PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Pemerintah Kota Pekanbaru menegaskan komitmennya untuk melakukan transformasi besar dalam pengelolaan sampah kota. Hal ini menyusul kunjungan kerja Wali Kota (Wako) Pekanbaru H Agung Nugroho SE MM ke Jepang akhir Januari 2026 lalu, yang difasilitasi melalui penugasan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Wako Agung Nugroho menyebutkan kunjungan tersebut menjadi momentum penting bagi Pekanbaru untuk belajar langsung dari Jepang, negara yang dinilai telah sukses mengatasi persoalan sampah sejak puluhan tahun lalu.
“Alhamdulillah, kita sangat bersyukur mendapat penugasan dari Kemenko Pangan untuk melihat langsung bagaimana Jepang mengelola sampah. Indonesia hari ini, khususnya dalam persoalan sampah, kondisinya hampir sama dengan Jepang sekitar 50 tahun yang lalu,” ujar Agung Nugroho, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, kunci utama keberhasilan Jepang bukan semata teknologi canggih, melainkan tingkat kesadaran masyarakat yang sangat tinggi serta regulasi yang ketat dan konsisten diterapkan. Dua hal inilah yang akan menjadi fokus utama Pemerintah Kota Pekanbaru ke depan.
“Yang paling dipentingkan di sana adalah kesadaran masyarakat, lalu aturan yang sangat ketat. Ini yang akan kita terapkan di Pekanbaru. Tidak bisa hanya pemerintah saja, semua harus terlibat,” tegasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Pemko Pekanbaru juga membuka peluang kerja sama internasional melalui skema Sister City dengan pemerintah daerah di Jepang. Kerja sama ini, lanjut Agung, akan mencakup dukungan pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah, khususnya Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).
“Saat ini kita sudah memiliki lima TPS 3R. Ke depan, dari hasil pembelajaran di Jepang, ada beberapa TPS 3R yang akan dibantu pengembangannya melalui kerja sama ini,” jelasnya.
Agung juga mengungkapkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Jepang sangat terstruktur dan bertahap. Pembakaran sampah memang dilakukan, namun bukan pada tahap awal, melainkan sebagai langkah terakhir melalui teknologi insinerator.
“Di sana sampah memang ujungnya dibakar, tapi itu paling akhir. Sebelumnya harus dipilah dulu antara sampah organik dan non-organik. Sampah organik bisa dijadikan pupuk, maggot, dan lainnya. Sedangkan sampah non-organik bisa dijual dan didaur ulang oleh perusahaan daur ulang plastik,” paparnya.
Pemko Pekanbaru, kata Agung, juga telah mendapatkan rekomendasi langsung dari pihak Jepang untuk menjalin kerja sama dengan asosiasi perusahaan daur ulang. Rekomendasi tersebut akan ditindaklanjuti dengan melibatkan Lembaga Pengelola Sampah (LPS) di Pekanbaru.
“Kita sudah direkomendasikan untuk bekerja sama dengan asosiasi daur ulang. Ini akan kita turunkan ke LPS, supaya pengelolaan sampah non-organik bisa lebih maksimal dan bernilai ekonomi,” ujarnya.
Selain itu, Pemerintah Jepang juga memberikan dukungan (supporting) dalam bentuk pendampingan dan berbagi praktik terbaik yang akan diadaptasi sesuai dengan kondisi Pekanbaru. Hasil kunjungan tersebut, menurut Agung, sudah mulai dibahas dalam rapat internal Pemko Pekanbaru.
“Apa yang kita pelajari di Jepang kemarin, itu yang kita bahas dan akan kita terapkan. Urusan sampah ini bukan urusan satu OPD saja, tapi urusan semua OPD, semua ASN, karena kita semua adalah penghasil sampah,” tegasnya.
Saat ditanya apakah Pekanbaru bisa sebersih Jepang, Agung menyatakan optimisme yang kuat. Ia menegaskan bahwa Pemko Pekanbaru tidak akan menyerah dalam mewujudkan kota yang bersih dan tertata.
“Kita tidak akan pernah menyerah. Selain soal sampah, kita juga belajar banyak dari pendidikan di Jepang yang luar biasa. Mereka tidak mengubah banyak hal, tapi menjaga. Bangunan lama dipertahankan, dirawat, bahkan menjadi indah, bukan diganti dengan bangunan baru yang megah,” ungkapnya.
Agung menilai filosofi menjaga dan merawat itulah yang perlu ditanamkan di Pekanbaru, baik dalam pengelolaan lingkungan, tata kota, maupun perilaku masyarakat sehari-hari. Ia juga mengaku semakin yakin dengan arah kebijakan pengelolaan sampah Pekanbaru setelah beberapa kali melihat langsung pabrik Waste to Energy (WTE) di Jepang.
Dengan pembelajaran internasional tersebut, Pemko Pekanbaru berharap langkah-langkah konkret yang akan diterapkan mampu membawa perubahan signifikan, sekaligus menjadikan pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Alhamdulillah, setelah melihat langsung, kita semakin yakin. Banyak hal yang bisa kita adopsi dan sesuaikan dengan kondisi Pekanbaru,” tutupnya.(ali)
Editor : Edwar Yaman