana yang benar? Apakah pengetahuan barat lebih unggul? Ataukah ada dimensi lain yang justru diabaikan oleh modernitas barat? Yang menarik, Kartini tidak menerima barat secara mentah. 

Baca Juga: PKNS Riau Jadi Wadah Dakwah Kultural 

Ia memang mengagumi kemajuan pendidikan dan rasionalitas Eropa, tetapi pada saat yang sama ia juga merasa­kan kekosongan spiritual dalam peradaban tersebut. Ini menunjukkan bahwa kegelisahannya bukan sekadar tentang “akses terhadap ilmu,” melainkan tentang kualitas dan orientasi ilmu itu sendiri.

Di sini, Kartini dapat dibaca sebagai sosok yang berada dalam dialektika antara rasionalitas modern dan spiritualitas tradisional. Ia tidak puas dengan tradisi yang membelenggu, tetapi juga tidak sepenuhnya percaya pada modernitas yang sekuler.

 

Dimensi Religius yang Sering Terabaikan

Salah satu reduksi terbesar dalam pembacaan terhadap Kartini adalah pengabaian terhadap dimensi religiusnya. Narasi populer sering menempatkannya sebagai ikon feminisme sekuler, padahal realitasnya jauh lebih kompleks. Kartini adalah seorang Muslimah yang mengalami pergulatan spiritual serius.

Dalam beberapa suratnya, Kartini mengungkapkan kebingungannya terhadap praktik keagamaan yang ia saksikan. Ia mempertanyakan mengapa Al-Qur’an dibaca tanpa dipahami, mengapa agama tidak memberikan pencerahan intelektual, dan mengapa perempuan seolah tidak memiliki ruang dalam struktur keagamaan. Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah bentuk penolakan terhadap agama, melainkan justru ekspresi dari keinginan untuk memahami agama secara lebih autentik.

Baca Juga: Bangunan Liar Menjamur, Satpol-PP Pekanbaru Siapkan Langkah Tegas Lakukan Penertiban, Ini Lokasinya 

Momentum penting dalam perjalanan religius Kartini adalah pertemuannya secara intelektual dengan Kiai Soleh Darat, seorang ulama besar dari Semarang. Melalui tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa yang ditulis oleh Kiai Soleh Darat, Kartini mulai memahami makna ayat-ayat suci yang sebelumnya hanya ia baca secara fonetik. Di titik ini, terjadi transformasi epistemik yang signifikan. Kartini tidak lagi melihat agama sebagai ritual kosong, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang hidup. Ia menemukan bahwa Islam, ketika dipahami secara mendalam, justru memiliki potensi emansipatoris yang kuat.

Ini menantang asumsi umum bahwa emansipasi perempuan di Indonesia semata-mata berasal dari pengaruh Barat. Dalam kasus Kartini, justru terdapat sintesis antara nilai-nilai Islam dan semangat pembebasan. Pertanyaan­nya kemudian: mengapa narasi ini jarang diangkat? Apakah ada bias epistemik dalam cara kita membaca sejarah?

Melihat Kartini dari perspektif epistemologi membuka ruang analisis yang lebih kaya. Ia bukan hanya objek sejarah, tetapi subjek yang aktif memproduksi pengetahuan. Surat-suratnya bukan sekadar curahan hati, melainkan refleksi filosofis yang menunjukkan kemampuan analitis yang tajam. 

Kartini mempertanyakan struktur sosial patriarkal, tetapi ia juga mempertanyakan dasar legitimasi struktur tersebut. Ia tidak hanya bertanya “mengapa perempuan ditindas,” tetapi juga “siapa yang menentukan kebenaran tentang peran perempuan?” Ini adalah pertanyaan epistemik yang fundamental.

Lebih jauh, Kartini juga menyadari keterba­tasan posisinya sendiri. Ia adalah bagian dari elite Jawa yang memiliki akses tertentu, tetapi juga terkungkung oleh adat. Kesadaran ini membuat refleksinya menjadi lebih kompleks dan tidak simplistik. Dalam konteks ini, Kartini dapat diposisikan sebagai intelektual organik yang mengalami “double consciousness” kesa­daran ganda antara tradisi dan modernitas, antara timur dan barat, antara agama dan rasionalitas. Kegelisahan epistemiknya lahir dari ketegangan ini.

Salah satu kontribusi penting Kartini adalah upayanya untuk menjembatani Islam dan modernitas. Ia tidak melihat keduanya sebagai entitas yang harus dipertentangkan, melainkan sebagai sumber daya yang dapat saling melengkapi. Kartini mengkritik praktik keagamaan yang tidak rasional, tetapi ia tidak menolak agama. Sebaliknya, ia mencari bentuk Islam yang lebih rasional dan humanis. Ini sejalan dengan tradisi intelektual Islam yang menekankan pentingnya akal (‘aql) dalam memahami wahyu.

Namun, di sinilah muncul pertanyaan kritis: apakah pembacaan kita terhadap Kartini terlalu dipengaruhi oleh kerangka barat? Apakah kita cenderung mengabaikan dimensi Islam karena dianggap tidak “modern”? Jika demikian, maka kita sedang mengulangi kesalahan epistemik yang justru ingin dikritik oleh Kartini.

Kartini menunjukkan bahwa emansipasi tidak harus berarti sekularisasi. Ia menawarkan model alternatif di mana pembebasan perempuan dapat berakar pada nilai-nilai religius yang dipahami secara kritis. Kegelisahan epistemik Kartini tidak berhenti pada zamannya. Justru, dalam konteks kontemporer, kegelisahan itu menjadi semakin relevan. 

Kita hidup di era banjir informasi, di mana pengetahuan tersedia secara melimpah tetapi tidak selalu terverifikasi. Pertanyaannya menjadi semakin mendesak: bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu itu benar? Dalam konteks pendidikan, misalnya, apakah kita masih mewarisi semangat kritis Kartini? Ataukah kita justru terjebak dalam reproduksi pengetahuan tanpa refleksi? 

Kartini mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses pencarian makna. Dalam konteks keagamaan, kegelisahan Kartini juga tetap aktual. Banyak praktik keagamaan yang masih bersifat ritualistik tanpa pemahaman mendalam. Di sini, pertanyaan Kartini menjadi relevan kembali: bagaimana mungkin agama menjadi sumber pencerahan jika tidak dipahami?

Lebih jauh, dalam diskursus gender, Kartini sering dijadikan simbol tanpa pemahaman yang utuh. Ia direduksi menjadi ikon emansipasi, tetapi dimensi intelektual dan religiusnya diabaikan. Ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyederhanakan figur kompleks menjadi narasi yang mudah dikonsumsi.

Menuju Pembacaan Ulang Kartini

Jika kita serius ingin memahami Kartini, maka diperlukan pembacaan ulang yang lebih kritis dan komprehensif. Pembacaan ini harus melampaui dikotomi sederhana antara tradisi dan modernitas, antara agama dan sekularisme. Kartini harus dilihat sebagai pemikir yang berada dalam proses menjadi (becoming), bukan sebagai simbol yang statis. 

Kegelisahan epistemiknya justru menunjukkan bahwa ia tidak pernah berhenti bertanya. Di sini, kita dihadapkan pada tantangan intelektual: apakah kita siap untuk membaca Kartini secara lebih kompleks? Ataukah kita akan terus mempertahankan narasi sederhana yang nyaman tetapi reduktif?

Pembacaan ulang ini juga menuntut keberanian untuk mengakui bahwa sejarah tidak pernah netral. Cara kita memahami Kartini sangat dipengaruhi oleh kerangka epistemik yang kita gunakan. Oleh karena itu, refleksi terhadap Kartini juga merupakan refleksi terhadap diri kita sendiri sebagai subjek yang mengetahui. Pada akhirnya, Kartini bukan hanya tentang emansipasi perempuan, tetapi tentang etika pencarian kebenaran. Ia menunjukkan bahwa pengetahuan tidak boleh diterima begitu saja, tetapi harus diuji, dipertanyakan, dan dipahami secara mendalam.

Kegelisahan epistemik Kartini adalah warisan intelektual yang berharga. Ia mengajarkan bahwa menjadi manusia berarti terus bertanya, bahkan terhadap hal-hal yang dianggap mapan. Dalam dunia yang semakin kompleks, sikap ini menjadi semakin penting. Dimensi religius Kartini juga memberikan pelajaran penting: bahwa spiritualitas tidak harus bertentangan dengan rasionalitas. Justru, keduanya dapat saling memperkaya jika dipahami secara kritis.

Maka, memperingati Kartini seharusnya bukan hanya tentang mengenakan kebaya atau mengulang slogan emansipasi. Lebih dari itu, ia adalah momentum untuk merefleksikan kembali cara kita memahami pengetahuan, agama, dan kemanusiaan.

Pertanyaan terakhir yang perlu kita ajukan, dan mungkin tidak mudah dijawab adalah: jika Kartini hidup hari ini, apakah ia akan puas dengan cara kita memahami dirinya? Ataukah ia justru akan kembali gelisah, melihat bagaimana pikirannya direduksi dan disederhanakan? Di titik inilah, Kartini menjadi relevan—bukan sebagai jawaban, tetapi sebagai pertanyaan yang terus hidup.***

Editor : Arif Oktafian
#PEMIKIRAN ISLAM #hari kartini #emansipasi perempuan