Akar historis sastra di bumi Riau bukanlah tradisi yang miskin literer. Jauh sebelum Indonesia merdeka, wilayah ini telah melahirkan karya-karya penting yang menjadi fondasi perkembangan bahasa dan sastra Melayu. Nama besar seperti Raja Ali Haji melalui Gurindam Dua Belas dan Tuhfat al-Nafis menempatkan Riau sebagai salah satu pusat intelektual Melayu di Nusantara.
Memasuki abad ke-20, tradisi tersebut terus berlanjut melalui karya-karya para sastrawan ulung. Sebutlah Soeman HS, pujangga, bahasawan, cerpenis, sekaligus novelis yang kini namanya menjadi identitas resmi gedung perpustakaan wilayah Provinsi Riau. Ada pula Sutardji Calzoum Bachri, “presiden penyair” yang mengguncang konvensi sastra Indonesia lewat kredonya: membebaskan kata dari makna.
Kehadiran tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar pelengkap kehidupan berbahasa masyarakat Riau, melainkan telah menjadi denyut intelektual yang tumbuh dari masa ke masa. Meski penulis lahir pada awal 2000-an, ketika generasi baru sastrawan telah mengambil alih panggung, namun euforia terhadap presensi bahan bacaan prosa dan karya sastra lintas generasi masih terasa dekat.
Baca Juga: Paradoks Gambut Pesisir Riau yang “Kehausan”
Belasan tahun silam di pesisir Kepulauan Meranti, perpustakaan masih menjadi rumah pengetahuan. Ingatan itu belum lekang; wajah-wajah belia dengan rasa haus akan pengetahuan dan ketertarikan pada prosa memenuhi sudut-sudut rak. Judul seperti Karangan Bunga di Hari Keputeraan, Hikayat Dewa Mendu, Petualangan Tak Terduga, Putri Pinang Masak, Hantu Berburu, Dandan Setia, hingga karya Abel Tasman seperti Hang Tuah dan Empat Sahabat dan Menyelamatkan Kota Sakai selalu ramai dikunjungi. Demam membaca prosa ini juga merambah karya penulis lokal kabupaten, seperti Hang Perkasa, Sumpah Kucing, dan Tempias yang mayoritas ditulis oleh Afrizal Cik.
Namun, realitas hari ini cukup mengkhawatirkan. Perpustakaan yang dahulu menjadi ruang katalisator imajinasi dan cawan pengetahuan, kini fungsinya kian tereduksi. Minat pembaca muda tergerus setiap tahun.
Data Goodstats.id mencatat, pengunjung Perpustakaan Nasional merosot drastis dari 593 ribu pada 2017 menjadi 261 ribu pada 2025. Di tingkat lokal, nyaris tak ada data sistematis mengenai kondisi perpustakaan desa dan kelurahan di Riau. Namun, pengamatan sederhana penulis menunjukkan bahwa banyak perpustakaan desa mengalami nihilitas pengunjung dan seolah hanya dipertahankan demi kelengkapan administratif semata.
Baca Juga: Mencari Jalan Tengah Reformasi Pemilu Indonesia
Dari perspektif pemustaka, salah satu penyebab utamanya adalah terbatasnya distribusi bahan bacaan prosa seperti legenda, hikayat, dongeng, cerpen, novel remaja, dan fiksi modern. Hal ini sejalan dengan riset Hafizul Wahdi (2019) yang menyimpulkan bahwa ketersediaan koleksi buku fiksi berpengaruh signifikan terhadap minat kunjung masyarakat.
Semakin banyak dan beragam koleksinya, semakin tinggi pula minat masyarakat datang ke perpustakaan. Karya-karya prosa Riau memang selalu menjadi magnet bagi anak dan remaja. Ironisnya, kini buku-buku tersebut semakin sulit ditemukan. Buku lama tidak dicetak ulang, distribusi judul baru hampir nihil, dan jika pun tersedia, jarang menyentuh perpustakaan desa. Minimnya anggaran pengadaan buku membuat pustakawan hanya bisa menanti kiriman buku bertema umum yang belum tentu sesuai dengan minat pembaca muda.
Persoalan ini sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan menurunnya minat baca, tetapi juga menyangkut akses terhadap bahan bacaan yang relevan dengan latar budaya pembaca. Generasi muda di daerah membutuhkan cerita yang dekat dengan kehidupan mereka.
Legenda, hikayat, novel remaja berlatar pesisir, kisah petualangan, maupun cerita rakyat Melayu Riau memiliki daya tarik tersendiri karena menghadirkan pengalaman membaca yang terasa akrab. Ketika koleksi semacam ini tidak tersedia, perpustakaan kehilangan salah satu fungsi terpentingnya sebagai ruang yang menumbuhkan kecintaan membaca melalui pengalaman yang menyenangkan.
Berbagai persoalan seperti distribusi yang timpang, tergerusnya koleksi prosa lokal, serta minimnya pengadaan bahan bacaan fiksi yang sesuai dengan minat pembaca bermuara pada satu kenyataan bahwa perpustakaan di Riau perlahan kehilangan daya pikatnya bagi generasi muda.
Tanpa langkah korektif, rantai pewarisan tradisi literer Melayu Riau terancam putus. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih terfokus untuk mengembalikan karya sastra dan bacaan fiksi ke rak-rak perpustakaan, terutama di tingkat desa dan kelurahan.
Langkah pertama yang paling mendesak adalah redistribusi karya sastra lama secara masif. Pemerintah daerah melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip, bila perlu bekerja sama dengan Yayasan Pusaka Riau, harus segera memulai program pencetakan ulang terbatas atau digitalisasi naskah-naskah prosa lokal yang terpendam dalam arsip.
Baca Juga: Perang tanpa Peluru: Menakar Benturan Kedaulatan Ekonomi dan Logika Finansial Modern
Buku karya Soeman HS, Abel Tasman, Syaukani Al Karim, serta berbagai cerita rakyat yang telah dikompilasi perlu disebarluaskan kembali ke seluruh perpustakaan desa dan kelurahan hingga pelosok Riau. Langkah ini bukan hanya memulihkan akses baca, melainkan juga menegaskan bahwa sastra Riau adalah warisan hidup, bukan sekadar artefak masa lalu.
Langkah kedua adalah memperkuat kebijakan pengadaan bahan bacaan fiksi di perpustakaan. Selama ini distribusi buku sering kali didominasi bacaan umum dan buku pengetahuan populer, sementara koleksi fiksi justru sangat terbatas.
Padahal, bagi banyak pembaca muda, kebiasaan membaca sering tumbuh dari novel, cerpen, legenda, dan karya sastra lainnya. Karena itu, pengadaan buku perlu memperhatikan keseimbangan antara bacaan informatif dan bacaan imajinatif agar perpustakaan mampu menjangkau lebih banyak kelompok pembaca.
Menanti kembalinya karya sastra Riau di ruang perpustakaan bukanlah sekadar romantisme nostalgia. Ini adalah upaya merebut kembali ruang imajinasi dan pembentukan karakter generasi muda Melayu Riau agar tidak tercerabut dari akar budayanya. Perpustakaan yang dahulu merupakan rumah pengetahuan dan magnet literasi harus dipulihkan fungsinya melalui ketersediaan koleksi yang memadai.
Redistribusi karya lama secara masif serta penguatan pengadaan bahan bacaan fiksi yang merata hingga pelosok daerah menjadi langkah strategis yang perlu segera ditempuh. Tanpa intervensi serius dari para pemangku kepentingan, perpustakaan hanya akan menjadi monumen sunyi di tengah berbagai janji kemajuan literasi. Sudah waktunya karya sastra Riau kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dimulai dari rak-rak perpustakaan yang ramah dan meriah bagi para pembaca mudanya.***
Editor : Arif Oktafian