Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pemprov Riau dan Pemerintah Pusat Mulai Reforestasi TNTN 

Soleh Saputra • Rabu, 4 Maret 2026 | 10:53 WIB

Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau lokasi reforestasi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.
Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau lokasi reforestasi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pemerintah pusat bersama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau terus melakukan pemulihan atau reforestasi Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang sebelumnya terlanjur ditanami sawit oleh masyarakat. Pemulihan kawasan hutan TNTN kali ini dilakukan di Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau, Selasa (3/3).

Program pemulihan tersebut langsung diluncurkan oleh Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni dan dihadiri Pelaksana (Plt) Gubernur Riau (Gubri) SF Hariyanto dan Forkopimda Riau. Peluncuran ini menandai dimulainya tahap pertama pemulihan ekosistem TNTN yang selama bertahun-tahun mengalami deforestasi. Pada tahap pertama, pemerintah memulai reforestasi seluas 400 hektare.

Menhut Raja Juli Antoni mengatakan, pemulihan TNTN sebagai langkah penting dalam upaya mengembalikan fungsi ekologis taman nasional secara bertahap dan terukur. “Hari ini (Selasa, red) sangat membanggakan dan menggembirakan karena usaha kita bersama untuk memulihkan ekosistem taman nasional perlahan tapi pasti berjalan sesuai dengan yang direncanakan,” katanya.

Menhut menegaskan bahwa persoalan TNTN bukanlah masalah baru, melainkan persoalan menahun yang membutuhkan peta jalan penyelesaian yang jelas. Kini, menurutnya, arah pemulihan sudah semakin nyata. “Untuk pertama kali, peta jalan penyelesaiannya sudah nampak. Insyaallah, dengan kerja bersama kita bisa menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.

Untuk diketahui, sepanjang tahun 2026, Kemenhut menargetkan reforestasi mencapai 2.557 hektare sebagai bagian dari tahap pertama pemulihan kawasan TNTN. Selain penanaman kembali, pemerintah juga akan mengidentifikasi lahan pengganti untuk relokasi melalui Dirjen terkait dan Satgas PKH. 

Langkah ini dilakukan guna mencari keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan. “Kita mencari keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Win-win solution, bukan yang saling mengalahkan,” tegasnya. Sebagai lanskap penting dengan kekayaan keanekaragaman hayati, TNTN diharapkan kembali pulih dan berfungsi optimal sebagai kawasan konservasi.

Reforestasi sendiri merupakan proses penanaman kembali atau pemulihan hutan di lahan yang sebelumnya gundul akibat penebangan, kebakaran, atau alih fungsi lahan. Upaya ini bertujuan memulihkan fungsi ekosistem, meningkatkan daya serap karbon, serta melindungi habitat satwa dan tumbuhan endemik.

Sementara itu, Plt GubriSF Hariyanto, mengungkapkan masih diperlukan sekitar 9.966 hektare lahan alternatif untuk mendukung percepatan pemulihan kawasan TNTN. SF Hariyanto menjelaskan, pendataan menyeluruh terhadap penguasaan lahan di kawasan TNTN telah dilakukan.

Dari hasil identifikasi, tercatat sekitar 10.600 hektare lahan dikuasai oleh 3.916 kepala keluarga (KK). Sementara itu, proses relokasi yang telah berjalan mencapai 633 hektare dengan 227 kepala keluarga yang telah dipindahkan.

“Masih terdapat kebutuhan sekitar 9.966 hektare lahan alternatif (lahan pengganti) yang telah terpetakan secara jelas. Tindak lanjutnya memerlukan keputusan pada tingkat kebijakan nasional, dan kami di daerah siap melaksanakan serta mengawal implementasinya,” ujarnya.

Sebagai Ketua Tim Percepatan Pemulihan Taman Nasional Tesso Nilo (TP2TNTN), SF Hariyanto menegaskan bahwa proses pemulihan dilakukan secara bertahap dengan prinsip kehati-hatian, kepastian hukum, serta menjaga stabilitas sosial masyarakat.

Menurutnya, penyelesaian persoalan kawasan konservasi tidak boleh menimbulkan persoalan sosial baru. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui pengamanan dan penertiban kawasan, tetapi juga penyediaan solusi berupa lahan alternatif yang memiliki kepastian hukum.

Ke depan, Tim Percepatan akan bekerja dengan tiga fokus paralel, yakni pengamanan dan penertiban kawasan secara terpadu, penyediaan lahan alternatif, serta reforestasi berbasis zonasi dan pengawasan berkelanjutan.

Pemulihan TNTN sendiri ditargetkan berlangsung hingga 2028 dengan sasaran pemulihan kawasan mencapai sekitar 66.704 hektare, sehingga kawasan konservasi tersebut dapat kembali berfungsi optimal.

SF Hariyanto menekankan, percepatan pemulihan memerlukan dukungan kebijakan dan pembiayaan dari pemerintah pusat agar target yang telah ditetapkan dapat berjalan efektif dan konsisten. “Pemulihan ini harus berjalan terukur dan terkendali. Kita ingin Tesso Nilo kembali menjadi kawasan konservasi yang utuh dan berfungsi optimal,” tegasnya.(adv/sol)

Editor : Arif Oktafian
#tntn #pemprov riau #reforestasi #raja juli antoni