PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Langit Pekanbaru yang selama ini cerah tiba-tiba berubah muram. Sejak Jumat (1/8/2025) sore, hujan deras mengguyur sebagian wilayah kota, tak henti hingga malam. Di tengah musim kemarau yang panjang, turunnya hujan seolah menjadi kejutan yang disambut gembira meski bersamaan dengan rasa waswas.
Udara yang semula panas menyengat berubah sejuk. Aroma tanah basah menguar di antara suara derasnya air yang menghantam atap dan jalan. Namun, di balik kesejukan itu, genangan mulai muncul, menyusul luapan air dari drainase yang tak mampu menampung derasnya aliran.
Di simpang Pasar Pagi Arengka, genangan menutupi badan Jalan HR Soebrantas. Air mengalir pelan namun pasti, menyelimuti aspal hingga mencapai setinggi roda kendaraan.
Baca Juga: Revitalisasi Pasar Bawah Capai 43 Persen, Ditargetkan Beroperasi Kembali November
Para pengendara mini bus dan mobil pribadi tampak hati-hati, melambatkan laju mereka sambil mengamati arus air. Beberapa bahkan memilih berhenti di depan ruko, menanti hujan reda, sambil menatap langit dengan cemas.
"Sudah lama tak hujan, jadi segar rasanya. Tapi ya, banjir lagi," ucap seorang pengendara dengan senyum kecut, sembari menyandarkan punggung di mobilnya yang diparkir darurat.
Di sisi jalan, seorang pria paruh baya, Mardi, berteduh sambil memegang helm yang masih meneteskan air. Jaketnya basah hingga ke bagian dada. Ia memutuskan berhenti daripada memaksa menembus genangan.
Baca Juga: Pekerja Tersengat Listrik, Tergantung dan Tak Sadarkan Diri, Begini Kondisinya
"Hujannya deras. Jalan tergenang. Saya takut terpeleset," katanya pelan, matanya menerawang ke arah jalan yang basah.
"Motor saya kecil, licin kalau nekat," sambungnya.
Hujan masih turun, rinai tak kunjung reda. Namun di tengah genangan dan kekhawatiran, ada juga rasa lega. Setelah berminggu kering, tanah kembali tersiram. Meski harus berhadapan lagi dengan persoalan banjir, banyak warga tetap bersyukur atas turunnya hujan.
Karena bagi mereka, di tengah panasnya kehidupan, hujan bukan hanya air dari langit, tapi juga pertanda bahwa segalanya bisa berubah, bahkan di musim yang tak terduga.(ilo)
Editor : Edwar Yaman