PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Aliran listrik di sejumlah wilayah Kota Pekanbaru kembali padam pada Sabtu (23/5) siang. Akibat kondisi tersebut, warga memilih untuk bepergian ke tempat yang masih terdapat aliran listrik seperti mal. Nada, warga Panam mengaku pergi ke mal karena di wilayah rumahnya kembali mengalami pemadaman listrik. Kondisi tersebut membuat rumah terasa lebih panas karena tidak bisa menyalakan pendingin ruangan.
“Listrik di rumah padam lagi, tadi malam sudah nyala tapi siang ini padam lagi. Kami jadinya ngungsi ke mal biar lebih dingin,” katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Suci. Warga Marpoyan Damai ini juga ke mal karena listrik di rumahnya padam. Ia bersama keluarga ke mal selain untuk mencari suasana yang lebih dingin, juga sekaligus untuk makan siang.
“Karena listrik padam, jadi sulit masak dirumah. Kami jadinya makan di mal sekaligus jalan-jalan,” ujarnya.
Dirinya berharap, padamnya aliran listrik ini tidak berlangsung lama. Karena hal tersebut sangat mengganggu aktivitas hariannya sebagai ibu rumah tangga.
“Mudah-mudahan segera menyala lagilah listriknya. Jadi sulit beraktivitas di rumah kalau listrik padam. Bahan makanan di kulkas juga jadi tidak bisa tahan lama,” harapnya.
Baca Juga: Pemulihan Listrik di Riau dan Sumatera Masih Berlangsung, Sebagian Wilayah Kembali Padam
Tak Merata, Pekanbaru Jalani Pemadaman Bergilir
Sejumlah wilayah Kota Pekanbaru masih mengalami pemadaman bergilir. Hingga Sabtu (23/5) siang, pemadaman listrik tidak merata, begitu juga yang hidup. Kondisi ini juga terjadi di sejumlah wilayah perbatasan dengan Kampar, seperti di Siak Hulu.
Seperti di wilayah Sukajadi, terutama Kelurahan Harjosari, listrik hidup sejak pagi. Namun sekitar pukul 14.00 WIB, listrik tiba-tiba padam. Baru sekitar pukul 18.45 WIB petang, di kelurahan ini listrik kembali hidup.
Sementara, di wilayah Sukajadi lainnya seperti di Labuh Baru Timur, hingga pukul 15.00 WIB sore kemarin listrik masih hidup. Hal sama juga terpantau di wilayah Limbungan, Rumbai di mana listrik juga tetap hidup hingga menjelang sore hari. Untuk wilayah Rumbai lainnya, seperti di wilayah Jalan Sekolah, setelah padam sejak petang kemarin, kembali hidup pukul 1.15 WIB dinihari. Berbeda dengan wilayah Rumbai di kawasan Palas, listrik baru hidup setelah salah subuh, atau sekitar pukul 6.00 WIB pagi.
Sementara di wilayah perbatasan, seperti Pandau Jaya di Siak Hulu dan Marpoyan Damai di Jalan Kaharuddin Nasution, listrik yang sempat padam sejak pukul 19.00 WIB petang kemarin, hidup kembali sekitar pukul 3.30 WIB dinihari. Namun listrik kembali sebelum pukul 13.00 WIB.
Kondisi hidup mati listrik ini membuat tempat usaha terpaksa menyesuaikan diri. Terutama usaha kecil seperti rumah makan kelas ampera atau kedai kopi kecil. Salah seorang pengusaha, Zulkarnain, mengaku harus memperbaiki gensetnya untuk mengatasi kondisi ini.
‘’Ya terpaksa servis lagi genset. Minimal untuk naikkan air, untuk nyuci piring dan gelas,’’ kata pria yang akrab disapa Wak Zul ini.
Zul mengatakan, genset ukuran kecil miliknya itu sudah lama tidak dihidupkan. Ia tidak menyangka, bahwa akhirnya genset itu berguna. Ia berharap kondisi pemadaman yang tidak menentu ini segera berakhir, hingga pelayanan di kedai kopinya normal kembali.
‘’Awak ini pengusaha kecil, tak sama dengan Kafe atau restoran besar. Mereka tahan mungkin berhari-hari minyak, awak tak kuat. Siang bisalah, kalau malam mana ada orang mau datang kalau gelap,’’ ujarnya.
Baca Juga: Lift Macet Akibat Pemadaman Listrik, Empat Orang Dievakuasi Damkar Pekanbaru
Kondisi ‘byarpet’ per sekian jam ini membuat sejumlah warga memilih mengungsi sementara ke hotel. Hanya saja, sejumlah hotel justru sudah ramai.
Pantauan Riau Pos, sejumlah hotel di kawasan Jalan Sudirman, Tuanku Tambusai dan Jalan Ahmad Yani, ramai didatangi tamu. Kondisi ini sudah terlihat sejak Jumat (23/5) malam, yang bisa dilihat dari jumlah kendaraan yang parkir di halaman hotel.
Beberapa tamu hotel ditemui, mereka memilih hotel karena masalah air dan suhu udara. Kondisi kemarau yang panas bahkan saat malam hari, dan rumah yang tidak memiliki sumur dan mengandalkan air sumur bor, membuat warga punya pilihan terbatas. Hal ini seperti dihadapi Galuh Mananta (27), seorang warga Sukajadi.
‘’Anak-anak rewel kalau panas-panasan, tapi masalah air yang utama. Ya anggap saja lagi libur akhir pekan,’’ sebut bapak dari dua anak yang masih kecil-kecil ini.(sol/end)
Editor : Arif Oktafian