PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - PADA awal 2025, tepatnya 1 Januari, terbit sebuah buku kumpulan cerpen dari penulis Riau. Buku berjudul Senja yang Marun itu ditulis oleh Febrio Rozalmi Putra yang menggunakan nama Rio Rozalmi dalam tulisan-tulisan kreatifnya. Yang menarik, 13 cerpen yang termaktub dalam buku ini, semuanya ditulis hanya dalam kurun awaktu dua tahun, 2023-2024.
Cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini, selain sebagian besar merupakan pemenang lomba, juga pernah dimuat di media massa atau buku antologi bersama. Cerpen “Sri Memilih”, misalnya, adalah pemenang kedua lomba cerpen nasional yang ditaja oleh Universitas Al Azhar Indonesia. Kemudian, cerpen “Nur Jawilah Merintih” merupakan pemenang kedua lomba cerpen nasional yang ditaja oleh Penerbit Mumtaz (Cirebon). Lalu cerpen “Istri Siluet” menjadi pemenang pertana lomba cerpen nasional yang diselenggarakan oleh Simple Publisher. Kemudian ada tiga cerpen yang pernah dimuat oleh harian Riau Pos, yakni “Orang-Orang yang Kebanjiran”, “Gulungan Uang”, dan “Jembatan”. Lalu ada dua cerpen yang dimuat di harian Singgalang, yakni “Senja yang Marun” yang menjadi judul buku, dan cerpen “Pindah Rumah”. Cerpen berjudul “Tujuh Puluh Tujuh” pernah dimuat di media daring Tiras Time. Dan satu lagi, cerpen “Melewakan Gala” masuk sebagai cerpen pilihan lomba 100 Tahun AA Navis yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Sumatra Barat (Sumbar).
Rio menceritakan, buku ini masuk dapur percetakan pada awal Desember 2024 dan selesai cetak tepat pada 1 Januari 2025. Semua cerpen ini juga dikurasi oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat melalui Divisi Karya dan diterbitkan oleh Soega Publishing Bojonegoro, Jawa Timur. Dia tidak tahu berapa eksemplar yang yang sudah terjual, namun yang membeli langsung kepadanya dengan tanda tangan penulis hingga Kamis (30/1/2025) sudah mencapai 72 eksemplar.
“Ini buku cerpen tunggal pertama saya. Saya merasa bahagia dengan kelahiran buku ini,” ujar Rio Rizalmi kepada Riau Pos, Jumat (31/1/2025).
Dijelaskannya, pada umumnya cerpen-cerpen dalam buku tersebut bertemakan kehidupan sosial. Seperti cerpen “Pindah Rumah”, menceritakan seorang istri yang bergaya hidup hedon, tidak mau kalah dengan orang lain, mengoleksi barang-barang baru, sementara si suami hanya karyawan kantor biasa dengan penghasilan pas-pasan. Sehingga mereka terlilit hutang pada pinjaman online (pinjol). Namun mereka tak sanggup untuk melunasinya. Hidup mereka dipenuhi teror. Dan memilih untuk pindah rumah tapi setiap pindah rumah, mereka selalu diketahui oleh pihak pinjol.
Pada cerpen “Orang-Orang yang Kebanjiran” menceritakan kehidupan sosial yang ada di sekitar kita. Sepasang suami istri yang pulang dari tempat bekerja dalam kondisi hujan, mereka melihat berbagai tingkah sosial manusia. Ada yang lupa dengan musim yang ada di Indonesia sehingga tidak membawa mantel, padahal dia menggunakan sepeda motor dan basah kuyup. Mereka yang berani menerobos genangan air di jalan sehingga sepeda motornya mogok, walau sudah tahu risikonya. Orang tua yang membiarkan anaknya bermain di tengah hujan yang deras dengan rasa tidak peduli. Yang lebih memprihatinkan adalah tetangga mereka yang kebanjiran dan saling menyalahkan antara istri, suami, dan anak.
Lalu, cerpen “Sri Memilih” yang terinspirasi banyak hal di sekitar kita. Tentang seorang wanita yang ditinggal mati suaminya, harus berjuang menghidupi anaknya. Malangnya si wanita ini tidak memiliki harta yang cukup untuk itu. Ia harus memilih antara menikah dengan lelaki tua yang kaya atau anaknya putus sekolah. Begitu juga dengan cerpen “Jembatan”. Tentang seseorang yang tiba-tiba memperbaiki jalan yang berlubang dengan uangnya sendiri. Dia baik kepada masyarakat, peduli lingkungan, sangat merasakan kesusahan warga. Dan dia akan membantu seperti malaikat penolong. Namun itu semua adalah semu. Ia ingin mendapatkan simpati dari masyarakat karena akan mencalonkan diri menjadi wakil rakyat.
“Hal-hal seperti itu yang saya angkat menjadi cerpen,” jelas lelaki kelahiran Solok Selatan (Sumbar), 33 tahun lalu ini.
Rio menjelaskan, dia intens menulis cerpen sejak bergabung dengan FLP Riau pada tahun 2023. Namun sebenarnya sudah memulai menulis sejak dibangku SMA, atau 14 tahun silam. Selama menulis, dia sudah menerbitkan beberapa genre tulisan. Selain cerpen, dia juga menulis puisi, beberapa tulisan non-fiksi/sastra. Saat ini sedang menulis calon novel pertamanya.
Beberapa puisinya dimuat dalam antologi bersama FLP Riau, yakni Sebaik-baiknya Manusia (2023) dan antologi puisi Palestina bersama FLP Pusat (2024). Lalu cerpennya dimuat dalam buku antologi Tenggelam Bersama Aksara yang diterbitkan oleh Mumtaz Cirebon (2023); antologi cerpen Terluka bersama Simple Publisher (2023); antologi cerpen Coretan Kisah Rumah Tangga diterbitkan Writers Pro Community (2023); antologi cerpen Terapi Kamar Mandi terbitan Balai Bahasa Provinsi Riau (2024); antologi cerpen Harimau Suamiku terbitan Taman Budaya Sumbar (2024); dan antologi cerpen Benang Merah Takdir terbitan Universitas Al Azhar Indonesia (2024).
Meski dunia sastra yang digelutinya tidak ada relasinya dengan bidang akademik yang dipelajarinya, namun Rio sangat tertarik dengan dunia kepenulisan tersebut. Rio sendiri adalah lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP). Dia belajar secara otodidak. Dia mengakau banyak belajar dan dapat bimbingan dari para senior di FLP seperti Bambang Kariyawan Ys, Nafiah al Mah’rab, dan lainnya. Namun dia juga belajar dari karya-karya Olyrinson, Taufik Ikram Jamil, Fahrunnas MA Jabbar, Gus tf Sakai, Raudal Tanjung Banua, Faisal Oddang, Putu Fajar Arcana, Helmi Faiq, Joko Pinurbo, dan lainnya.
Secara spesifik, Rio mengaku sangat menyukai cerpen-cerpen Taufik Ikram Jamil, salah satunya yang termaktub dalam buku Hikayat Suara-Suara, karena penyajiannya mudah dipahami oleh banyak orang, konflik yang tajam, dan memberi sentuhan yang bekesan. Untuk sastra Indonesia, dia suka cerpen karya Joko Pinurbo, “Tak Ada Asu di antara Kita”. Alasannya, karena penyajianya yang renyah, plot yang rapat, pemilihan diksi yang indah, dan pesan yang mengena.
“Saya menulis untuk ambil bagian dalam fastabiqul khoirat dan amal jariyah. Saya ingin dengan menulis menjadi kebaikan untuk siapa saja, termasuk untuk saya sendiri. Saya ingin menyajikan tulisan-tulisan yang dapat membawa pembaca ke arah yang lebih baik. Selain itu, ketika seorang penulis mati maka karyanya tetap hidup. Dan saya berharap dari karya saya mendapat transfer amal nantinya,” jelas lelaki yang kini dipercaya sebagai Kepala SD IT Imam Syafii Cendikia, ini.
Rio mengaku, cerpen-cerpen yang ada dalam buku tunggalnya itu ditulis di sela-sela kesibukan menjadi kepala sekolah. Katanya, kesibukan itu bukan alasan untuk tidak berkarya. Menurutnya, yang kita butuhkan bukanlah waktu luang untuk menulis, melainkan meluangkan waktu untuk merangkai kata menjadi sebuah karya. Setiap fenomena sosial yang dia jumpai di jalanan, di lingkungan sekitar, dan curhatan dari teman, dicatatnya pada sebuah buku kecil agar menjadi data awal untuk sebuah ide. Di setiap waktu senggang seperti istirahat siang, nongkrong di coffee shop, dan menjelang tidur, dia selalu ditemani oleh sebuah IPad untuk menulis. Setiap satu cerpen yang selesai, dia beri jeda waktu 2-3 pekan untuk dilupakan terlebih dahulu. Ketika akhir pekan datang atau libur nasional, cerpen tersebut dia baca kembali untuk proses swasunting. Bukan hanya itu, katanya lagi, dia juga meminta teman sesama penulis dan teman tongkrongan untuk membaca cerpen tersebut, untuk koreksi, memberi masukan, dan kritik awal.
Dia juga mencari informasi tentang lomba. Semua informasi itu dia catat untuk dibuatkan target penyelesaian karya. Tak jarang, katanya, dia harus memicingkan mata saat dini hari, karena waktu yang kasip. Tapi dia meyakini tak ada karya yang tak berharga. Ketika cerpen dia keluar sebagai pemenang, dia akan berbagi kebahagiaan dengan teman-teman, walau hanya segelas kopi. Namun saat cerpen itu belum menemukan keberuntungannya, dia akan mengedit kembali dan menghukum diri dengan cara membeli buku serta berduaan bersama buku tersebut alias me time.
“Komitmen terhadap diri sendiri adalah kunci bagi saya untuk konsisten dalam berkarya. Yang perlu saya ciptakan dalam diri bukanlah sekadar semangat atau motivasi, melainkan sistem dalam berkarya,” Rio lagi.
Rio Rozalmi berharap ada wadah dan ruang untuk para cerpenis di setiap media massa. Dia mengaku sangat berterima kasih pada Riau Pos yang tetap memberi ruang untuk karya-karya cerpen di saat banyak media menghapus halaman sastranya. Menurutnya, tidak semua cerpenis hanya berorientasi pada materi. Ketika karya diterbitkan, menurutnya, itu adalah sebuah anugerah terindah.
Dalam buku Senja yang Marun, dua pentolan FLP Riau, Nafiah al Mah’rab dan Bambang Karyawan Ys, memberi komentar. Nafiah al Mah’rab yang juga menulis novel dan cerpen, menulis, “Di tiap senja selalu ada marun kata-kata yang memenuhi peristiwa pikiran manusia. Kata yang dipertemukan menjadi indah, alur-alur kisah dalam imajinasi. Rio Rozalmi mengabadikan senja dan marun menjadi prosa beraroma rindu penuh ngilu.”
Sedangkan Bambang, Kepala SMA Cendana Rumbai, menulis, “Membaca Senja yang Marun, seperti membaca baris-baris kata dan cerita yang telah purna. Ditulis dengan sentuhan rasa dan teknik menulis penuh makna. Terasa ‘marun’ menikmati setiap cerita tentang realialitas dalam karya prosa ini.”
“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang mendukung dan membantu setiap proses belajar saya, termasuk saat menyelesaikan buku ini,” ujar Rio Rozalmi menutup kisahnya.***
Editor : Bayu Saputra