PROSES pemilihan Rektor Universitas Riau (Unri) periode 2026–2030 menjadi momentum strategis yang akan menentukan arah pengembangan universitas dalam beberapa tahun mendatang. Di tengah dinamika pemilihan, muncul satu pertanyaan mendasar: indikator apa yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam memilih seorang rektor?
Dalam tata kelola perguruan tinggi modern, rekam jejak kepemimpinan dipandang sebagai salah satu indikator penting. Keberhasilan seseorang memimpin unit akademik sebelumnya dapat memberikan gambaran mengenai kemampuannya menerjemahkan visi ke dalam program yang terukur, membangun kolaborasi, mengelola sumber daya, serta menghasilkan dampak nyata bagi institusi.
Universitas Riau sendiri memasuki tahapan ini dengan modal yang cukup kuat. Dalam beberapa tahun terakhir, UNRI mencatat berbagai capaian, mulai dari peningkatan kualitas akademik, penguatan budaya riset, peningkatan publikasi ilmiah, perluasan jejaring kerja sama, hingga meningkatnya kepercayaan dari pemerintah maupun dunia industri. Tantangan bagi rektor berikutnya bukan hanya mempertahankan capaian tersebut, tetapi juga membawa UNRI berkembang menjadi perguruan tinggi riset yang unggul, inovatif, dan memiliki daya saing internasional.
Baca Juga: BRI Sukses Tekan Cost of Fund dan Perkuat Profitabilitas
Dalam konteks tersebut, rekam jejak setiap calon menjadi salah satu aspek yang relevan untuk dipertimbangkan. Penilaian tidak semata didasarkan pada jabatan yang pernah diemban, melainkan pada hasil konkret yang berhasil diwujudkan selama memimpin unit kerja masing-masing.
Salah satu contoh yang kerap menjadi pembahasan di lingkungan akademik adalah pengalaman Prof. Ahmad Fadli, S.T., M.T., Ph.D. saat memimpin Jurusan Teknik Kimia dan kemudian Fakultas Teknik Universitas Riau. Berbagai program yang dijalankan menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang menitikberatkan pada kolaborasi, inovasi, serta penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri.
Saat menjabat sebagai Ketua Jurusan Teknik Kimia, Prof. Ahmad Fadli terlibat dalam pengembangan Program Studi D3 Teknologi Pulp dan Kertas (TPK) di Fakultas Teknik Universitas Riau. Program tersebut dibangun melalui kolaborasi dengan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dan Tanoto Foundation sebagai model pendidikan vokasi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan industri pulp dan kertas. Seiring perkembangannya, program studi tersebut berhasil meraih akreditasi Unggul serta memiliki tingkat penyerapan lulusan yang tinggi, sehingga kerap dijadikan contoh sinergi antara perguruan tinggi dan dunia usaha.
Pada periode yang sama, penguatan jejaring kemitraan juga diwujudkan melalui kerja sama dengan PT Pertamina Hulu Rokan dan PT Kilang Pertamina Internasional. Kolaborasi tersebut menghasilkan pembangunan Gedung Petrochemical Center di Fakultas Teknik Universitas Riau dengan nilai investasi sekitar Rp34 miliar. Fasilitas ini sekaligus membuka ruang bagi pengembangan riset terapan, program magang, serta peningkatan kompetensi mahasiswa yang selaras dengan kebutuhan industri energi dan petrokimia.
Baca Juga: Daewong Buka Babak Baru Perlawanan Diabetes Lewat SGLT-2 Inhibitor Andalan
Menurut Ir. Yohanes, S.T., M.T., Wakil Dekan III Fakultas Teknik Universitas Riau, kepemimpinan perguruan tinggi saat ini membutuhkan sosok yang mampu mengintegrasikan kualitas akademik dengan kemampuan membangun kolaborasi lintas sektor.
"Universitas Riau memerlukan pemimpin yang memiliki visi jangka panjang, mampu membangun sinergi, serta mendorong budaya inovasi di seluruh unit kerja. Prof. Ahmad Fadli telah menunjukkan komitmennya dalam pengembangan Fakultas Teknik, dan pengalaman tersebut menjadi modal yang berharga dalam menghadapi tantangan universitas di masa depan," ujarnya.
Yohanes menambahkan bahwa pembangunan universitas tidak hanya bergantung pada penguatan aspek akademik, tetapi juga pada kemampuan memperluas kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, industri, serta mitra internasional guna meningkatkan daya saing lulusan.
Di lingkungan Fakultas Teknik, berbagai program penguatan laboratorium, peningkatan publikasi ilmiah, serta pengembangan kemitraan dengan berbagai institusi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem akademik yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendekatan tersebut dinilai selaras dengan kebutuhan Universitas Riau dalam meningkatkan reputasi institusi.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan di perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan administrasi akademik, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan para mitra eksternal. Di tengah persaingan global, universitas memerlukan jejaring yang kuat dengan industri, pemerintah, lembaga penelitian, dan mitra internasional agar hasil pendidikan maupun penelitian memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ketika dipercaya sebagai Dekan Fakultas Teknik, pendekatan tersebut berlanjut melalui berbagai inisiatif penguatan kelembagaan. Salah satu di antaranya adalah gagasan revitalisasi Kampus Purnama Universitas Riau di Dumai sebagai pusat pengembangan pendidikan vokasi yang lebih dekat dengan kawasan industri. Menurut Yohanes, inisiatif tersebut memperoleh respons positif dari Pemerintah Kota Dumai karena dinilai mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan dunia usaha dalam mencetak tenaga kerja profesional yang sesuai dengan kebutuhan industri di Provinsi Riau.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa rekam jejak kepemimpinan bukan sekadar daftar jabatan yang pernah diemban. Yang lebih penting adalah kemampuan menghasilkan perubahan yang terukur, membangun kolaborasi lintas sektor, mengelola sumber daya secara efektif, serta menghadirkan inovasi yang memberi manfaat bagi sivitas akademika maupun masyarakat.
Berbekal sejumlah capaian tersebut, Yohanes menilai tidak mengherankan apabila Prof. Ahmad Fadli mendapat perhatian dari berbagai kalangan sivitas akademika. Menurutnya, dukungan yang muncul bukan semata-mata didasarkan pada popularitas, tetapi juga pada rekam jejak kepemimpinan yang dinilai mampu menghadirkan berbagai program strategis.
Ia berharap proses pemilihan Rektor Universitas Riau tetap mengedepankan objektivitas, integritas, dan penilaian berdasarkan kapasitas kepemimpinan, sehingga sosok yang terpilih nantinya mampu melanjutkan berbagai capaian yang telah diraih sekaligus membawa UNRI berkembang menjadi perguruan tinggi yang semakin maju dan berdaya saing.
Pada akhirnya, pemilihan Rektor Universitas Riau bukan sekadar menentukan siapa yang akan memimpin universitas selama masa jabatan berikutnya, melainkan menentukan arah perjalanan institusi dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks. Di tengah perubahan lanskap global, perkembangan teknologi, tuntutan hilirisasi riset, dan meningkatnya persaingan antarperguruan tinggi, UNRI membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga kesinambungan prestasi sekaligus menghadirkan pembaruan yang terukur dan berkelanjutan.
Karena itu, rekam jejak kepemimpinan, kualitas gagasan, integritas, kemampuan membangun kolaborasi, serta keberhasilan merealisasikan program menjadi aspek yang layak memperoleh perhatian dalam proses penilaian setiap calon. Gagasan yang baik akan memiliki nilai lebih apabila didukung oleh pengalaman nyata dalam mengelola organisasi, menyelesaikan persoalan, membangun kemitraan strategis, serta menghasilkan capaian yang dapat diukur.
Pada akhirnya, kepemimpinan di perguruan tinggi tidak hanya diukur dari banyaknya janji yang disampaikan, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan perubahan yang berdampak nyata bagi institusi. Universitas yang terus berkembang adalah universitas yang mampu melakukan pembaruan tanpa kehilangan jati dirinya, menjaga capaian yang telah diraih, serta menjawab tantangan masa depan melalui kepemimpinan yang visioner, adaptif, dan berorientasi pada kemajuan bersama. Dalam perspektif tersebut, proses pemilihan rektor menjadi momentum bagi sivitas akademika untuk menilai kapasitas kepemimpinan berdasarkan karya, rekam jejak, dan kontribusi nyata bagi kemajuan Universitas Riau.(nto/c)
Ir Yohanes ST MT, Dosen Universitas Riau
Editor : Edwar Yaman