PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Perayaan besar-besaran Imlek 2575 Kongzii/2024 Masehi di kawasan Pecinan Pekanbaru ditiadakan dan diganti dengan perayaan sederhana dengan penuh rasa kebahagiaan. Ratusan umat Budha di Kota Pekanbaru pun tampak melakukan sembahyang Imlek dengan khidmat di seluruh rumah ibadah yang ada.
Termasuk juga di vihara Dharma Loka Pekanbaru Jalan Karet Kecamatan Senapelan, Sabtu (10/2). Di vihara ini ratusan umat Buddha tampak mengikuti kegiatan yang diawali dengan sembahyang Imlek di lantai 3 vihara. Nuansa Imlek sangat kental baik dari pakaian tradisional Tionghoa yang bisa dipilih berupa setelan tang, yaitu pakaian pria dengan kerah terbalik khas Dinasti Tang. Perempuannya memakai qipao, yaitu gaun dari Dinasti Qing yang terbuat dari sutra dengan warna-warna cerah. Atau pakaian bernuansa merah lainnya.
Ornamen khas Imlek seperti lampion serta sejumlah pernak-pernik bernuansa tahun naga semakin membuat para umat Budha yang datang merasakan kemeriahan Imlek seperti tahun-tahun sebelumnya.
Para umat Budha yang datang juga mendapatkan kejutan dengan petunjuk barongsai yang membuat suasana Imlek semakin meriah karena banyak anggota keluarga yang sengaja memberikan angpao kepada barongsai sebagai tanda rasa bahagia dan suka cita.
Baca Juga: Perayaan Imlek 2575 Kongzii Digelar Sederhana
Menurut Ketua Yayasan Dharma Loka, Suhandi (Hanlun) saat perayaan Imlek hingga Cap Go eh, vihara tersebut akan dikunjungi ribuan warga Tionghoa untuk sembahyang, berdoa maupun ramah tamah bersama para umat Budha yang datang. Apalagi, perayaan Imlek merupakan perayaan awal musim semi di Tiongkok, yakni pada saat tanaman kembali tumbuh setelah membeku selama musim dingin. Di Indonesia sendiri, Imlek tahun naga kayu ini bertepatan dengan tahun politik, sehingga perayaan Imlek digelar secara sederhana. Meskipun begitu, para umat Budha tetap meriah dengan penampilan tiga barongsai.
“Jadi para umat datang ke Vihara Dharma Loka sejak pukul 7 pagi hingga berakhir sekitar pukul 10.30 pagi untuk mengikuti sembahyang Imlek. Karena Imlek ini juga menjadi momen bagi umat Budha untuk saling berjumpa dengan sesama,”ucapnya.
Apalagi, Imlek 2575 Kongzii ini merupakan tahun naga kayu yang bagi orang Tionghoa sendiri menganggap naga sebagai simbol pembawa keberuntungan, kebijaksanaan, dan kekuatan.
“Kami berharap dengan tahun baru Imlek ini dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian sehingga di tahun politik ini semua masyarakat Indonesia tetap bersatu demi keutuhan NKRI,” harapnya.
Kunjungan Vihara Sejahtera Sakti Menurun Drastis
Wangi dupa tercium kental di Kelenteng Hoo Ann Kiong atau lebih dikenal luas sebagai Vihara Sejahtera Sakti. Tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Tebingtinggi, Kepulauan Meranti, Sabtu (10/2/2023) pagi. Warga keturunan Tionghoa datang silih berganti dari pagi hingga siang ke Vihara yang telah berdiri sejak 1868 silam itu. Mereka berdoa dengan khidmat dan penuh suka cita berharap tahun ini dipenuhi keberuntungan.
Baca Juga: Tahun Naga Kayu, Panitia Bersama Baksos Imlek 2575 Berbagi Sembako lebih dari 30 Titik
Rata-rata pengunjung yang datang bersama dengan keluarga dengan pakaian serbamerah tampak sepadan dengan ornamen-ornamen kelenteng. Dari pantauan Riau Pos, mereka melaksanakan ritual atau sembahyang. Tidak yang lain, karena atraksi barongsai dan tari naga sudah dilaksanakan pada hari pertama.
Sekretaris Kelenteng Kelenteng Hoo Ann Kiong atau lebih dikenal luas sebagai Vihara Sejahtera Sakti, Sugiyanto Alias Wi Jian kepada Riau Pos, menerangkan bahwa jumlah umat yang datang berdoa ke vihara pada Imlek tahun ini menurun drastis. “Tidak seramai tahun lalu. Tahun ini sedikit,” bebernya.
Situasi itu menurutnya dampak momentum Imlek tahun ini berdekatan dengan dengan waktu pemilihan umum (pemilu). Sejumlah kegiatan terpaksa dibatasi dan ditiadakan.
“Langkah itu agar pelaksanaan pemilu beberapa hari mendatang dapat berlangsung kondusif. Langkah ini berdasarkan kesepakatan bersama. Mulai dari aparat pengamanan, pemerintah hingga tokoh masyarakat,” ujarnya.
Adapun perayaan yang ditiadakan adalah perang air atau Cian Cui dan Kirab Budaya atau Cue Lak. Walaupun ada yang melaksanakan perang air di sejumlah jalan protokol di pusat Kota Selatpanjang, menurutnya tampak tidak terorganisir dan tidak sepadat tahun lalu.
Dia pun berdoa pada Imlek tahun ini seluruh warga Indonesia tanpa memandang suku, ras, dan agama diberikan keberkahan dan keselamatan.
“Harapan kita dari tahun ke tahun, doa itu supaya umat sehat, rezeki mengikuti. Jadi, doa kita tiga saja, kesehatan, keselamatan, dan dibukakan pintu rezeki kepada seluruh umat. Tidak hanya agama tertentu, semua umat,” ujarnya.
Acara Pergantian Tahun Ditiadakan, Imlek Tetap Meriah
Kemeriahan suasana berkaitan dengan perayaan Imlek ditandai warga di Kota Bagansiapiapi dengan memasang lampion. Lampion yang merupakan lampu dengan ciri khas merah tersebut berjejer di sejumlah ruas jalan di perkotaan seperti di sepanjang Jalan Perdagangan, Perniagaan, serta sejumlah ruas jalan lainnya.
Suasana semarak dengan keberadaan lampion juga terlihat di klenteng atau pekong yang tersebar di beberapa titik. Menurut salah seorang warga Jalan Perdagangan, A Yau, kemeriahan Imlek kali ini sudah dirasakan oleh masyarakat khususnya warga Tionghoa.
“Cukup meriah dengan keberadaan lampion, meskipun tidak seperti tahun lalu,” kata A Yau, Sabtu (10/2) kemarin.
Ia menilai meskipun begitu suasana meriah berkaitan dengan Imlek selalu terlihat di Kota Bagansiapiapi setiap tahunnya. Momen tersebut juga diwarnai dengan kepulangan keluarga atau kerabat yang sebelumnya tinggal berjauhan maupun yang merantau karena alasan bekerja atau pendidikan.
Sementara dari pantauan Riau Pos, suasana meriah itu juga dirasakan oleh warga yang bukan masyarakat Tionghoa. Sejumlah klenteng atau titik di mana terdapat lampion diserbu oleh warga untuk berfoto-foto.
Hal ini tidak terlepas penampakan lampion yang terlihat mencolok, terutama berupa karakter naga yang merupakan shio pada peringatan Imlek kali ini. Terpisah, Ketua Yayasan Multimarga Tionghoa Indonesia, Bagansiapiapi Randy Gunawan menyebutkan untuk Imlek kali ini tak digelar kegiatan penyambutan malam pergantian tahun.
“Tak ada penyambutan pergantian hanya acara makan bersama, dan tetap nanti ada acara malam kesenian pad 23 dan 24 Februari berupa pawai lampion,” katanya.
Ia menerangkan, ditiadakannya acara khusus berkaitan dengan pergantian tahun itu karena mendekati suasana pemilu dan telah masuk masa tenang. “Kami juga menjaga netralitas,” katanya.(ayi/wir/fad)
Editor : RP Bayu Saputra