PEKANBARU DAN JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Untuk menjamin stok Bahan Bakar Minyak (BBM) tetap tersedia saat menjelang akhir tahun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau sudah mengajukan penambahan kuota ke Pertamina, khususnya untuk biosolar. Namun dari usulan penambahan kuota sebanyak 100 ribu kiloliter (kl), yang disetujui Pertamina hanya 4 ribu kl.
Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Riau Zulkifli Syukur mengatakan, permintaan penambahan kuota BBM tersebut telah disampaikan melalui surat resmi yang ditandatangani oleh Penjabat (Pj) Gubernur Riau (Gubri). Penambahan kuota tersebut untuk BBM jenis biosolar.
“Pak Pj Gubernur Riau sudah bersurat ke Pertamina untuk penambahan kuota BBM jenis biosolar. Namun untuk realisasinya tentu akan diatur oleh BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi) karena penambahan kuota ini kan juga harus mendapatkan persetujuan DPR,” katanya, Kamis (19/12).
Lebih lanjut dikatakannya, penambahan kuota biosolar yang diajukan sebanyak 100 ribu kl. “Kami masih menunggu informasi kapan penambahan kuota tersebut akan terealisasi. Namun dari hasil komunikasi kami, Pertamina menjamin ketersediaan BBM di Riau hingga akhir tahun,” sebutnya.
Terkait adanya antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Zulkifli Syukur mengatakan, dari hasil pengamatan hal tersebut terjadi karena SPBU sudah kehabisan kuota biosolar. Karena sebelumnya sudah ditetapkan kuota per SPBU per tahunnya.
“Jadi ada beberapa SPBU yang kuotanya sudah habis. Dan juga memang di beberapa SPBU yang masih ada itu diatur kuotanya per hari sehingga terjadi antrean untuk menjaga sampai akhir tahun,” ujarnya.
Sementara itu, Pertamina mengaku telah melakukan koordinasi lintas provinsi untuk mengantisipasi tingginya permintaan BBM yang sedang terjadi sementara ini, khususnya di Pekanbaru dan sekitarnya. Sales Branch Manager Riau 1 Field Pertamina Indra Pratama mengatakan, saat ini Riau sudah mendapatkan penambahan volume BBM sebesar 4.000 kl.
“Alhamdulillah mendapat volume penambahan untuk Provinsi Riau sebanyak 4.000 kl dan Pekanbaru Kota 1.500 kl. Satu dua hari ini kita langsung kucurkan ke SPBU yang memerlukan. Semoga dapat segera mengurai kemacetan dan antrean dari konsumen pengguna yang sedang meningkat sangat tinggi traffic-nya saat ini,” paparnya, Kamis (19/12).
Indra mengatakan, peningkatan kebutuhan saat ini diperkirakan mencapai 7 sampai 8 persen dibandingkan biasanya. Hal tersebut diakibatkan oleh peningkatan aktivitas transportasi menjelang libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru). ‘’Ini siklus tahunan. Saat momentum natal dan tahun baru, memang siklus tahunannya selalu meningkat, seasonality,” lanjutnya.
Menurutnya kondisi saat ini ini selalu terjadi setiap tahunnya menjelang Natal. Puncaknya akan terjadi pada 23 Desember mendatang. “Tanggal 24 Desember praktis sudah tidak bergerak lagi yang namanya ekspedisi dan penyaluran apa segala macam. Aktivitas transportasi yang sifatnya industrial itu sudah sangat menurun. Sekarang adalah puncaknya,” terangnya.
Pihaknya menilai bahwa penambahan kuota sebesar 4.000 kl untuk Riau dan 1.500 kl untuk Pekanbaru akan cukup dan efektif untuk memenuhi kebutuhan konsumen sampai 31 Desember 2024. Pihaknya juga berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk membantu konsumen mendapatkan BBM. “Diprioritaskan transportasi umum dulu untuk pengaturan lalu lintas dan traffic-nya,” sambungnya.
Pertamina mengimbau kepada seluruh konsumen untuk tidak panik apalagi sampai melaklukan panic buying di momentum seperti ini. “Jangan ada punic buying. Sudah disediakan tambahan cukup signifikan, semua pasti kebagian. Beli sewajarnya sesuai kebutuhan saja,” jelasnya.
Untuk konsumen yang bepergian ke luar kota, dirinya juga meminta untuk melakukan pembelian secara bertahap. Karena di sepanjang jalan lintas, Pertamina juga menyediakan SPBU yang cukup banyak.
“Misalnya, mengisi di Pekanbaru, kalau mau ke Sumatera Utara, kita kan bisa membeli lagi di Rokan Hilir, di Labuan Batu, dan di arah Kisaran. SPBU Pertamina sepanjang jalur Riau hingga ke Sumatera Utara ada banyak. Jadi jangan di-push di Pekanbaru. Antreannya nanti menumpuk. Belinya bertahap,” paparnya.
Untuk SPBU di jalur lintas, Pertamina dikatakannya sudah mengalokasikan volume penambahan yang cukup besar.
“Di jalur lintas volume dialokasikan cukup besar. Justru pantauan di lapangan di Rokan Hilir dan Labuan Batu lancar,” ungkapnya.
Pihaknya berharap, kucuran volume BBM tambahan ditambah kesadaran masyarakat untuk membeli sesuai kebutuhan dapat mengurai antrean akibat high demand di momentum akhir tahun ini.
BPH Migas-Pertamina Siagakan 7.786 Unit SPBU
Baca Juga: Bundesliga Jerman, Bayer Munich vs RB Leipzig: Kompany Siap Mainkan Harry Kane
Kesiapan seluruh sektor energi dipastikan dalam menghadapi momentum Nataru. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, pasokan BBM, elpiji, hingga listrik dipastikan terjaga.
Empat aspek utama terkait energi dan mitigasi bencana telah menjadi fokus perhatian. ”Aspek pertama adalah ketersediaan BBM yang harus tersuplai sampai daerah-daerah 3T,” ujarnya saat ditemui di Kantor BPH Migas, Kamis (19/12).
Kedua, kesiapan pasokan listrik juga menjadi prioritas untuk mendukung aktivitas masyarakat. Bahlil memastikan agar suplai listrik berjalan lancar selama perayaan Nataru.
Ketiga, ketersediaan elpiji turut menjadi perhatian penting. Pemerintah berupaya memastikan agar kebutuhan elpiji masyarakat terpenuhi tanpa hambatan selama periode libur panjang ini.
Aspek keempat adalah mitigasi risiko tanah bergerak dan aktivitas gunung berapi, terutama di wilayah rawan bencana. Bahlil melaporkan bahwa kondisi sebagian besar gunung berapi terkendali.
Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Erika Retnowati menambahkan, secara umum kondisi ketahanan stok BBM aman, baik gasolin, gas oil, kerosene, maupun avtur. Ketahanan stok di angka 18–20 hari.
Sepanjang posko Nataru, BPH Migas dan Pertamina akan menyiagakan 115 terminal BBM, 7.786 unit SPBU, 414 SPBUN, 55 SPBG, 6.802 Pertashop, 357 agen minyak tanah, dan 71 DPPU. ”Proyeksi penyaluran produk BBM selama Natal dan tahun baru, gasolin akan mengalami kenaikan 5 persen, gas oil turun 3,3 persen, dan avtur naik 6,9 persen,’’ ujarnya.
Erika melanjutkan, prognosis ketahanan stok elpiji nasional dalam kondisi aman dengan rata-rata 17 hari. Kondisi stok elpiji dipertahankan tetap stabil selama periode Natal dan tahun baru. Pihaknya juga menyiapkan agen dan pangkalan elpiji siaga 24 jam, khususnya di wilayah dengan demand tinggi. Kementerian ESDM dan Pertamina pun telah menyiagakan 32 terminal elpiji, 740 SPPBE, dan 6.478 agen elpiji.
’’Secara umum, penyaluran gas bumi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang diperkirakan mencapai 853 bbtud selama periode Nataru kepada 3.265 pelanggan komersial dan industri, 2.508 pelanggan kecil, serta 810.000 pelanggan rumah tangga jargas,’’ tambah Erika.
Stok Sembako
Sementara itu, Pj Gubri Rahman Hadi mengatakan, selain BBM pihaknya juga memberi perhatian pada stok sembilan bahan pokok (sembako) yang biasanya juga tinggi permintaannya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemprov Riau beserta pihak-pihak terkait telah mempunyai langkah strategis dalam menghadapinya.
Rahman Hadi pun menegaskan bahwa ketersediaan kebutuhan pokok di Provinsi Riau aman hingga akhir tahun. “Ketersediaan bahan pokok kita cukup dan kebutuhan sembilan bahan pokok aman hingga akhir tahun. Inflasi terkendali, daya beli masyarakat juga masih bagus,” ujarnya.
Diterangkannya, tantangan menjelang perayaan hari besar adalah inflasi yang kerap meningkat akibat lonjakan permintaan masyarakat. Namun, ia memastikan, inflasi di Riau saat ini berada dalam kondisi terkendali.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada November 2024, Riau mencatat inflasi sebesar 0,43 persen secara bulan ke bulan (month-to-month) dan 0,87 persen secara tahun ke tahun (year-on-year). Angka ini menunjukkan pengelolaan inflasi yang baik di tengah berbagai tantangan ekonomi. “Alhamdulillah, inflasi di Provinsi Riau dapat kita jaga dan kendalikan dengan baik,” terangnya.
Diungkapkannya, satu di antara upaya yang dilakukan untuk menjaga stabilitas harga adalah melalui pelaksanaan operasi pasar. Operasi ini bertujuan untuk menekan harga bahan pokok yang berpotensi naik akibat tingginya permintaan. “Operasi pasar sangat penting, terutama untuk menjaga kestabilan harga sembako agar tetap terjangkau oleh masyarakat,” ungkapnya.
Ia berpesan kepada Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk terus bekerja sama dengan perangkat daerah dan instansi terkait untuk menjaga kestabilan harga dan ketersediaan bahan pokok. Dengan begitu, langkah ini menjadi bagian dari strategi di tengah tingginya konsumsi masyarakat menjelang Nataru.
“Oleh karena itu, kami mendorong tim pengendali inflasi bersama dengan perangkat daerah dan instansi terkait untuk terus memantau dan menjaga stok kebutuhan pokok. Tak hanya itu saja, kita harus menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar serta kerjasama dengan bulog, produser, dan distributor bahan pokok,” ujarnya.(sol/azr/dee/idr/gas/c19/dio/das)
Editor : Rindra Yasin