JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Kendati diucapkan dalam acara internal partai, pidato politik Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kata yang tak pantas tetap dianggap tidak etis. Prabowo memang menyindir pengritiknya dengan mimik mengejek dan disambar tawa pejabat pada acara perayaan Hari Ulang Tahun ke-17 Gerindra, Sabtu (15/2).
Pengamat politik dan komunikasi publik menilai hal itu berlebihan, kekanak-kanakan, dan tak pantas diucapkan seorang kepala negara. Kata-kata tak pantas yang terlontar ketika Prabowo yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra, berbicara terkait tiga hal, yakni pembentukan kabinet, makan bergizi gratis, dan kedekatannya dengan mantan presiden Joko Widodo.
Peneliti dari Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), Teuku Harza Mauludi, menilai sikap resisten Prabowo tersebut muncul karena dia tidak terbiasa menerima kritikan, adanya dukungan partai yang besar, dan tingkat kepuasan publik yang diklaim tinggi.
Hanya saja pakar komunikasi politik LSPR, Lely Arrianie, mengingatkan kalau kritikan publik terus menerus dibalas dengan ungkapan yang tidak pantas, maka elektabilitas Prabowo akan terdegradasi pelan-pelan.
Menanggapi hal ini, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, mengatakan Presiden Prabowo mendengarkan semua kritikan dan masukan yang disampaikan.
Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden Prabowo Subianto berpidato pada acara perayaan Hari Ulang Tahun ke-17 Gerindra di Sentul City International Convention Center. Sejumlah tokoh seperti mantan presiden dan ketua umum partai politik turut diundang. Yang membetot perhatian adalah kehadiran Joko Widodo bersama anaknya yang kini menjadi Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka.
Di atas podium Prabowo berbicara panjang lebar soal keputusan maupun kebijakan pemerintahannya yang kerap dikritik oleh pengamat, akademisi, maupun publik.
“Kita (partai koalisi pemerintah, red) harus mau diawasi. Kita harus mau dikoreksi. Kita harus mau dikritik. Tetapi, kritiknya yang benar, jangan kritik berdasarkan dendam,” tutur Prabowo.
Prabowo kemudian menyinggung soal keberhasilannya dan tentu saja Gerindra menjadi pemenang Pilpres 2024 tak lepas dari dukungan Presiden ke-7 Joko Widodo. Ucapan tersebut disambut tepuk tangan meriah.
“Kurang semangat, semangat lagi... Hidup Jokowi!” kata Prabowo dengan tangan mengepal di udara dan disambung lirik nyanyian terima kasih Pak Jokowi berulang kali.
Jokowi yang hadir bersama anaknya sekaligus Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, lantas berdiri sambil tersenyum lebar sebagai balasan dari pernyataan Prabowo.
Setelahnya, dia mulai menyinggung tiga hal yang membuatnya tampak kesal sehingga terlontar kata-kata tak pantas. Tiga hal tersebut adalah, pertama, soal makan bergizi gratis. Kedua, soal kabinet gemuk. Ketiga, soal tuduhan cawe-cawe Jokowi di pemerintahannya.
Usai pidato politik Prabowo Subianto bertebaran di media sosial, warganet turut bereaksi. Aktor Fedi Nuril, salah satunya.
Ia mencuit, “malu Presiden RI yang sudah berumur 73 tahun berpidato menggunakan gestur ala bocah “nye...nye...nye” dan ngomong.... ”.
“Di ruangan itu reaksinya banyak orang ketawa pula,” tulis Fedi.
Cuitan aktor ini sudah dilihat 3,3 juta kali dan disukai 54.000 akun serta dikomentari 3.000 akun.
Ada juga komika Sammy Notaslimboy menilai kata tak pantas yang diucapkan Presiden Prabowo dan disambut riuh rawa para pejabat tidaklah lucu.
“Kalau Pakde Tarzan atau Tessy bilang kata itu, kita bisa ketawa. Kalau orang yang punya akses terhadap kekuatan militer, janganlah keseringan ngomong..., paham kan?”
Peneliti dari Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), Teuku Harza Mauludi, mengatakan respons warganet yang menyebut Presiden Prabowo kekanak-kanakan setelah melontarkan kata-kata tak pantas kala menanggapi kritikan publik ada benarnya.
Kendati hal itu diucapkan Prabowo di acara partai dan di depan seluruh kadernya, tetap saja tidak ideal. Menurutnya, Prabowo harus lebih bijak menyampaikan pernyataan sebagai pejabat publik. Sebab kritikan, sambung Harza, tidak melulu ditujukan untuk menyerang.
“Memang wajar saja (respon warganet), karena sikap ketidakdewasaan politik ketika dia (Prabowo) menggunakan kata-kata seperti seperti iuu,” ujar Harza.(int/jpg)
Editor : Arif Oktafian